SETIAP menjelang 17 Agustus, ada satu rutinitas yang hampir selalu muncul di sekolah: siswa dan guru diminta mengenakan pakaian merah putih. Akibatnya, kesibukan menjelang perayaan kemerdekaan bukan hanya menyiapkan upacara atau kegiatan pendidikan, tetapi juga mencari baju dengan warna yang dianggap paling sesuai dengan suasana kemerdekaan.

Sekilas, kebiasaan tersebut tampak sederhana dan tidak ada masalah. Merah putih memang merupakan simbol nasional dan mengenakannya dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap identitas bangsa. Namun, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada simbol, sebab simbol yang terus diulang tanpa pemaknaan lama-lama dapat berubah menjadi sekadar rutinitas.

Di sekolah, persoalannya bukan pada baju merah putih itu sendiri. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika pakaian tersebut seolah menjadi ukuran utama keberhasilan merayakan kemerdekaan. Anak yang tidak memiliki baju merah putih, misalnya, bisa merasa berbeda atau bahkan dianggap tidak mengikuti semangat perayaan, padahal rasa cinta kepada Indonesia tidak pernah ditentukan oleh warna pakaian.

Lebih jauh, kebiasaan ini memperlihatkan bagaimana perayaan kemerdekaan kadang terjebak pada aspek visual. Sekolah sibuk memastikan semua orang tampak seragam dalam foto, sementara pertanyaan tentang apa arti kemerdekaan bagi siswa justru tidak mendapatkan ruang yang sama. Merah putih terlihat di mana-mana, tetapi belum tentu kemerdekaan benar-benar dibicarakan.

Bahkan bagi sebagian keluarga, instruksi sederhana tersebut dapat menjadi pengeluaran tambahan. Orang tua yang anaknya tidak memiliki pakaian merah putih harus membeli atau mencari pakaian baru hanya untuk dipakai pada satu atau dua kesempatan. Bagi keluarga yang secara ekonomi cukup, mungkin tidak terasa, tetapi bagi keluarga lain, kewajiban semacam ini bisa menjadi beban yang tidak perlu.

Di sinilah sekolah perlu membedakan antara simbol dan substansi. Simbol penting, tetapi pendidikan jauh lebih penting. Anak tidak seharusnya belajar bahwa nasionalisme berarti harus memiliki pakaian merah putih, melainkan memahami mengapa merah putih menjadi simbol bangsa dan bagaimana mereka menunjukkan kecintaan kepada Indonesia melalui perilaku.

Sekolah sebenarnya bisa menjadikan pakaian merah putih sebagai pintu masuk pembelajaran. Guru dapat bertanya kepada siswa: mengapa kita memakai merah putih, apa sejarahnya, dan apakah mengenakan warna tersebut otomatis membuat seseorang menjadi nasionalis? Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah kebiasaan berpakaian menjadi kesempatan untuk berpikir.

Bahkan sekolah tidak harus selalu memerintahkan pakaian khusus. Siswa yang sudah memiliki pakaian merah putih tentu boleh menggunakannya. Tetapi siswa yang tidak memilikinya dapat tetap mengikuti perayaan dengan pakaian sekolah biasa, pakaian yang sopan, atau atribut sederhana yang tidak mengharuskan keluarga membeli sesuatu.

Yang lebih penting adalah memastikan tidak ada anak yang merasa kurang nasionalis hanya karena tidak memiliki baju merah putih. Jangan sampai perayaan kemerdekaan justru menciptakan pengalaman kecil tentang ketidakadilan sosial di dalam ruang sekolah. Pendidikan nasionalisme semestinya merangkul, bukan membuat anak merasa malu karena kondisi keluarganya.

Guru juga perlu menjadi contoh dalam mengubah orientasi perayaan. Ketika guru lebih sibuk memikirkan keseragaman pakaian daripada menyiapkan materi refleksi kemerdekaan, siswa akan menangkap pesan bahwa penampilan lebih penting daripada pemahaman. Padahal guru memiliki peran besar dalam membuat 17 Agustus menjadi pengalaman pendidikan.

Bayangkan jika satu hari mengenakan merah putih diikuti dengan satu jam diskusi tentang kemerdekaan. Siswa diajak membicarakan apakah mereka sudah merasakan kemerdekaan dalam belajar, apakah semua anak memiliki kesempatan pendidikan yang sama, dan bentuk penjajahan apa yang masih ada dalam kehidupan modern. Jauh lebih banyak nilai pendidikan yang dapat diperoleh daripada sekadar berfoto dengan pakaian seragam.

Perayaan juga dapat dibuat lebih sederhana tetapi lebih bermakna. Setelah upacara, misalnya, siswa diminta menulis satu hal yang mereka syukuri sebagai warga negara dan satu persoalan yang menurut mereka belum mencerminkan cita-cita kemerdekaan. Dari tulisan sederhana itu, sekolah dapat mengetahui bagaimana generasi muda memahami Indonesia.

Kita tidak perlu memusuhi baju merah putih. Yang perlu dikritisi adalah ketika simbol mengambil terlalu banyak ruang dan substansi semakin sedikit. Kemerdekaan tidak menjadi lebih bermakna hanya karena seluruh warga sekolah mengenakan pakaian dengan warna yang sama.

Pada akhirnya, sekolah bukan tempat untuk sekadar membuat perayaan terlihat meriah. Sekolah adalah tempat untuk membuat anak memahami mengapa sesuatu dirayakan. Jika setiap 17 Agustus siswa sibuk mencari baju merah putih tetapi tidak pernah diajak mencari makna kemerdekaan, mungkin yang perlu kita benahi bukan warna bajunya, melainkan cara kita mendidik tentang kemerdekaan.

Sebab anak-anak Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak instruksi untuk terlihat merdeka. Mereka membutuhkan pendidikan yang membuat mereka mampu memahami, menjaga dan mengisi kemerdekaan. Merah putih cukup dikenakan sehari, tetapi nilai kemerdekaan seharusnya hidup dalam diri mereka setiap hari.