MAL – Ketika berbicara tentang robot pekerja, banyak orang mungkin langsung membayangkan Jepang atau Korea Selatan sebagai pemimpin dunia. Namun, data terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda. China kini muncul sebagai negara paling agresif dalam pengembangan robot pekerja, baik dari sisi jumlah robot yang dipasang, robot yang beroperasi di pabrik, maupun dukungan kebijakan dan investasi negara yang terus meningkat.
Dari Pengguna Teknologi Menjadi Kekuatan Robotika Dunia
Dalam satu dekade terakhir, China mengalami transformasi besar di sektor otomasi industri. Negara tersebut berkembang dari pengguna teknologi manufaktur menjadi salah satu pusat utama pengembangan robotika global.
Titik balik penting terjadi pada 2015 ketika pemerintah China meluncurkan strategi industri “Made in China 2025”. Kebijakan ini menjadi landasan untuk mempercepat modernisasi manufaktur melalui pemanfaatan robotika, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi otomasi lainnya.
Perkembangan tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan pabrik. Robot humanoid kini mulai diuji dan diterapkan di berbagai sektor, mulai dari layanan publik, rumah sakit, hingga industri manufaktur.
Data Menunjukkan Dominasi China
Berdasarkan data terbaru yang dirujuk dari International Federation of Robotics (IFR), China saat ini menjadi pasar robotika terbesar di dunia.
Beberapa indikator utama menunjukkan skala pengembangan yang sangat besar:
Robot industri yang beroperasi di pabrik China pada 2023 mencapai 1.755.132 unit.
Angka tersebut meningkat sekitar 17 persen dibanding tahun sebelumnya.
Instalasi robot industri baru pada 2023 mencapai 276.288 unit.
Jumlah itu setara dengan 51 persen dari seluruh permintaan robot industri global.
Kepadatan robot industri China mencapai 470 robot per 10.000 pekerja manufaktur pada 2023.
Angka tersebut naik dari 402 robot per 10.000 pekerja pada 2022.
China kini berada di posisi ketiga dunia dalam kategori kepadatan robot industri.
Perbandingan Beberapa Negara
| Negara | Robot per 10.000 Pekerja Manufaktur |
|---|
| Korea Selatan | 1.012 |
| Singapura | Peringkat 2 Dunia |
| China | 470 |
| Jerman | Di bawah China |
| Jepang | Di bawah China |
IFR mencatat rata-rata kepadatan robot global pada 2023 mencapai 162 robot per 10.000 pekerja manufaktur. Dengan capaian 470 unit, China berada jauh di atas rata-rata dunia.
Yang menarik, China baru masuk kelompok 10 besar dunia pada 2019. Dalam kurun empat tahun, negara tersebut berhasil menggandakan kepadatan robot industrinya.
Mengapa China Sangat Agresif?
Pengembangan robot pekerja di China tidak terjadi secara kebetulan. Ada beberapa faktor utama yang mendorong percepatan tersebut.
Pertama, pemerintah China secara konsisten mendorong modernisasi sektor manufaktur untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri.
Kedua, basis manufaktur China yang sangat besar menciptakan kebutuhan tinggi terhadap otomasi produksi.
Ketiga, investasi negara dan sektor swasta terus mengalir ke industri robotika dan kecerdasan buatan.
Laporan yang dirujuk IFR menunjukkan sekitar 54 persen pengiriman robot industri untuk pasar elektronik domestik diserap oleh China. Bahkan, sekitar dua pertiga robot industri yang digunakan industri elektronik global pada 2023 dipasang di China.
Selain itu, pemerintah China juga dikabarkan menyiapkan dana ventura negara yang berfokus pada robotika dan AI dengan potensi menarik hampir 1 triliun yuan dalam jangka 20 tahun.
Apa Kata International Federation of Robotics?
Presiden International Federation of Robotics (IFR), Marina Bill, menegaskan posisi dominan China dalam industri robotika global.
“China has been investing heavily in modern production facilities for more than a decade: Today, the country is by far the world’s largest market for robotics.”
Dalam publikasi lainnya, IFR juga menyatakan:
“China has managed to double its robot density within four years.”
Lembaga tersebut menambahkan bahwa China kini berada tepat di belakang Korea Selatan dan Singapura dalam kategori kepadatan robot, sekaligus sejajar dengan negara-negara manufaktur maju seperti Jerman dan Jepang.
Apakah China Sudah Menjadi Nomor Satu?
Jawabannya bergantung pada indikator yang digunakan.
Jika ukuran yang dipakai adalah kepadatan robot per pekerja, Korea Selatan masih menempati posisi pertama dunia dengan 1.012 robot per 10.000 pekerja manufaktur.
Namun jika yang diukur adalah skala pasar, jumlah robot yang dipasang setiap tahun, jumlah robot yang beroperasi, pertumbuhan industri, serta dukungan kebijakan negara, maka China menjadi negara yang paling agresif mengembangkan robot pekerja.
Keunggulan China terletak pada kombinasi antara ukuran pasar yang sangat besar, pertumbuhan cepat, dan strategi nasional jangka panjang yang terintegrasi dengan pengembangan kecerdasan buatan dan otomasi industri.
Persaingan Baru Robot Humanoid
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa persaingan global tidak lagi terbatas pada robot industri tradisional. Robot humanoid mulai menjadi fokus baru dalam perlombaan teknologi global.
Laporan Bloomberg Technoz pada Juli 2026 menyebut China sebagai salah satu pusat pengembangan robot humanoid paling agresif di dunia. Tren ini menunjukkan bahwa masa depan robot pekerja tidak hanya berada di jalur produksi pabrik, tetapi juga berpotensi masuk ke berbagai bidang pekerjaan lain yang sebelumnya dilakukan manusia.
Penutup
Data terbaru menunjukkan bahwa China telah menjelma menjadi kekuatan utama robot pekerja dunia. Negara ini memimpin dalam jumlah instalasi robot industri, jumlah robot aktif di pabrik, serta dukungan investasi dan kebijakan negara yang sangat besar.
Meski Korea Selatan masih menjadi pemimpin dunia dalam kepadatan robot per pekerja, skala dan kecepatan ekspansi China membuat negara tersebut menjadi aktor paling agresif dalam perlombaan robotika global saat ini. ***
