PEKALONGAN – Program Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch 3 dan Young Batik Entrepreneur Fashion Fellowship 2026 resmi ditutup di Rumah Batik TBIG, Desa Waru Lor, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Penutupan menjadi penanda komitmen Tower Bersama Group (TBIG) dalam membangun ekosistem pelestarian batik yang tidak hanya berorientasi pada budaya, tetapi juga pemberdayaan ekonomi dan pengembangan generasi muda.
Chief Business Support Officer TBIG Lie Si An mengatakan perjalanan Rumah Batik TBIG telah berlangsung selama 12 tahun. Menurutnya, program yang dimulai dari kondisi kawasan yang masih gersang kini berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
“Perjalanan 12 tahun ini bukan perjalanan yang pendek. Awalnya kami ingin melestarikan budaya batik sebagai warisan Indonesia. Namun dalam perjalanannya berkembang menjadi pemberdayaan pembatik, penguatan generasi muda, hingga pengembangan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Journalism Fellowship on CSR kini telah memasuki angkatan ketiga, sedangkan Batik Entrepreneur Fellowship memasuki tahun kedua. Konsistensi menjadi kunci sehingga setiap tahun program terus berkembang dengan berbagai inovasi.
Lie Si An menjelaskan, TBIG tidak hanya memberikan pelatihan membatik, tetapi juga membangun koperasi untuk mendukung permodalan, membantu pemasaran produk, hingga menghadirkan Indonesian Fashion Chamber agar para perajin mampu menghasilkan produk batik bernilai tinggi sesuai kebutuhan pasar.
“Kami ingin para alumni tidak hanya bisa membuat batik, tetapi juga mampu menjadikan batik sebagai produk yang memiliki nilai tambah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka dan masyarakat di sekitarnya,” katanya.
Ia berharap ekosistem yang telah dibangun dapat terus berkembang serta menjadi inspirasi bagi berbagai pihak, termasuk kalangan jurnalis, dalam menyebarluaskan praktik-praktik baik pemberdayaan masyarakat.
“Melalui proses yang sederhana namun dilakukan secara konsisten, kami berharap pelestarian batik Indonesia semakin kuat, ekonomi masyarakat meningkat, dan generasi muda semakin mencintai budaya bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikn (GWPP) Nurcholis MA Basyari menyampaikan bahwa Journalism Fellowship on CSR Batch 3 diikuti 15 peserta, dengan 12 peserta dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan hingga memperoleh sertifikat kompetensi.
Menurutnya, program pendidikan jurnalistik ini dirancang selama satu bulan tanpa mengganggu aktivitas kerja para peserta sebagai wartawan.
“Kami ingin membuktikan bahwa mengikuti pendidikan tidak mengurangi produktivitas wartawan. Justru selama mengikuti fellowship mereka tetap menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas,” katanya.
Ia menjelaskan materi fellowship menitikberatkan pada empat aspek utama, yakni skill, knowledge, awareness, dan leadership.
Skill mencakup kemampuan dasar jurnalistik mulai dari mencari, memperoleh, menyimpan, mengolah hingga mempublikasikan informasi. Sementara knowledge menekankan pemahaman mengenai jurnalistik dan bidang lain yang berkaitan dengan tugas peliputan.
Aspek awareness mengajarkan pentingnya memahami regulasi, nilai-nilai etika, serta kepentingan publik dalam pemberitaan. Sedangkan leadership ditanamkan agar wartawan mampu memimpin diri sendiri sekaligus bekerja secara kolaboratif dalam tim redaksi.
Nurcholis juga mengungkapkan produktivitas peserta meningkat dibanding angkatan sebelumnya. Batch pertama menghasilkan 216 karya jurnalistik, sedangkan hingga penutupan Batch 3 telah tercatat 223 karya dan diperkirakan masih akan bertambah.
Selain itu, seluruh alumni Journalism Fellowship Batch 1 hingga Batch 3 akan mengikuti lomba karya jurnalistik yang rencananya digelar bertepatan dengan peringatan hari jadi TBIG.
Di sisi lain, Senior Advisor Indonesian Fashion Chamber (IFC) Dina Midiani mengatakan Young Batik Entrepreneur Fashion Fellowship merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya yang bertujuan mencetak talenta baru di industri fashion berbasis batik.
Menurutnya, peserta tidak hanya belajar mengenai desain busana, tetapi juga menggali kreativitas, membangun identitas merek (brand identity), menyusun konsep koleksi, hingga memahami proses produksi dan pemasaran produk fashion.
“Kami ingin peserta tidak menjadi follower, tetapi menjadi trend setter dengan karakter dan identitas merek yang kuat,” katanya.
Selama pelatihan, peserta menjalani simulasi layaknya sebuah rumah produksi fashion. Mereka menyusun konsep koleksi, membuat pola, memotong kain, mengawasi proses penjahitan, hingga belajar menentukan harga jual dan strategi promosi melalui media sosial.
Dina menegaskan bahwa berakhirnya program bukan berarti proses pembelajaran selesai. Seluruh peserta masih mendapatkan tantangan untuk kembali membuat koleksi baru dengan merek masing-masing sebagai bagian dari penguatan kompetensi.
“Ini baru langkah awal. Industri fashion sangat kompetitif sehingga peserta harus terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan produknya agar mampu bersaing di pasar,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara TBIG, GWPP, Indonesian Fashion Chamber, serta Rumah Batik TBIG, diharapkan lahir jurnalis yang semakin kompeten sekaligus wirausahawan muda batik yang mampu mengangkat potensi batik Pekalongan ke tingkat nasional bahkan internasional.

