MAL – Perdebatan mengenai keamanan vape dibandingkan rokok konvensional kembali mengemuka setelah Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa rokok elektrik tidak lebih aman daripada rokok biasa.

Di sisi lain, sejumlah penelitian internasional masih menyebut vape memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah. Perbedaan temuan ini membuat publik kerap bingung menentukan mana yang sebenarnya lebih berbahaya.

Hingga 31 Juli 2026, belum ada kesepakatan mutlak yang diterima semua pihak. Namun, satu hal yang relatif disepakati adalah bahwa baik vape maupun rokok konvensional tetap mengandung risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap ringan.

Mengapa Perdebatan Vape dan Rokok Belum Berakhir?

Perdebatan muncul karena rokok elektrik sejak awal dipromosikan sebagai alternatif bagi perokok yang ingin mengurangi konsumsi rokok tembakau atau berhenti merokok. Produk ini bekerja dengan memanaskan cairan yang mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, perisa, dan berbagai zat kimia lainnya untuk menghasilkan uap yang dihirup pengguna.

Sementara itu, rokok konvensional menghasilkan asap dari proses pembakaran tembakau yang mengandung nikotin, tar, karbon monoksida, hidrogen sianida, serta ribuan senyawa kimia berbahaya lainnya.

Perbedaan kandungan dan cara kerja inilah yang menjadi dasar munculnya berbagai penelitian dengan hasil yang tidak selalu sama.

Menkes: Rokok Elektrik Sama Buruknya dengan Rokok Konvensional

Pernyataan terbaru datang dari Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada 20 Juli 2026.

“Berdasarkan bukti ilmiah yang ada, rokok elektrik tidak lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Rokok elektrik sama buruknya dengan rokok konvensional karena sama-sama membahayakan kesehatan dan dapat memperpendek usia harapan hidup masyarakat,” kata Budi.

Ia juga mengingatkan adanya risiko lain yang perlu diwaspadai.

“Justru, penggunaannya berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular sekaligus membuka celah penyalahgunaan narkotika, terutama di kalangan anak dan remaja,” ujarnya.

Sikap pemerintah tersebut menjadi bagian dari upaya edukasi kesehatan masyarakat sekaligus pencegahan penggunaan vape di kalangan usia muda.

Temuan Penelitian Indonesia yang Menarik Perhatian

Sejumlah temuan dari penelitian yang dilakukan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) pada 2020 menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan.

Peneliti Faizal Rahmanto Moeis menyebut pengguna rokok elektronik memiliki tingkat kemungkinan mengidap asma lebih tinggi dibanding pengguna rokok konvensional.

“Pengguna rokok elektronik memiliki tingkat kemungkinan mengidap asma 2 persen lebih tinggi dibanding pengguna rokok konvensional,” katanya.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pengguna rokok elektrik memiliki risiko komplikasi penyakit yang lebih tinggi.

“Hasil analisis menunjukkan pengguna rokok elektronik memiliki risiko komplikasi penyakit lebih tinggi dibanding perokok konvensional. Apabila seseorang merupakan pengguna rokok elektronik, tingkat kejadian komplikasi akan 1,523 kali lebih tinggi dari pengguna rokok konvensional,” ujar Faizal.

Selain itu, analisis terhadap kesehatan mulut menunjukkan vape memiliki risiko lebih tinggi terkait gangguan seperti gigi rusak, sariawan, dan penyakit gusi dibandingkan rokok konvensional.

Apa Kata Dokter Paru?

Pandangan serupa juga disampaikan dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Feni Fitriani Taufik.

“Vape adalah salah satu produk yang bahaya kesehatannya sama saja dengan rokok biasa. Meski jumlah nikotinnya sedikit, tapi bukan berarti lebih aman, bahayanya tetap sama,” katanya.

Menurut Feni, anggapan bahwa vape merupakan pilihan yang lebih sehat dibanding rokok tembakau konvensional merupakan pemahaman yang keliru.

Dokter spesialis paru dr Gatut Priyonugroho juga menilai bahaya kedua produk tersebut pada dasarnya serupa.

“Bahaya rokok elektrik pada dasarnya sama saja dengan bahaya rokok konvensional. Lantaran sama-sama terdapat pembakaran, imbasnya pada risiko kanker paru-paru pun serupa,” ujarnya.

Ketika Penelitian Internasional Menunjukkan Hasil Berbeda

Meski banyak pihak di Indonesia menyoroti risiko vape, sejumlah lembaga internasional memiliki pandangan yang berbeda.

Peneliti WHO, dr Ranti Fayokun, pernah menyatakan bahwa rokok elektrik memiliki tingkat risiko kesehatan yang lebih rendah dibanding rokok konvensional.

“Pada kenyataannya, rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional karena risiko terhadap kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih rendah,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Public Health England pada 2020.

Chief Executive Public Health England saat itu, Duncan Selbie, menyatakan bahwa rokok elektronik “95% lebih tidak berbahaya bagi kesehatan dibandingkan rokok biasa, serta berpotensi membantu perokok untuk berhenti.”

Klaim tersebut menjadi salah satu argumen utama kelompok yang mendukung penggunaan vape sebagai alternatif pengurangan risiko bagi perokok dewasa.

Studi Terbaru 2025: Perbedaannya Tidak Signifikan

Salah satu perkembangan menarik muncul dari studi meta-analisis pada 2025 yang membandingkan dampak kesehatan vape dan rokok konvensional.

Penelitian tersebut menemukan ukuran efek dampak kesehatan kedua produk tergolong kecil, dengan nilai effect size antara 0,12 hingga 0,32.

Lebih jauh lagi, perbedaan dampak kesehatan yang ditemukan tidak signifikan secara statistik dengan nilai p-value sebesar 0,58.

Temuan ini menunjukkan bahwa hingga saat ini masih terdapat ketidakpastian ilmiah mengenai seberapa besar perbedaan risiko kesehatan antara vape dan rokok konvensional dalam berbagai aspek kesehatan.

Apa yang Bisa Disimpulkan dari Bukti yang Ada?

Berbagai penelitian dan pendapat ahli menunjukkan bahwa perdebatan mengenai keamanan vape belum benar-benar selesai. Sebagian penelitian menemukan risiko kesehatan vape lebih rendah, sementara penelitian lain justru menemukan risiko penyakit tertentu yang lebih tinggi dibanding rokok konvensional.

Namun, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa vape bukanlah produk tanpa risiko. Kandungan nikotin dan berbagai zat kimia di dalamnya tetap berpotensi menimbulkan dampak kesehatan. Di sisi lain, rokok konvensional juga tetap menjadi sumber paparan berbagai senyawa berbahaya yang telah lama dikaitkan dengan beragam penyakit serius.

Karena itu, perbandingan vape dan rokok konvensional saat ini lebih tepat dipahami sebagai perdebatan mengenai tingkat risiko, bukan perdebatan antara produk yang aman dan berbahaya. ***