PARIMO, MAL – Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, masuk dalam zona bahaya likuefaksi berdasarkan kajian Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menyikapi temuan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo mulai memperkuat upaya mitigasi serta menyiapkan kajian lanjutan untuk memetakan tingkat kerawanan di wilayah tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Parimo, Moh Rivai, mengatakan hasil kajian Badan Geologi menjadi perhatian sekaligus acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah mitigasi dan penelitian lebih lanjut terkait potensi likuefaksi.
“Kajian itu menjadi perhatian sekaligus acuan kami dalam melakukan penelitian lanjutan mengenai seberapa besar potensi likuefaksi di daerah ini,”ungkapnya, Rabu (22/7).
Berdasarkan kajian Badan Geologi, ancaman likuefaksi di Parimo berada pada kategori bahaya menengah. Potensi tersebut dapat terjadi apabila wilayah ini diguncang gempa bumi berkekuatan besar dengan kedalaman dangkal.
Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi keberadaan sejumlah sesar aktif di sekitar Parigi Moutong, seperti Sesar Sausu, Sesar Tokara, Sesar Tambarana di Kabupaten Poso, serta pengaruh aktivitas Sesar Palu-Koro.
ia mengimbau masyarakat agar tidak panik, melainkan meningkatkan kewaspadaan melalui pemahaman terhadap potensi bencana dan penguatan mitigasi.
“Bukan berarti masyarakat harus takut terhadap ancaman bencana alam, melainkan meningkatkan kewaspadaan, mengenali potensi, dan memperkuat mitigasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hingga kini Parigi Moutong belum memiliki Kajian Risiko Bencana (KRB) yang secara khusus memuat ancaman likuefaksi. Oleh karena itu, potensi tersebut akan dimasukkan dalam revisi dokumen KRB yang direncanakan pada 2027.
Ia menambahkan, hasil kajian kerawanan bencana yang disusun Bappelitbangda Parimo pada 2019 juga akan menjadi salah satu referensi dalam penyusunan dokumen tersebut.
Selain penyusunan kajian, BPBD terus memperkuat edukasi, literasi kebencanaan, penataan ruang, serta pemetaan risiko kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.
Ia mengingatkan bahwa selain ancaman gempa bumi dan likuefaksi, Parimo memiliki kerawanan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, dan banjir rob akibat kondisi geografis yang didominasi lereng pegunungan curam dan banyak aliran sungai.
“Penguatan mitigasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam membangun budaya sadar bencana,” pungkasnya.
