PALU — Berjalan kaki ke sekolah menjadi kebiasaan yang masih ditemukan di berbagai negara. Praktik ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik, tetapi juga kemandirian anak, interaksi sosial, keselamatan, dan tata kota. Berikut sejumlah negara yang dikenal memiliki budaya perjalanan aktif ke sekolah.

1. Jepang: Berjalan Bersama Teman

Jepang menjadi salah satu contoh paling terkenal dalam penerapan kebiasaan berjalan kaki ke sekolah. Banyak siswa sekolah dasar pergi ke sekolah dengan berjalan kaki secara berkelompok bersama teman-teman yang tinggal di lingkungan sekitar.

Di sejumlah daerah, anak-anak mengikuti rute yang telah ditentukan dan berjalan dalam kelompok. Sistem ini membuat perjalanan ke sekolah sekaligus menjadi ruang bagi anak untuk belajar mandiri dan mengenali lingkungan tempat tinggalnya.

Kebiasaan tersebut juga didukung oleh sistem penataan sekolah dan permukiman. Sekolah dasar umumnya berada dalam wilayah yang relatif terjangkau dari tempat tinggal siswa.

Bagi Jepang, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar perpindahan dari rumah menuju ruang kelas. Anak memperoleh pengalaman sosial dan belajar bertanggung jawab terhadap keselamatan dirinya selama perjalanan.

2. Belanda: Jalan Kaki dan Sepeda

Belanda dikenal sebagai salah satu negara dengan budaya transportasi aktif yang kuat. Anak-anak pergi ke sekolah dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda.

Bersepeda bahkan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Belanda. Infrastruktur jalan dan jalur sepeda yang baik membuat anak lebih mudah melakukan perjalanan tanpa kendaraan bermotor.

Sejumlah penelitian menunjukkan sebagian besar perjalanan sekolah anak di Belanda dilakukan menggunakan moda aktif.

Keberhasilan tersebut tidak hanya berasal dari kebiasaan keluarga. Infrastruktur yang aman, jarak sekolah, serta dukungan orang tua menjadi faktor penting.

3. Denmark: Transportasi Aktif Sejak Anak-Anak

Denmark juga memiliki budaya kuat dalam perjalanan aktif. Anak-anak terbiasa berjalan kaki atau bersepeda dalam perjalanan sehari-hari, termasuk menuju sekolah.

Kota-kota di Denmark banyak mengembangkan lingkungan yang mendukung pejalan kaki dan pesepeda. Kondisi tersebut membuat perjalanan aktif lebih mudah dilakukan.

Kebiasaan bergerak sejak usia sekolah kemudian dapat membentuk pola hidup aktif hingga anak tumbuh dewasa.

4. Finlandia: Berjalan di Tengah Cuaca Dingin

Finlandia menunjukkan bahwa cuaca bukan selalu penghalang perjalanan aktif. Anak-anak tetap dapat berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah, meskipun negara tersebut mengalami musim dingin yang panjang.

Tentu saja, kondisi cuaca dan jarak tetap menjadi pertimbangan. Namun budaya berjalan dan bersepeda telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Lingkungan sekolah dan permukiman yang mendukung perjalanan aktif menjadi salah satu faktor yang memungkinkan kebiasaan tersebut bertahan.

5. Inggris: Walking School Bus

Inggris mengembangkan konsep walking school bus atau “bus berjalan kaki”. Anak-anak berjalan bersama menuju sekolah melalui rute tertentu dengan pendamping orang dewasa.

Tidak ada kendaraan dalam konsep ini. Istilah “bus” menggambarkan kelompok anak yang mengikuti rute dan berhenti di beberapa titik untuk menjemput peserta lainnya.

Model tersebut memberikan dua keuntungan. Anak mendapatkan aktivitas fisik, sementara perjalanan bersama dapat meningkatkan rasa aman.

6. Amerika Serikat: Mendorong Anak Berjalan ke Sekolah

Di Amerika Serikat, program perjalanan aktif ke sekolah juga dikembangkan di sejumlah daerah melalui konsep Safe Routes to School.

Program tersebut tidak hanya mendorong anak berjalan kaki atau bersepeda. Fokus lainnya adalah menciptakan rute yang lebih aman menuju sekolah.

Pendekatan ini penting karena jarak yang jauh, lalu lintas kendaraan, dan kondisi lingkungan menjadi alasan sebagian orang tua memilih mengantar anak menggunakan mobil.

7. Australia: Kelompok Berjalan dan Bersepeda

Australia juga memiliki berbagai program yang mendorong perjalanan aktif anak menuju sekolah. Salah satu pendekatannya adalah membangun kebiasaan berjalan kaki dan bersepeda melalui kelompok serta rute yang aman.

Program seperti ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor untuk perjalanan pendek sekaligus meningkatkan aktivitas fisik anak.

Apa yang Bisa Ditiru Indonesia?

Pengalaman berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa anak berjalan kaki ke sekolah tidak cukup hanya dengan memberikan imbauan.

Ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi. Sekolah harus berada dalam jarak yang masuk akal dari permukiman. Jalan menuju sekolah harus aman. Trotoar dan penyeberangan harus tersedia. Kecepatan kendaraan di sekitar sekolah juga perlu dikendalikan.

Indonesia sebenarnya dapat mengembangkan konsep serupa melalui “Jalan Kaki Bersama ke Sekolah”.

Anak-anak dari satu lingkungan dapat berjalan bersama dengan pendamping. Pemerintah daerah menyediakan rute aman, sementara sekolah mengatur titik berkumpul dan waktu keberangkatan.

Dengan pendekatan tersebut, berjalan kaki ke sekolah bukan sekadar aktivitas fisik. Ia dapat menjadi bagian dari pendidikan kemandirian, disiplin, kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus menciptakan ruang sosial bagi anak.

Pengalaman Jepang, Belanda, Denmark, Finlandia, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia memperlihatkan satu pelajaran penting: ketika kota dirancang aman bagi anak, berjalan kaki ke sekolah dapat menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari.