Perang selalu dimulai dari cerita. Bukan dari peluru. Peluru hanya mengakhiri sesuatu. Cerita memulainya.

Belakangan ini ruang publik Indonesia selalu gaduh dengan isu Palestina-Israel. Bahkan dalam urusan bola sekalipun, kiblat dukungan kepada sentimen ini. Di kegaduhan itu, ada yang terang-terangan membela Israel. Yang menjadi anomali, di Indonesia, mereka tak sedikit. Padahal sangat nampak bengisnya Israel.

Di tengah itu, adapula tokoh agama membisu kepada isu Israel. Di lain sisi, risih terhadap pejuang Palestina dan pendukung Palesitna. Ah siapa mereka ini! Kata isu yang beredar, mereka Hasbara.

Hasbara ini diutus untuk memupus ingatan kita tentang Palestina. Mereka mencoba dan memutus solidaritas kepada negara terjajah itu. Satu visi diantaranya, menghapus ingatakan kita tentang hubungan Palestina dengan emerdekaan Indonesia.

Sebab, sebuah bangsa tidak hanya hidup dari wilayahnya. Ia juga hidup dari memori yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hubungan Indonesia dan Palestina adalah salah satu memori itu.

Banyak orang mengira dukungan Indonesia kepada Palestina lahir karena kesamaan agama. Anggapan itu terlalu sederhana. Jauh sebelum isu Palestina menjadi konsumsi media sosial, hubungan itu telah dibangun oleh semangat yang lain: antikolonialisme.

Sejarah mencatat, ketika Republik Indonesia masih mencari pengakuan dunia, sejumlah tokoh Palestina ikut menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Mufti Besar Palestina, Amin al-Husseini, menyampaikan dukungan melalui siaran radio berbahasa Arab pada 1944. Dukungan itu kemudian bergema di berbagai media Timur Tengah.

Diplomat Indonesia Mohammad Zein Hassan mencatat bagaimana jaringan tokoh Palestina membantu membuka pintu diplomasi Indonesia di dunia Arab. Ada pula nama Mohammad Ali Taher, saudagar asal Nablus. Namanya jarang muncul dalam buku pelajaran. Padahal kisahnya layak dikenang.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II dan para pemimpin republik ditawan, Ali Taher menawarkan seluruh kekayaan yang dimilikinya untuk membantu perjuangan Indonesia. Tanpa syarat. Tanpa jaminan. Tanpa meminta namanya dikenang. Apakah bantuan itu sendirian membuat Indonesia merdeka? Tentu tidak.

Tetapi sejarah tidak pernah hanya diukur dari besar kecilnya bantuan. Sejarah juga dibangun oleh keberpihakan.Oleh keberanian berdiri bersama mereka yang sedang tertindas.Karena itulah, ketika sebagian orang menyebut seluruh kisah itu sebagai hoaks, reaksi publik bukan sekadar soal emosi.

Yang mereka rasakan adalah upaya menghapus memori. Itulah mereka Hasbara. Dalam ilmu komunikasi, perebutan memori bukan hal baru.

Harold Lasswell menjelaskan bahwa propaganda bekerja melalui simbol dan pesan. Tidak selalu dengan kebohongan. Kadang cukup dengan menggeser cara orang memandang sebuah peristiwa. Robert Entman menyebutnya framing.

Fakta yang sama dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda karena sudut pandangnya berbeda. Maxwell McCombs menyebutnya agenda setting. Yang diperebutkan bukan hanya jawaban. Tetapi juga pertanyaan. Isu apa yang dianggap penting. Dan isu apa yang perlahan dilupakan.

Dalam konteks konflik Israel-Palestina, istilah hasbara sering digunakan untuk menggambarkan strategi diplomasi publik Israel dalam membangun narasi di ruang internasional. Sejumlah akademisi memahaminya sebagai bentuk komunikasi strategis negara. Di ruang publik, istilah ini juga kerap dipakai secara lebih luas untuk menyebut berbagai upaya memengaruhi opini tentang konflik tersebut. Karena itu, mengaitkan pernyataan individu tertentu dengan hasbara memerlukan bukti yang jelas, bukan sekadar kemiripan narasi.

Yang lebih penting adalah melihat polanya. Dalam setiap konflik, perebutan wilayah selalu diiringi perebutan cerita. Jika sebuah bangsa berhasil diyakinkan bahwa ia tidak pernah memiliki hubungan sejarah dengan bangsa lain, maka ikatan moral di antara keduanya akan melemah. Solidaritas menjadi mudah dipatahkan. Empati berubah menjadi keraguan. Lalu diam.

Bagi Indonesia, Palestina bukan sekadar isu luar negeri. Palestina adalah bagian dari sejarah diplomasi republik. Itulah sebabnya dukungan Indonesia kepada Palestina tidak pernah hanya lahir dari politik sesaat. Ia tumbuh dari ingatan tentang bangsa-bangsa yang dahulu saling menguatkan ketika kolonialisme masih menjadi kenyataan sehari-hari.

Orang boleh berbeda pandangan tentang solusi konflik di Timur Tengah. Orang boleh mengkritik pemerintah Israel. Orang juga boleh mengkritik otoritas Palestina. Tetapi informasi semestinya dibantah dengan informasi sebenarnya.Bukan dengan slogan.

Karena ketika sebuah bangsa kehilangan ingatannya, ia akan lebih mudah diarahkan ke mana saja. Dan bangsa yang lupa kepada mereka yang pernah berdiri di sisinya, perlahan akan lupa pula mengapa kemerdekaan dahulu diperjuangkan.