MAL – Smart ring dan smartwatch semakin populer sebagai perangkat pemantau kesehatan. Namun, di tengah meningkatnya minat terhadap teknologi wearable yang mengklaim mampu memantau gula darah tanpa tusukan jarum, regulator kesehatan mengingatkan bahwa tidak semua perangkat tersebut layak dijadikan dasar pengambilan keputusan medis.

Risiko terbesarnya adalah pembacaan gula darah yang tidak akurat yang berpotensi menyebabkan kesalahan dosis obat, termasuk insulin.

Peringatan ini menjadi penting karena jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat. Di saat masyarakat mencari cara yang lebih praktis untuk memantau kondisi kesehatan, batas antara perangkat kebugaran (wellness tracker) dan alat medis sering kali menjadi kabur.

Peringatan Resmi FDA

Pada 21 Februari 2024, U.S. Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan peringatan resmi kepada konsumen, pasien, tenaga kesehatan, dan pengasuh terkait penggunaan smartwatch atau smart ring yang mengklaim dapat mengukur kadar gula darah tanpa menembus kulit.

FDA menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada smartwatch maupun smart ring yang telah diotorisasi, dibersihkan (cleared), atau disetujui untuk mengukur atau memperkirakan kadar glukosa darah secara mandiri.

Dalam pernyataannya, FDA menyebut:

“The FDA has not authorized, cleared, or approved any smartwatch or smart ring that is intended to measure or estimate blood glucose values on its own.”

Regulator tersebut juga memperingatkan bahwa hasil pengukuran yang tidak akurat dapat menyebabkan kesalahan dalam pengelolaan diabetes, termasuk penggunaan insulin atau obat penurun gula darah dengan dosis yang tidak tepat.

Mengapa Kesalahan Pembacaan Bisa Berbahaya?

Bagi penyandang diabetes, angka gula darah bukan sekadar informasi kesehatan, melainkan dasar untuk menentukan tindakan medis sehari-hari.

FDA menjelaskan bahwa pembacaan yang keliru dapat membuat pasien mengonsumsi terlalu banyak insulin atau obat penurun gula darah lainnya. Dalam kondisi tertentu, hal itu dapat menyebabkan kadar glukosa turun drastis hingga memicu:

  • Kebingungan mental

  • Kehilangan kesadaran

  • Koma

  • Kematian dalam hitungan jam

Risiko tersebut menjadi alasan utama mengapa regulator meminta masyarakat tidak membeli atau menggunakan perangkat yang mengklaim dapat mengukur gula darah tanpa tusukan kulit.

Bukan Berlaku untuk CGM

Penting untuk membedakan antara perangkat wearable konsumen dengan alat pemantauan gula darah medis yang telah mendapat otorisasi regulator.

Menurut Harvard Health Publishing, peringatan FDA tidak ditujukan kepada perangkat Continuous Glucose Monitoring (CGM) yang telah digunakan secara luas dalam manajemen diabetes.

CGM bekerja menggunakan sensor kecil yang menembus lapisan kulit dan secara berkala mengirimkan data kadar glukosa ke aplikasi ponsel atau perangkat lain. Sebaliknya, smartwatch atau smart ring yang diperingatkan FDA mengklaim mampu mengukur gula darah tanpa prosedur tersebut.

Harvard Health merangkum peringatan FDA dengan menyatakan:

“The FDA warns that it has not reviewed the safety and effectiveness of these devices, and using them could result in inaccurate blood sugar measurements.”

Tren Wearable Kesehatan Mulai Tumbuh di Indonesia

Meski mendapat sorotan regulator internasional, minat terhadap teknologi wearable kesehatan terus berkembang.

Laporan yang dipublikasikan pada 16 Juni 2026 menyebut teknologi berbasis AI untuk pemantauan tren kesehatan mulai diadopsi di Indonesia melalui perangkat wearable, termasuk smart ring. Dalam pengujian yang dilakukan, terdapat 885 partisipan dan lebih dari separuhnya merupakan penyandang diabetes.

Namun perangkat tersebut dipasarkan sebagai wellness tracker yang menghasilkan estimasi tren kesehatan, bukan alat diagnosis maupun pengganti konsultasi dokter.

Perbedaan fungsi ini menjadi penting karena banyak konsumen sering menganggap data yang muncul pada perangkat wearable memiliki tingkat akurasi setara alat medis.

Beban Diabetes Indonesia Sangat Besar

Tingginya minat terhadap teknologi pemantauan kesehatan tidak terlepas dari besarnya jumlah penyandang diabetes di Indonesia.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia.

Data Penting Diabetes Indonesia

IndikatorData
Jumlah penyandang diabetes dewasa20.426.400 orang
Prevalensi diabetes dewasa11,3%
Posisi duniaPeringkat ke-5
Proyeksi 205028,6 juta orang

Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap teknologi pemantauan kesehatan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penderita diabetes.

Apa Arti Peringatan Ini?

Peringatan FDA bukan berarti teknologi wearable kesehatan harus dihindari sepenuhnya.

Smart ring dan smartwatch tetap memiliki manfaat untuk memantau berbagai indikator kesehatan seperti:

  • Aktivitas fisik

  • Pola tidur

  • Detak jantung

  • Variabilitas denyut jantung

  • Aktivitas harian

Namun ketika perangkat tersebut mulai mengklaim mampu mengukur kadar gula darah tanpa metode yang tervalidasi secara klinis, pengguna perlu berhati-hati.

Dalam konteks jurnalistik dan kesehatan publik, perbedaan antara alat medis dan perangkat kebugaran menjadi titik krusial. Perangkat wellness dapat membantu memantau tren kesehatan, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan terapi diabetes atau dosis obat.

Implikasi bagi Masyarakat

Dalam jangka pendek, masyarakat perlu lebih kritis terhadap klaim pemasaran perangkat wearable yang menawarkan pengukuran gula darah tanpa tusukan kulit.

Dalam jangka panjang, perkembangan teknologi non-invasif tetap memiliki potensi besar. Namun sebelum mendapat validasi ilmiah dan persetujuan regulator, perangkat tersebut belum dapat menggantikan metode pemantauan gula darah yang telah terbukti akurat.

Bagi penyandang diabetes, tenaga kesehatan, dan keluarga pasien, akurasi data tetap menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan medis.

Kesimpulan

Meningkatnya popularitas smart ring dan smartwatch membuka peluang baru dalam pemantauan kesehatan pribadi. Namun hingga saat ini, regulator kesehatan Amerika Serikat menegaskan bahwa tidak ada smartwatch atau smart ring yang disetujui untuk mengukur kadar gula darah secara mandiri tanpa menembus kulit.

Di tengah tingginya jumlah penderita diabetes di Indonesia, masyarakat perlu memahami perbedaan antara perangkat kebugaran dan alat medis. Teknologi wearable dapat membantu memantau tren kesehatan, tetapi keputusan terapi diabetes tetap harus didasarkan pada alat yang tervalidasi secara klinis dan konsultasi dengan tenaga kesehatan. ***