OLEH: Sri Sudaryati, S.Pd.,M.Pd*

Kota Palu dan wilayah sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah secara geologis berada di atas salah satu sesar paling aktif di Indonesia, yaitu Sesar Palu-Koro.

Realitas ini membawa konsekuensi logis bahwa ancaman bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi selalu mengintai kehidupan masyarakat.

Peristiwa kelam pada 28 September 2018 menjadi bukti nyata betapa destruktifnya pergerakan sesar ini. Ribuan nyawa melayang dan infrastruktur kota lumpuh dalam hitungan menit.

Peristiwa tersebut juga menyingkap tabir kelemahan sistem mitigasi bencana modern yang selama ini terlalu bertumpu pada pendekatan struktural dan teknologi berbasis barat. Alarm tsunami yang tidak berbunyi dan ketidaktahuan masyarakat merespons tanda-tanda alam mempertegas adanya jarak antara kecanggihan teknologi dengan kesiapan sosiologis warga setempat.

Di tengah kegagalan sistem modern tersebut, sejarah mencatat bahwa masyarakat Kaili—suku asli yang mendiami Lembah Palu—sebenarnya telah memiliki sistem ketahanan bencana yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan, ingatan kolektif, dan tata ruang berbasis lingkungan.

Salah satu konsep sentral yang mulai terlupakan namun sangat krusial adalah Uva atau Tua.

Dalam kosmologi masyarakat Kaili, Uva merujuk pada kearifan, petunjuk lama, atau memori kolektif leluhur yang mengejawantah dalam bentuk toponimi (penamaan tempat), bahasa, hingga aturan adat dalam memperlakukan alam.

Menghidupkan kembali nilai-nilai Uva bukan berarti menolak kemajuan zaman atau teknologi modern. Sebaliknya, upaya ini merupakan langkah strategis untuk mengintegrasikan pengetahuan kultural masa lalu dengan instrumen mitigasi modern demi menciptakan sistem perlindungan bencana yang lebih humanis, kontekstual, dan berkelanjutan di Kota Palu.

Menyingkap Memori Kolektif: Uva dan Rekam Jejak Bencana Masa Lalu

Kearifan lokal Uva dalam masyarakat Kaili bukanlah sebuah mitos tanpa dasar, melainkan sebuah bentuk sains tradisional yang lahir dari proses adaptasi mendalam terhadap lingkungan selama berabad-abad.

Ketika bencana hebat melanda suatu kawasan di masa lampau, para leluhur mengabadikan peristiwa tersebut dalam ingatan kolektif melalui penamaan wilayah atau toponimi.

Penamaan ini berfungsi sebagai peringatan dini abadi bagi generasi penerus agar tidak melakukan kesalahan yang sama dalam pemanfaatan ruang hidup.

Sebagai contoh, nama daerah “Balaroa” berasal dari kata Balaloa yang berarti tempat tiang rumah tenggelam atau amblas, sementara “Petobo” berarti tempat berlumpur atau hanyut. Kedua wilayah ini hancur total akibat fenomena likuefaksi pada bencana tahun 2018.

Hal ini membuktikan bahwa Uva yang tersimpan dalam penamaan geografis tersebut telah memprediksi kerentanan tanah jauh sebelum peta zonasi risiko bencana modern dibuat oleh para ahli geologi.

Selain itu, terdapat istilah Kaombona yang merujuk pada wilayah yang pernah amblas dan berubah menjadi rawa atau laut, serta kata Nalodo yang berarti tertimbun lumpur. Melalui penamaan berbasis Uva ini, leluhur Kaili sebenarnya telah menggariskan batas-batas aman untuk bermukim.

Sayangnya, modernisasi yang masif dan desakan ekonomi perkotaan membuat memori kolektif ini terabaikan, sehingga pembangunan infrastruktur dan permukiman justru dipusatkan di zona-zona bahaya tersebut.

Selain toponimi, Uva juga hidup dalam tradisi arsitektur rumah adat Souraja maupun rumah tinggal tradisional berbentuk panggung (Boye).

Konstruksi bangunan tradisional ini dirancang menggunakan tiang penyangga kayu yang tidak ditanam kaku ke dalam tanah, melainkan diletakkan di atas batu datar (parigi). Sambungan antar kayu menggunakan sistem pasak tanpa paku besi.

Karakteristik ini membuat bangunan sangat fleksibel dalam meredam guncangan gempa bumi. Saat tanah bergoyang hebat, rumah tradisional Kaili akan mengikuti arah getaran tanpa mengalami keruntuhan struktural yang fatal.

Prinsip teknik sipil purba ini merefleksikan kedalaman filosofi Uva yang memandang bahwa alam tidak untuk dilawan dengan struktur kaku, melainkan direspons dengan fleksibilitas dan harmoni.

Tantangan Mitigasi Modern dan Urgensi Reaktualisasi Nilai Lokal

Mitigasi bencana modern di Indonesia, termasuk di Kota Palu, sering kali terjebak dalam pendekatan yang murni teknokratis dan berorientasi pada proyek fisik (struktural).

Pembangunan tanggul laut, pengadaan sirine tsunami, dan pemasangan seismograf memang sangat penting. Namun, pendekatan ini memiliki kelemahan mendasar jika tidak diimbangi dengan kesiapan budaya masyarakat penikmat teknologi tersebut.

Alat-alat elektronik rawan mengalami kerusakan teknis, pencurian, atau pemadaman listrik saat bencana terjadi.

Selain itu, informasi ilmiah yang dikeluarkan oleh lembaga formal sering kali menggunakan istilah-istilah teknis yang sulit dipahami oleh masyarakat awam di tingkat akar rumput.

Di sinilah letak urgensi reaktualisasi Uva. Kearifan lokal menawarkan pendekatan non-struktural yang berbasis pada kesadaran personal dan komunal.

Ketika terjadi gempa bumi kuat yang disusul surutnya air laut, ingatan kolektif tentang Bombatalu (tiga gelombang tsunami) akan bergerak lebih cepat menggerakkan kaki masyarakat untuk berlari ke tempat tinggi daripada menunggu bunyi sirine yang mungkin saja gagal berfungsi.

Uva menyajikan informasi bencana dalam narasi bahasa daerah yang akrab di telinga warga, sehingga mampu menyentuh aspek psikologis dan membangun naluri bertahan hidup yang organik.

Menghidupkan kembali Uva di era modern tentu menghadapi tantangan besar. Arus urbanisasi yang tinggi di Kota Palu memicu terjadinya pergeseran demografis, di mana kota kini dihuni oleh masyarakat yang heterogen.

Banyak warga pendatang maupun generasi muda Kaili yang tidak lagi memahami bahasa daerah dan kehilangan koneksi dengan sejarah kebencanaan wilayah yang mereka tinggali.

Ruang-ruang tutur adat tempat Uva ditransmisikan, seperti penuturan kisah masa lalu oleh orang tua kepada anak-anaknya, kian tergerus oleh dominasi media digital.

Oleh karena itu, diperlukan strategi revitalisasi yang kreatif dan terstruktur agar kearifan masa lalu ini tidak sekadar menjadi artefak sejarah, melainkan instrumen mitigasi yang fungsional.

Strategi Integrasi: Mengawinkan Uva dengan Sains Modern

Langkah strategis untuk menghidupkan kembali Uva dalam sistem mitigasi modern di Kota Palu harus dimulai dari ranah kebijakan publik dan pendidikan formal.

Pemerintah Kota Palu bersama para tokoh adat (Totua Ngata) dan akademisi perlu melakukan kodifikasi atau pembukuan terhadap seluruh ragam kearifan lokal terkait kebencanaan.

Peta toponimi berbasis sejarah Uva harus diintegrasikan secara legal ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palu. Zona-zona yang secara historis disebut sebagai wilayah Nalodo atau Kaombona harus dikunci sebagai kawasan ruang terbuka hijau, wilayah pertanian, atau zona konservasi yang bebas dari izin pembangunan perumahan komersial.

Selanjutnya, internalisasi nilai Uva harus diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah melalui muatan lokal. Kisah-kisah kebencanaan masa lalu, pengenalan istilah lokal terkait gempa dan tsunami, serta filosofi penghormatan terhadap alam dikemas dalam bentuk buku cerita bergambar, animasi digital, atau materi pembelajaran interaktif.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, esensi dari Uva dapat ditransformasikan ke dalam medium modern yang digemari generasi muda, seperti aplikasi tanggap bencana yang menyertakan informasi toponimi lokal atau kampanye kreatif di media sosial.

Di tingkat komunitas, struktur adat yang dipimpin oleh Totua Ngata dan lembaga Lembaga Adat perlu diberdayakan kembali untuk menyelenggarakan simulasi bencana berbasis komunitas (Katuvuna). Kearifan arsitektur tradisional juga dapat diterapkan kembali melalui modifikasi material modern.

Struktur bangunan publik, seperti sekolah atau puskesmas, dapat mengadopsi prinsip fleksibilitas pasak kayu Souraja menggunakan material komposit modern yang ringan namun tahan gempa.

Melalui integrasi ini, sains modern bertindak sebagai validator ilmiah yang memperkuat kebenaran empiris dari kearifan lokal, sementara Uva bertindak sebagai ruh yang memastikan bahwa sistem mitigasi tersebut diterima dan dipatuhi oleh masyarakat karena bersumber dari akar budaya mereka sendiri.

Kesimpulan

Bencana alam di Kota Palu adalah sebuah kepastian geologis yang tidak dapat dihindari, namun dampaknya yang destruktif terhadap kemanusiaan dapat ditekan sekecil mungkin.

Pengalaman pahit bencana tahun 2018 telah memberikan pelajaran berharga bahwa kecanggihan teknologi mitigasi modern akan lumpuh jika kehilangan pijakan budayanya.

Menghidupkan kembali Uva atau kearifan lokal masyarakat Kaili merupakan sebuah keharusan sosiologis untuk membangun ketangguhan kota yang sejati.

Uva melalui toponimi, arsitektur tradisional, dan memori kolektifnya adalah instrumen mitigasi bencana yang telah teruji oleh waktu.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai luhur ini ke dalam sistem tata ruang, kebijakan pendidikan, dan teknologi modern, Kota Palu tidak hanya sekadar membangun kembali infrastruktur fisik yang rusak, melainkan sedang merajut kembali kedekatan spiritual dan ekologis warganya dengan alam terdekat mereka.

Pada akhirnya, harmoni antara sains modern dan kearifan lokal Uva akan melahirkan masyarakat Palu yang cerdas bencana, sebuah masyarakat yang menghormati masa lalunya demi mengamankan masa depannya

*Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia