TIDAK sedikit orang yang bersedia menyumbangkan tenaga, waktu, bahkan hartanya untuk mengurus masjid. Mereka datang lebih awal sebelum azan berkumandang, memastikan listrik menyala, air wudu tersedia, imam hadir, dan kegiatan berjalan sebagaimana mestinya. Namun, di balik amal yang tampak sederhana itu, ada beban lain yang sering tidak terlihat: menghadapi gosip, prasangka, dan komentar yang tak pernah habis.

Hampir setiap masjid pernah mengalami persoalan. Mulai dari penggunaan dana, penentuan penceramah, jadwal imam, renovasi bangunan, hingga keputusan-keputusan kecil seperti pengadaan karpet atau pengeras suara. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan itu tidak disampaikan melalui musyawarah, melainkan berubah menjadi bisik-bisik di serambi, obrolan selepas salat, atau percakapan di grup WhatsApp.

Ironisnya, orang yang paling sedikit mengetahui persoalan sering kali menjadi yang paling cepat menyimpulkan. Tanpa bertanya kepada pengurus, muncul dugaan bahwa ada kepentingan pribadi, pilih kasih, atau bahkan penyalahgunaan amanah. Kecurigaan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.

Dalam Islam, menjaga lisan bukan sekadar adab, tetapi bagian dari menjaga ukhuwah. Al-Qur’an melarang prasangka yang tidak berdasar dan mengingatkan agar tidak saling menggunjing. Sebab, sebuah gosip yang tampak ringan dapat merusak kehormatan seseorang, memecah persaudaraan, bahkan melemahkan semangat orang-orang yang sedang berkhidmat.

Akibatnya, tidak sedikit pengurus masjid yang memilih mengundurkan diri. Bukan karena tidak mencintai masjid, tetapi karena lelah menghadapi komentar yang terus datang dari berbagai arah. Apa pun keputusan yang diambil selalu ada yang dipersoalkan. Ketika program berjalan, dianggap kurang melibatkan semua pihak. Ketika tidak membuat program, dianggap pasif. Ketika keuangan diumumkan, masih ada yang curiga. Ketika tidak diumumkan secara rinci, muncul tuduhan tidak transparan.

Tentu, ini bukan berarti pengurus kebal dari kritik. Justru kritik adalah bagian penting dalam memperbaiki tata kelola masjid. Namun, kritik memiliki adab. Kritik disampaikan dengan data, niat memperbaiki, dan melalui saluran yang tepat. Berbeda dengan gosip yang hanya berputar dari mulut ke mulut tanpa memberi kesempatan kepada pihak yang dituduh untuk menjelaskan.

Di sisi lain, pengurus masjid juga perlu membangun budaya keterbukaan. Semakin transparan pengelolaan keuangan, semakin jelas proses pengambilan keputusan, dan semakin rutin komunikasi kepada jamaah, semakin kecil ruang bagi prasangka untuk tumbuh. Banyak gosip lahir bukan semata karena niat buruk, tetapi karena minimnya informasi.

Masjid sejatinya adalah tempat yang mengajarkan akhlak. Karena itu, setiap persoalan yang muncul semestinya diselesaikan dengan tabayun, musyawarah, dan saling menasihati. Jika ada keputusan yang dianggap keliru, sampaikan langsung kepada pengurus. Jika ada dugaan penyimpangan, mintalah penjelasan. Jangan biarkan cerita yang belum tentu benar berkembang menjadi fitnah yang sulit dihentikan.

Pengurus masjid memang dipilih untuk melayani, bukan untuk dipuja. Namun, mereka juga manusia biasa yang bisa lelah, salah, dan membutuhkan dukungan. Mengingatkan mereka adalah bentuk kepedulian. Menjatuhkan mereka melalui gosip adalah bentuk ketidakadilan.

Masjid akan menjadi lebih makmur bukan hanya karena bangunannya indah atau jamaahnya banyak, tetapi karena orang-orang di dalamnya mampu menjaga adab ketika berbeda pendapat. Sebab, memakmurkan rumah Allah tidak cukup dengan memperbanyak ibadah. Ia juga membutuhkan lisan yang terjaga, hati yang lapang, dan keberanian untuk menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, bukan melalui gosip yang menggerogoti kepercayaan dari dalam.