PALU, MAL – Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, menyoroti peningkatan kasus HIV/AIDS Palu yang signifikan. Ia mengungkapkan adanya penambahan dua kasus dalam kurun waktu dua minggu, dari 2022 menjadi 2024 kasus, saat menjadi narasumber dalam Simposium Edukasi HIV/AIDS di Universitas Tadulako, Senin (08/06).
Kegiatan yang berlangsung di Conference Room Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako tersebut dihadiri oleh mahasiswa dan civitas akademika kampus setempat. Turut hadir sebagai narasumber lainnya Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr. Rochmat Jasin.
“Topik hari ini sangat menarik. Terima kasih banyak kepada para mahasiswa dan civitas akademika yang telah mengundang kami untuk memberikan informasi berkaitan dengan HIV/AIDS,” kata Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Imelda mengungkapkan bahwa persoalan HIV/AIDS masih menjadi tantangan serius bagi Kota Palu. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan data terbaru yang diterimanya, terdapat peningkatan jumlah kasus dibandingkan data sebelumnya, memperparah kondisi kasus HIV/AIDS Palu.
“Dua minggu lalu ketika saya berada di Vatulemo, data yang saya terima masih 2022 kasus. Sekarang datanya sudah 2024 kasus, artinya terdapat penambahan dua kasus HIV/AIDS. Di satu sisi saya senang karena ini menunjukkan proses skrining yang dilakukan Pemerintah Kota Palu berjalan dengan baik. Tetapi di sisi lain saya sedih, karena angka ini bukan angka yang main-main. Ini angka yang besar,” kata Imelda.
Menurutnya, Kota Palu saat ini masih menempati posisi pertama di Sulawesi Tengah dalam jumlah kasus HIV/AIDS, sehingga diperlukan perhatian dan penanganan serius dari seluruh pihak.
“Ini tidak boleh dipandang enteng. Memang di satu sisi Kota Palu merupakan ibu kota provinsi dan menjadi pusat aktivitas masyarakat, termasuk para perantau dan mahasiswa dari berbagai daerah yang datang untuk menempuh pendidikan. Namun kondisi ini harus kita antisipasi bersama,” lanjut Imelda.
Dia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Palu telah menjalankan berbagai program pencegahan dan edukasi, termasuk melalui pelibatan para duta dan relawan yang turun langsung ke masyarakat untuk memberikan sosialisasi mengenai bahaya serta pencegahan HIV/AIDS.
Imelda juga mengaku prihatin ketika pertama kali menerima laporan terkait kasus HIV/AIDS di Kota Palu, termasuk adanya penderita yang telah terpapar sejak usia sekolah dasar.
“Saya sedih ketika pertama disampaikan laporan terkait kasus AIDS. Bahkan ada yang mengidapnya sejak usia SD. Ini menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.
Karena itu, Imelda mengajak kalangan mahasiswa untuk turut mengambil peran aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui berbagai ide, inovasi, dan kegiatan edukasi yang menyasar generasi muda.
“Caranya adalah dengan berkolaborasi. Ketika kalian memiliki ide, mari kita sama-sama bergerak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan dari mahasiswa, akademisi, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat agar kita dapat menekan angka kasus HIV/AIDS di Kota Palu,” tutupnya.
Melalui simposium tersebut, diharapkan kesadaran dan pemahaman mahasiswa mengenai HIV/AIDS semakin meningkat, sehingga dapat menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing dalam mendukung upaya pencegahan penyebaran kasus HIV/AIDS Palu. ***

