Suksesi Pilrek, Ini Masukan Dua Mantan Warek Unisa

oleh
Jamaluddin Mariadjang

PALU – Suksesi Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Alkhairaat (Unisa), menarik tanggapan banyak pihak, tidak terkecuali dua mantan Wakil Rektor (Warek) di Unisa sendiri. Keduanya adalah mantan Warek Bidang Akademik, Jamaluddin Mariadjang dan Dr. Ali Karim.

Keduanya sama-sama meminta civitas akademika Unisa untuk memperhatikan dua hal, yakni setiap perguruan tinggi merupakan suatu ekosistem tersendiri, karena itu juga memiliki formasi sistem sendiri.

Para penganut teori system, kata Jamaluddin, punya kemampuan alamiah untuk memperbaharui dirinya sendiri.

Mantan Sekjen PB Alkhairaat itu berpendapat, penguatan peran setiap unsur civitas akademika di masing masing perguruan tinggi terbentuk sejak lama.

Menurutnya, institusi mengalami secara total permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan mutu dan kebutuhan penataan kelembagaan sesuai standar kualitas perguruan tinggi di Indonesia.

“Ini alasan subtansial mengapa kita harus bijaksana mengakui bahwa sumber daya internal Universitas Alkhairaat memiliki kualifikasi standar untuk menjadi rektor,” ujarnya.

Lebih khusus dia berharap, suksesi pimpinan di lingkungan Alkhairaat harus bersih dari tarikan kepentingan politik dan dominasi kekuasaan.

Dia menambahkan, setiap abna Alkhairaat yang mengerti konten moralitas, akan merasakan panggilan amanah ini langsung dari ruh pendiri Alkhairaat, sekaligus membersihkannya dari kepentingan lain.

Dia mengingatkan kepada siapapun yang memimpin Unisa, agar ke depan jangan lari dari garis perjuangan pendiri Alkhairaat.

“Saya mengingatkan, jangan ada tersirat kepentingan lain. Guru Tua senantiasa mengawal amanah yang diembankan pada kita abna Alkhairaat. Siapapun, termasuk dzurriyyatnya,” pungkasnya.

Hal senada juga diutarakan Dr. Ali Karim. Menurut mantan Dekan FKIP Unisa itu, seorang calon pemimpin di Alkhairaat datang dengan hati ikhlas untuk menerima amanah pendiri Alkhairaat, “Alalimul Allamah Sayyed Idrus Bin Salim Aljufri”.

“Sebagai wakil rektor maupun sebagai dekan waktu itu selalu mendorong dosen yayasan untuk menjadi pemimpin. Saya sendiri setelah menjabat dekan di FKIP satu periode, tongkat estafet kepemimpinan saya serahkan pada dosen yayasan, karena saya anggap mereka sudah mampu dan siap,” katanya. (IWANLAKI)

Donasi Bencana Sulbar