PALU, MAL – Ratusan warga menggelar deklarasi penolakan terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Lapangan Vatulemo, Kota Palu, Kamis (25/6) malam.

Aksi yang didominasi kalangan generasi muda itu diisi dengan penyampaian pernyataan sikap dan ajakan kepada masyarakat untuk menjaga nilai-nilai yang mereka yakini.

Inisiator kampanye, Muammar Khadafi, mengatakan deklarasi tersebut digelar sebagai respons atas isu yang menurutnya semakin marak terkait keberadaan LGBT di Kota Palu.

Khadapi menilai kegiatan tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka.

Muammar menyatakan bahwa seluruh agama yang diakui di Indonesia, menurut pandangannya, tidak membenarkan praktik LGBT. Karena itu, ia bersama peserta deklarasi mengaku sepakat menyampaikan penolakan melalui kampanye di ruang publik.

“Kami ingin menyampaikan sikap secara terbuka sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial di daerah,” ujarnya.

Ia juga menilai isu LGBT tidak hanya menjadi perhatian di Kota Palu, tetapi juga mulai muncul di sejumlah wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah sehingga diperlukan perhatian bersama dari berbagai elemen masyarakat.

Dalam aksi tersebut, Jumardan, yang mengaku pernah dikenal dengan nama “Minten”, turut menyampaikan pengalamannya di hadapan peserta deklarasi. Ia mengatakan telah kembali menggunakan identitas yang diberikan sejak lahir.

“Kalau ada yang kenal saya dengan nama Minten, hapus nama itu dari kontak kalian. Sebab saya dilahirkan dengan nama Jumardan. Mulai akta lahir, ijazah hingga batu nisan, itu nama saya,” ucapnya.

Deklarasi berlangsung dengan tertib hingga selesai. Para peserta berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang penyampaian aspirasi sekaligus mendorong perhatian masyarakat terhadap isu yang mereka angkat.