Meski Surplus, Cadangan Beras Sulteng Menipis

oleh -
Kepala KPw BI Sulteng, Dwiyanto Cahyo Sumirat

PALU – Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulteng, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan, cadangan beras di gudang Bulog saat ini menipis.

Meski merupakan daerah surplus beras tetapi Sulteng masih menerima impor beras dari provinsi tetangga, Sulawesi Selatan.

“Saya mengutip pernyataan kepala Bulog cadangan beras di gudang Bulog saat ini sangat tipis. walaupun Sulawesi Tengah surplus beras, tetapi kita lihat lagi produksi dan konsumsi apakah sudah dikurangkan dengan konsumsi dan apakah sudah dikurangkan dengan dengan beras yang dijual keluar Provinsi Sulawesi Tengah,” ujar Dwiyanto kepada sejumlah media dalam kegiatan Journalist Update ‚ÄúPerkembangan Sektor Jasa Keuangan, di salah satu resto, di Kecamatan Palu Timur, Rabu (29/03).

Kata dia, untuk memperoleh gambaran kondisi yang lebih komprehensif, maka ke depannya tidak hanya menghitung surplus beras dari produksi dikurangi konsumsi, tetapi mengurangkan beras yang keluar dari Sulteng, dan menambahkan beras yang masuk dari Sulawesi Selatan.

Berdasarkan informasi dari Dinas /OPD terkait beras dari Sulteng tidak hanya dikonsumsi oleh Sulteng, tetapi dikonsumsi oleh Provinsi Gorontalo Manado dari Manado, lalu melompat lagi ke Kalimantan. Bahkan sampai di negara Filipina. Artinya kata dia, yang mengkonsumsi beras Sulteng ada di mana-mana, sehingga dari sisi pasokan menipis.

“Saya tambah lagi, kenapa harga di level penggilingan juga naik karena nilai produksi di level petani juga naik, harga BBM pun naik, harga pupuk naik, upah buruh tani pun naik, sehingga dari sisi petaninya juga menjual ke penggilingan dengan harga yang sangat tinggi,” ujar Anto, sapaan akrabnya.

Menurutnya, kondisi ini rentan, karena stok di pasar terbatas, akhirnya pedagang di mana-mana menaikkan harga beras.

“Tetapi dengan keberadaan beras impor dari Thailand diharap bisa mengisi kekosongan stok di pasar, sehingga harga di tingkat pasar bisa ditekan,” tutupnya.

Reporter: IRMA
Editor: NANANG