MAL – Smartwatch semakin populer sebagai alat pemantau kesehatan harian. Mulai dari detak jantung, kadar oksigen darah (SpO2), jumlah langkah, kualitas tidur, hingga fitur EKG dan tekanan darah kini tersedia di banyak perangkat. Namun, hasil riset terbaru menunjukkan bahwa tidak semua metrik memiliki tingkat akurasi yang sama. Sejumlah studi menemukan bahwa data detak jantung cenderung paling dapat diandalkan, sementara pengukuran SpO2, tidur, langkah, hingga klaim gula darah non-invasif masih memiliki keterbatasan yang perlu dipahami pengguna.
Smartwatch Semakin Pintar, Tapi Tidak Semua Data Sama Akurat
Dalam beberapa tahun terakhir, smartwatch berkembang dari sekadar perangkat kebugaran menjadi alat pemantauan kesehatan yang semakin kompleks.
Menurut artikel Kementerian Kesehatan RI, smartwatch dapat menampilkan berbagai metrik kesehatan, mulai dari jumlah langkah, kalori terbakar, frekuensi detak jantung, tekanan darah, kadar glukosa, saturasi oksigen darah, hingga durasi dan kualitas tidur.
Namun para peneliti mengingatkan bahwa sebagian besar data tersebut dirancang untuk pemantauan (monitoring) dan bukan untuk diagnosis medis.
Perbedaan ini menjadi semakin penting karena banyak pengguna mulai memperlakukan hasil smartwatch sebagai data kesehatan yang setara dengan alat medis profesional.
Metrik Mana yang Paling Bisa Dipercaya?
Berdasarkan sejumlah studi validasi perangkat wearable, detak jantung menjadi metrik yang paling konsisten dan paling dapat diandalkan untuk penggunaan sehari-hari.
Sebuah studi yang dipublikasikan melalui PubMed menemukan bahwa Garmin Forerunner 245 memiliki tingkat kesalahan (error rate) di bawah 10 persen untuk pengukuran detak jantung dalam sebagian besar kondisi pengujian.
Penulis penelitian tersebut menyimpulkan:
“The Garmin device displayed acceptable HR data at rest and exercise for all altitudes, but failed to provide trustworthy SpO2 values.”
Artinya, data detak jantung saat istirahat maupun aktivitas fisik ringan hingga sedang relatif dapat digunakan untuk memantau tren kesehatan harian.
Meski demikian, data tersebut tetap tidak menggantikan pemeriksaan EKG atau evaluasi medis profesional.
Data dan Tingkat Kepercayaan Metrik Smartwatch
| Metrik | Tingkat Keandalan Berdasarkan Studi |
|---|---|
| Detak Jantung (HR) | Relatif tinggi |
| EKG pada model tersertifikasi | Dapat membantu skrining awal |
| Saturasi Oksigen (SpO2) | Sedang hingga rendah |
| Jumlah Langkah | Bervariasi |
| Kualitas dan Durasi Tidur | Bervariasi |
| Tekanan Darah | Sangat tergantung model dan validasi |
| Gula Darah Non-Invasif | Belum layak untuk diagnosis medis |
Mengapa SpO2 Masih Dipertanyakan?
Pengukuran saturasi oksigen darah menjadi salah satu fitur yang paling banyak dipasarkan produsen smartwatch.
Namun studi yang sama menemukan bahwa nilai SpO2 memiliki tingkat kesalahan lebih dari 50 persen secara keseluruhan dan bahkan melebihi 80 persen pada ketinggian di atas 4.800 meter.
Peneliti menyatakan:
“Therefore, its use to assess SpO2 should be proscribed in altitude for acclimatization evaluation.”
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pembacaan SpO2 dari smartwatch dapat dipengaruhi banyak faktor seperti posisi perangkat, gerakan tubuh, suhu lingkungan, keringat, warna kulit, hingga kondisi pencahayaan sensor optik.
Karena itu, data SpO2 dari smartwatch sebaiknya dipandang sebagai indikator awal, bukan dasar pengambilan keputusan medis.
Langkah dan Tidur: Berguna untuk Tren, Bukan Angka Absolut
Studi validasi smartwatch murah yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan hasil yang cukup menarik.
Penelitian tersebut menemukan tidak ada perbedaan signifikan pada beberapa parameter seperti:
Shallow sleep
Deep sleep
REM sleep
Mean heart rate
Minimum heart rate
SpO2
Namun perangkat yang diuji cenderung:
Meremehkan jumlah langkah.
Meremehkan total durasi tidur.
Meremehkan waktu terbangun (wake time).
Melebihkan detak jantung maksimum.
Penulis studi tersebut menekankan:
“These findings highlight the importance of accurate validation and interpretation of wearable device data in clinical contexts.”
Temuan ini menunjukkan bahwa data tidur dan langkah masih cukup berguna untuk melihat pola jangka panjang, tetapi kurang tepat jika digunakan sebagai ukuran absolut yang harus dipercaya sepenuhnya.
Bagaimana dengan Gula Darah dan Tekanan Darah?
Fitur pengukuran gula darah tanpa jarum menjadi salah satu inovasi yang paling banyak menarik perhatian konsumen.
Namun hingga 2026, laporan yang mengulas pengujian terhadap 44 smartwatch menyebut belum ada smartwatch konsumen yang memperoleh persetujuan regulator seperti FDA atau NMPA untuk diagnosis gula darah non-invasif.
Laporan tersebut menyebut sebagian besar sistem masih menggunakan kombinasi sensor optik dan kecerdasan buatan untuk menghasilkan estimasi.
Tingkat kesalahannya dilaporkan berada pada kisaran 10 hingga 30 persen.
Karena itu, fitur ini belum dapat dianggap sebagai pengganti alat ukur gula darah medis.
Situasi serupa juga berlaku pada fitur tekanan darah yang akurasinya sangat bergantung pada model perangkat, metode kalibrasi, dan validasi klinis yang dimiliki masing-masing produk.
Mengapa Akurasi Smartwatch Bisa Berbeda?
Sebagian besar smartwatch menggunakan teknologi photoplethysmography (PPG), yaitu sensor optik yang membaca perubahan aliran darah melalui cahaya.
Metode ini praktis dan nyaman digunakan, tetapi memiliki sejumlah keterbatasan.
Faktor yang dapat memengaruhi hasil antara lain:
Posisi pemakaian jam.
Gerakan tangan.
Warna kulit.
Keringat.
Suhu tubuh.
Kondisi lingkungan.
Algoritma perangkat lunak masing-masing produsen.
Karena itu, dua smartwatch berbeda bisa menghasilkan angka yang tidak selalu sama meskipun digunakan oleh orang yang sama pada waktu yang sama.
Analisis: Apa Artinya bagi Pengguna?
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa smartwatch sangat berguna sebagai alat pemantauan kesehatan harian dan deteksi pola.
Perangkat ini dapat membantu pengguna mengenali perubahan detak jantung, pola tidur, aktivitas fisik, atau kebiasaan hidup yang memengaruhi kesehatan.
Namun data yang dihasilkan tidak boleh langsung dianggap sebagai diagnosis medis.
Dalam praktik kesehatan modern, smartwatch lebih tepat diposisikan sebagai alat wellness dan skrining awal. Ketika muncul indikasi masalah kesehatan, hasilnya tetap perlu dikonfirmasi menggunakan alat medis standar dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Konteks 2026: Saat Literasi Data Kesehatan Menjadi Penting
Meningkatnya penggunaan wearable device pada 2025-2026 membuat masyarakat semakin bergantung pada data kesehatan pribadi.
Publikasi BINUS 2026 menekankan bahwa smartwatch memiliki keunggulan dalam mengumpulkan data secara terus-menerus dan menyinkronkannya ke aplikasi maupun layanan cloud.
Kemampuan tersebut menjadikan smartwatch sangat efektif untuk monitoring real-time.
Namun meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap perangkat wearable juga menuntut literasi kesehatan yang lebih baik agar pengguna mampu membedakan antara data monitoring, data skrining, dan diagnosis medis.
Implikasi bagi Publik
Dalam jangka pendek, smartwatch dapat membantu masyarakat lebih sadar terhadap kondisi kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Dalam jangka panjang, perangkat wearable berpotensi memainkan peran penting dalam pemantauan kesehatan jarak jauh, pengelolaan penyakit kronis, serta perawatan lansia.
Pihak yang paling terdampak meliputi pengguna umum, tenaga kesehatan, perusahaan teknologi kesehatan, penyedia layanan telemedisin, hingga regulator yang mengawasi klaim kesehatan perangkat konsumen.
Penutup
Berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, detak jantung merupakan metrik smartwatch yang paling konsisten dan relatif dapat dipercaya untuk pemantauan harian. Sebaliknya, SpO2, langkah, kualitas tidur, tekanan darah, dan terutama gula darah non-invasif masih memiliki keterbatasan yang perlu dipahami pengguna.
Smartwatch tetap menjadi alat yang bermanfaat untuk mengenali pola kesehatan, tetapi hasilnya sebaiknya dipandang sebagai sinyal awal yang perlu diverifikasi melalui pemeriksaan medis ketika diperlukan. ***
