Inflasi di Sulteng Rendah dan Terkendali di Tengah Dampak Pandemi

oleh -
Kepala KPw BI Sulteng, M Abdul Majid Ikram, pada kegiatan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, di salah satu hotel, di Kota Palu, Rabu (24/11). (FOTO: DOK. KPw BI SULTENG)

PALU – Laju inflasi di Sulawesi Tengah (Sulteng) Tahun 2021 tercatat relatif rendah dan terkendali, di tengah dampak pandemic Covid-19.

Per Oktober 2021, inflasi di Sulteng tercatat sebesar 1,73% (yoy), lebih rendah dibandingkan Oktober 2020 yakni 2,11% (yoy).

“Meskipun tekanan inflasi menurun, namun kelompok inflasi inti yang masih meningkat mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga. Sementara itu, pergerakan kelompok volatile food masih sangat rentan dipengaruhi oleh perubahan cuaca,” ujar Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sulteng, M Abdul Majid Ikram, pada kegiatan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, di salah satu hotel, di Kota Palu, Rabu (24/11).

Terkait upaya pengendalian inflasi, lanjut dia, terkendalinya volatile foods tidak terlepas dari upaya pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dan stakeholder lainnya melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

“Dari sisi pasokan, Bank Indonesia juga terlibat dalam upaya mendorong ketersediaan pasokan komoditas lokal. Salah satunya memperluas peningkatan produktivitas klaster padi melalui replikasi metode hazton oleh Kelompok Tani Ojolali di Sigi, Kelompok Tani Semoga Jaya di Banggai dan Kelompok Tani Dewi Kunti di Parigi Moutong,” tuturnya.

Secara khusus, BI sendiri mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong yang telah mengeluarkan Surat Edaran replikasi metode hazton kepada petani padi di wilayahnya. Tentunya, kata dia, upaya pengamanan komoditas beras ini juga dapat direplikasi untuk komoditas penting lainnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, inflasi Sulawesi Tengah di 2022 optimis dapat dikendalikan pada kisaran 3±1 % (yoy). Namun, kata dia, dari sisi inflasi core, perlu diantisipasi tingginya optimisme ekspektasi terhadap tingkat pendapatan pada 2022.

“Di samping itu faktor gangguan rantai pasok global di 2021 juga berpotensi berlanjut hingga tahun 2022. Sementara itu, dari sisi volatile foods, tantangan terbesar berasal dari potensi gangguan produksi akibat masih berlangsungnya perbaikan sarana dan prasarana penunjang produksi pertanian serta adanya perubahan iklim,” ujarnya.

Kemudian pada kelompok administered price, tambahnya, risiko tekanan yang berasal dari tren kenaikan harga minyak mentah global dan kenaikan cukai rokok.

“Menghadapi tantangan yang tidak mudah tersebut, TPID perlu melakukan langkah-langkah antisipatif khususnya dalam menjaga ketersediaan stok pangan. Untuk itu sinergi menjadi kata kunci dalam mengendalikan inflasi,” pungkasnya.

Kegiatan Pertemuan Tahunan BI yang mengangkat tema “Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi untuk Pemulihan Ekonomi” tersebut dihadiri sejumlah pihak terkait, baik secara virtual, maupun hadir langsung.

Pada kesempatan tersebut, hadir mewakili Gubernur Sulteng yakni Plt. Asisten II, Dr. Rudy Dewanto beserta unsur Forkopimda dan para kepala daerah di Sulteng. (RIFAY)