PALU, MAL – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. Zainal Abidin, mengajak seluruh elemen lintas agama memperkuat kepedulian dan kerja sama dalam upaya pencegahan stunting demi mewujudkan generasi masa depan yang sehat dan berkualitas.

Menurutnya, kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak merupakan nilai universal yang diajarkan seluruh agama. Karena itu, upaya pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan tokoh agama.

Hal tersebut disampaikan Prof. Zainal saat memberikan penguatan spiritual dalam kegiatan penggalangan kepedulian untuk penanganan anak gagal tumbuh yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Kantor Perwakilan BKKBN Sulteng, Jumat (9/10).

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Dharma Wanita Persatuan, para sesepuh Juang Kencana, penyuluh keluarga berencana (KB), serta penerima manfaat bantuan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).

Prof. Zainal yang juga menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu menilai, Program Genting yang diinisiasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN sejalan dengan nilai-nilai keagamaan, khususnya dalam mempersiapkan generasi yang lebih baik.

“Genting sangat sesuai dengan ajaran Islam dan semua ajaran agama, dalam rangka mempersiapkan generasi yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak perlu dimulai sejak masa kehamilan. Dalam ajaran Islam, terdapat keringanan bagi ibu hamil untuk tidak berpuasa Ramadan apabila dikhawatirkan dapat berdampak pada kesehatan ibu maupun kecukupan nutrisi janin.

Menurutnya, pemahaman keagamaan tersebut dapat menjadi salah satu landasan untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan ibu dan memenuhi kebutuhan gizi anak sejak dini.

Meski demikian, Prof. Zainal mengingatkan bahwa kepedulian terhadap pencegahan stunting harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan berkelanjutan. Bantuan sembako bagi keluarga yang membutuhkan merupakan bentuk dukungan awal, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan persoalan stunting secara menyeluruh.

“Perwakilan BKKBN sudah memberikan contoh dengan menyerahkan bantuan sembako. Akan tetapi, sembako saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah; ini hanyalah sekadar stimulan,” tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengesampingkan ego sektoral dan mengedepankan semangat kebersamaan. Kolaborasi lintas agama, menurutnya, perlu dibangun melalui keselarasan pandangan dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

Melalui keterlibatan tokoh agama dan masyarakat, pesan tentang pentingnya kesehatan ibu, pemenuhan gizi anak, serta pencegahan stunting diharapkan dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

Prof. Zainal pun mengingatkan bahwa semangat berbagi dan membantu sesama perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kepedulian tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus berlanjut melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Upaya bersama tersebut diharapkan dapat memperkuat gerakan pencegahan stunting di Sulteng sekaligus menumbuhkan kepedulian lintas agama dalam menyiapkan generasi masa depan yang lebih sehat dan berkualitas. **