MOROWALI – Berbagai program pelatihan dan pendampingan kewirausahaan dilakukan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) untuk mendorong kemandirian ekonomi kreatif masyarakat.
Pemberdayaan UMKM lokal aktif dijalankan IMIP melalui agenda bimbingan teknis dan keberlanjutannya.
Salah satu tanggung jawab sosial ini berupa pendampingan pada Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur.
Inisiatif pengembangan ecoprint di Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah digagas lewat pelatihan yang difasilitasi tim Corporate Social Responsibility (CSR) PT IMIP sejak Desember 2022.
Saat itu, warga diperkenalkan potensi ekonomi hijau produk ecoprint sekaligus praktik pembuatannya.
Pelatihan menghadirkan Ni Nyoman Yeni Susanti, seorang pengusaha ecoprint dari Griya Anyar Dewata, Badung, Bali, yang dikenal sebagai UMKM bidang kriya dan fesyen berbasis pewarna alami.
Pelatihan lanjutan kemudian dilaksanakan pada 23–24 Desember 2023 di Balai Desa Bahomakmur.
Selain teknik produksi ecoprint, warga juga mendapatkan edukasi pembuatan eco-enzyme sebagai bagian dari pemanfaatan bahan organik.
Pada Februari 2024, Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur resmi terbentuk.
Selanjutnya, para anggota mendapatkan pelatihan manajemen keuangan guna membantu menentukan harga produk secara terstruktur.
Sekitar 15 anggota perkumpulan ini berlatar belakang beragam, mulai dari ibu rumah tangga, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) desa, guru, hingga pelaku usaha kecil penjahit.
Mereka rutin berkumpul di Balai Desa Bahomakmur setiap Sabtu untuk memproduksi berbagai kreasi ecoprint melalui pengolahan bahan tanaman menjadi kerajinan ramah lingkungan.
Ketua Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur, Wa Ode Amanah (38), menjelaskan, proses pembuatan ecoprint mengandalkan kreativitas setiap anggota dalam menata pola daun pada kain.
“Kami memanfaatkan dedaunan alami sebagai sumber warna dan motif. Daun-daun kami susun dan cetak di atas kain setelah melalui pengolahan warna menggunakan bahan alami,” ujarnya, Senin (16/03).
Wanita yang karib disapa Rina itu mengatakan, jenis daun dipilih dari kandungan warna dan kekhasan bentuk untuk membuat cetakan pola.
Dedaunan sebagian besar diperoleh dari sekitar permukiman mereka di Bahomakmur, antara lain daun polong, kenikir, ketepeng, akar tunjung, dan mahoni.
Ada pula daun lanang (Oroxylum indicum) dengan bentuk khas, seimbang, proporsional, dan tidak mudah rusak. Juga daun afrika (Vernonia amygdalina) yang populer untuk ecoprint karena bertekstur kuat, tidak terlalu tebal, tak mudah robek, dan mudah menempel pada kain saat dikukus.
Coraknya yang bertulang tegas dan rapi menghasilkan pola cetakan urat daun yang jelas dan berkarakter kuat.
Sementara itu, daun jati sulit ditemukan sehingga mereka terkadang harus mencarinya hingga ke Desa Ambunu, Kecamatan Bungku Barat.
Menurut Rina, daun jati juga menjadi bahan favorit karena memiliki karakter serat yang khas dan mampu menghasilkan gradasi warna menarik pada kain.
“Motifnya bisa menampilkan warna lebih pekat di bagian atas daun dan semakin pudar di bagian bawah, sehingga memberikan efek alami yang unik,” jelasnya.
Potensi Ekonomi Kerajinan Ecoprint
Kini kelompok itu telah memproduksi beragam produk kerajinan, antara lain kain katun, sutra, dan linen bermotif ecoprint, pashmina, kaus, topi, tas, juga bantal leher dan botol tumbler stainless (tahan karat).
Harga yang ditawarkan bervariasi, dari Rp150.000 hingga Rp700.000, tergantung bahan dan jenis produk.
Beberapa karya telah dipasarkan ke perusahaan di kawasan IMIP sebagai cenderamata.
Pada Agustus 2025, misalnya, sejumlah produk seperti tumbler stainless dan topi batik ecoprint dibeli perusahaan di kawasan tersebut.
Rina menuturkan, kelompoknya berencana memperluas pemasaran produk, termasuk peluang kerja sama dengan sejumlah perusahaan di kawasan industri mineral berbasis nikel tersebut.
“Kami berharap ke depan bisa menjalin kesepakatan kerja sama dengan IMIP untuk memasok produk dalam jumlah lebih banyak. Semoga nanti bisa dipajang juga di Bandara IMIP sebagai oleh-oleh,” proyeksinya.
Selain penjualan langsung, kelompok ini aktif mempromosikan produk melalui pameran yang difasilitasi pemerintah desa dan kecamatan setempat.
Salah satunya melalui kegiatan pameran di Balai Desa Bahodopi pada Juli 2025. Mereka juga tengah mempersiapkan pameran produk dalam ajang lomba antarkecamatan April mendatang.
Untuk mendukung keberlanjutan usaha, Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur akan lebih menata pembukuan keuangan dan kapasitas produksi.
Beberapa peralatan pendukung seperti kompor gas, tabung elpiji, dan mesin jahit atau obras pun telah diajukan kepada pihak CSR IMIP.
“Kami ingin terus memperbaiki tata produksi dan pengelolaan kelompok agar bisa berkembang lebih baik,” ujar Rina. ***

