PARIMO – Kementerian Pertanian (Kementan) RI mengingatkan pentingnya menjaga komitmen dalam ekosistem ekspor durian ke Tiongkok, di tengah ketatnya persaingan dengan negara lain seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Ketua Tim Penerapan dan Pengawasan Keamanan Mutu Komoditas Buah dan Florikultura Kementan RI, Slamet Ari Dwi, mengatakan bahwa pasar Tiongkok yang saat ini terbuka tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses panjang dan negosiasi selama bertahun-tahun.

“Ini bukan hasil kerja sehari dua hari. Proses negosiasi berlangsung sekitar empat tahun dengan berbagai tantangan,” ungkapnya saat menghadiri kunjugan Industri Oleh Gubernur Sulten ke PT. Indonesia Minxing Fruit Tranding dan Penyerahan Bibit Durian, Selasa (31/3)

Ia menegaskan, jika Indonesia tidak mampu menjaga komitmen dan standar yang telah disepakati, maka peluang pasar tersebut bisa beralih ke negara pesaing.

“Lawan kita bukan di dalam negeri, tapi Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Kalau kita gagal menjaga kualitas dan aturan, pasar bisa pindah ke mereka,” tegasnya.

Menurutnya, keberhasilan ekspor durian sangat bergantung pada kesiapan semua pihak, mulai dari petani, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kondusivitas ekosistem bisnis durian, termasuk kepatuhan terhadap regulasi dan kesepakatan yang telah ditetapkan.

“Kita harus jaga bersama pasar ini. Jangan sampai peluang besar ini hilang karena kita tidak siap,” katanya.

Kementan berharap, peluang ekspor durian ke Tiongkok dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan petani dan menjadi sumber ekonomi berkelanjutan di daerah.

“Harapannya, manfaat ini tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga oleh generasi mendatang,” tutupnya.