PEKALONGAN, MAL – Di sebuah rumah produksi di Kelurahan Samborejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, suara hentakan cap batik terdengar bersahutan.
Di tempat itulah Purhedi, pemilik Griya Batik Dini sekaligus anggota Koperasi Jasa Bangun Bersama, mempertahankan usaha telah dirintis sejak 2003.
Perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Permintaan pasar berubah, pola pemasaran bergeser ke ranah digital, bahkan jumlah tenaga kerja yang dahulu mencapai lebih dari 40 orang kini tersisa sekitar 10 orang. Meski demikian, semangat untuk terus berkarya tidak pernah surut.
Purhedi mengawali usahanya dari batik tulis. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan pasar, ia beralih ke batik cap yang dinilai lebih efisien dalam proses produksi. “Kalau batik tulis prosesnya lama. Batik cap lebih cepat sehingga bisa memenuhi permintaan,” tuturnya, ditemui di kediaman sekaligus rumah produksi, Kamis (9/7).
Dalam sepekan, rumah produksinya mampu menghasilkan lebih dari 30 kodi kain batik apabila seluruh pekerja hadir. Produksi tersebut disesuaikan dengan permintaan pasar yang terus berubah. Motif bunga masih menjadi pilihan utama untuk daster, sedangkan motif kawung dan motif klasik khas Solo maupun Yogyakarta banyak diminati untuk kemeja dan seragam.
Perubahan tren tidak membuat Purhedi berhenti berinovasi. Ia memiliki ratusan cap batik yang digunakan bergantian sesuai musim dan selera konsumen. Baginya, mengikuti perkembangan pasar merupakan bagian dari upaya mempertahankan usaha.
Bahan baku kain diperoleh dari berbagai pemasok, sementara proses pewarnaan masih menggunakan zat warna sintetis. Dalam proses produksi, lilin batik tetap menjadi elemen penting untuk menutup bagian-bagian kain sebelum melalui tahap pewarnaan.
Proses pembuatan batik cap dilakukan secara bertahap. Kain terlebih dahulu dicap menggunakan malam. Pada motif tertentu, proses dilanjutkan dengan pencolekan warna menggunakan kuas agar detail motif lebih hidup. Setelah itu kain menjalani proses pewarnaan, dilorot untuk menghilangkan lilin (malam) yang menempel, dicuci, kemudian dijemur hingga kering.
Untuk menghasilkan warna yang lebih lembut atau kombinasi tertentu, proses pewarnaan dapat dilakukan hingga dua kali.
Meski batik printing semakin berkembang, Purhedi tidak menganggapnya sebagai ancaman. Menurutnya, setiap jenis batik memiliki pangsa pasarnya sendiri.
“Batik tulis, batik cap, dan printing punya pembeli masing-masing. Kalau ingin cepat biasanya memilih printing, tetapi yang menyukai batik cap tetap ada,” ujarnya.
Selama lebih dari dua dekade menjalankan usaha, Batik Dini tidak hanya menjual kain batik kepada masyarakat umum, tetapi juga melayani pesanan seragam sekolah, instansi, maupun komunitas. Salah satu pesanan yang paling berkesan baginya adalah pembuatan seragam untuk sebuah SMA di Tangerang yang dilakukan secara rutin setiap tahun.
Di balik aktivitas produksi, Purhedi juga menyimpan harapan agar keterampilan membatik tidak berhenti pada generasinya. Ia pernah mendorong anak-anak muda di sekitar tempat tinggalnya untuk belajar membatik, mulai dari proses pewarnaan hingga mencap kain.
“Kalau sudah punya keterampilan, nanti bisa mengembangkan usaha sendiri, bukan hanya menjadi buruh,” katanya.
Baginya, membatik bukan sekadar pekerjaan, melainkan keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup. Semangat untuk berbagi pengetahuan itu menjadi investasi penting agar tradisi batik tetap memiliki penerus.
Keberadaan Koperasi Jasa Bangun Bersama turut memberikan dukungan bagi perkembangan usahanya, terutama dalam hal akses pemasaran dan permodalan. Walaupun baru bergabung, Purhedi mengaku kehadiran koperasi cukup membantu pelaku UMKM seperti dirinya.
Di tengah perubahan pasar, persaingan industri, dan naik turunnya permintaan, modal terbesar yang dimiliki Purhedi bukan hanya peralatan produksi atau banyaknya motif batik yang dimiliki. Modal terbesarnya adalah semangat untuk terus bertahan, beradaptasi, dan menjaga warisan batik agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Selama semangat itu masih ada, hentakan cap batik akan terus terdengar dari rumah produksi sederhana di Samborejo, menjadi saksi bahwa sebuah usaha dapat terus bertahan bukan semata karena besarnya modal, melainkan karena kuatnya tekad untuk terus berkarya.
Sementara M Ramadhan salah satu pekerja griya batik Dini , ia mengatakan belajar membatik diajak oleh kawan-kawan mulai dari cara pewarnaan, sampai akhirnya dirinya bisa membatik.
Ia berharap , pasaran batik kedepan semakin cerah, sehingga pendapatan mereka bisa meningkat.
”Ya, semoga gajinya naik,” harapnya tanpa menyebutkan nominal rupiah yang diterimanya sepekan sekali.

