Gonenggati, Namanya Diabadikan, Situsnya Diabaikan

oleh
Makam Gonenggati di Donggala. (FOTO: JAMRIN AB)

Nama Gonenggati di Kota Donggala atau di Kecamatan Banawa sangat populer. Di beberapa bangunan, namanya diabadikan sebagai penanda.

Taman Anjungan, Kawasan Perumahan di Kabonga, Lapangan Olah Raga dan Rumah Adat Kaili juga diberni nama Gonenggati.

“Tetapi sayang hanya namanya saja yang diabadikan di mana-mana. Sedangkan makamnya sebagai situs hanya diabaikan tidak dilestarikan sebagai cagar budaya. Harusnya pemerintah memiliki kepedulian soal ini agar lebih lestari,” ungkap Yurianto, tokoh pemuda Kabonga Besar, Jumat (18/09).

Yurianto bersama rekan-rekannya pegiat budaya di Kabonga Besar, beberapa kali melakukan kerja bakti di situs makam Gonenggati sekaligus memperkenalkan kawasan itu.

Menurut Yurianto, akses jalan ke kawasan di atas bukit tempat makam yang dikeramatkan itu sangat buruk. Harusnya, kata dia, pemerintah daerah memperbaiki jalan agar mudah diakses untuk kunjungan wisata sejarah dan budaya di Donggala.

Belakangan kelompok hutan lestari mangrove di Kabonga Besar juga memakai nama Gonenggati.

SIAPA GONENGGATI?

Siapa sebenarnya Gonenggati itu? Sebagian generasi muda tidak memahami tentang sosok tersebut, karena cukup lama terpendam dalam wacana budaya.

Gonenggati baru diperkenalkan kembali masa Habir Ponulele menjabat Bupati Donggala (2008-2013) diawali pencantuman gelanggang olah raga bernama yang diresmikan Menpora RI Andi Alfian Mallarangen, 12 April 2012.

Kemudian menyusul persiapan STISIP (Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan). Cuma saja rencana sekolah itu gagal karena tidak memenuhi syarat administrasi.

Dari penelusuran penulis dan informasi yang diperoleh dari beberapa sumber menyebutkan nama tersebut memiliki nilai keadatan yang luas di Wilayah Sulawesi Tengah.

“Pemberian nama Gonenggati itu telah melalui pertimbangan dan persetujuan orang-orang tua yang memahami tentang sejarah dan budaya keadatan serta lebih netral,” kata Bupati Donggala, Habir Ponulele, ketika itu (tahun 2012).

Beberapa sumber menyebutkan, tokoh Gonenggati hadir jauh sebelum lahirnya Kerajaan Banawa terbentuk. Sebaliknya, ada pula yang menyebut pada masa awal Kerajaan Banawa.

Mengacu dengan pendapat Andi Bara Lamarauna (77 tahun) salah satu putra Ruhana, Raja Banawa, menyebut Gonenggati merupakan anak pertama dari raja Banawa, I Bada Tassa, namun Gonenggati tidak berambisi menjadi raja.

Meski lazim anak sulung memiliki peluang melanjutkan tampuk kekuasan dari orang tuanya. Tetapi hal itu tidak dilakukan karena kebesaran jiwa yang dimiliki dengan memberi peluang jadi raja berikutnya adalah adik Gonenggati juga perempuan bernama I Tassa Banawa, raja kedua memerintah di Kerajaan Banawa.

Gonenggati memiliki beberapa anak setelah menikah dengan Tandelangi dari Sindue. Salah satu putrinya yang terkenal cantik, Tobelo menikah dengan putra raja dari Majapahit.

Sosoknya Gonenggati, kata Andi Bara, dikenal sangat luwes dalam pergaulan sosial dan memiliki pemahaman tentang tata pemerintahan. Selalu memberi masukan dan nasehat pada masyarakat pada zamannya. Sebagai orang bijak banyak memberi sumbangsih pemikiran yang demokratis dan cemerlang.

Pendapat lain diungkapkan Latulli Laski (76 tahun) tokoh adat di kabonga Besar.

Ia mengatakan, Gonenggati tidak pernah kawin dengan Tandelangi dan anaknya tidak bernama Tobelo sebagaimana disebutkan Andi Bara. Versi Latulli Laski, nama putri Gonenggati yang cantik itu bernama Tagelo.

Sedangkan Gonenggati itu sendiri, konon seorang Tomanuru, yaitu manusia jelmaan yang turun dari langit melalui serumpun bambu kuning atas kehendak dewata yang mengutusnya.

Dititahkan sebagai utusan dewata untuk menjadi ratu di Kanggihui yang kemudian menyatukan tujuh negeri Tanah Kaili dalam satu persaudaraan keadatan.

Versi dari Ganti, menyebutkan putri Tobelo dikenal kecantikannya itu pula membuat salah satu bangsawan dari Kerajaan Majapahit datang menemui dan melamar Tobelo sebagai istri.

Konon setelah perkawinan itu, putri Tobelo dibawa oleh suaminya dan menetap di Kerajaan Majapahit. Keterkaitan antara Tanah Kaili dengan Majapahit, hal itu dapat dilihat dari bukti-bukti artefak hasil eskavasi para arkeolog di pesisir Teluk Palu, wilayah Kabupaten Donggala tahun 1970-an dan 1980-an menunjukkan adanya temuan-temuan purbakala se-zaman Kerajaan Majapahit.

Bahkan ada banyak temuan jauh sebelumnya berupa piring dan mangkok berbahan keramik buatan Cina menunjukkan adanya hubungan dagang antarkerajaan sejak lama.

Sebagai kerajaan maritim, ketika itu Banawa sudah ramai dikunjungi pelaut-pelaut dari luar negeri maupun kerajaan-kerajaan di Nusantara untuk saling persahabatan dan perdagangan.

Menurut cerita orang-orang tua secara turun temurun, Gonenggati pada masa hidupnya pusat permukimannya dinamai Kanggihui tempat ia menjadi magau hidup makmur bersama rakyatnya. Tempat tersebut berada di sebuah bukit di Kabonga Besar, Kecamatan Banawa.

Di sana pula akhirnya Gonenggati dimakamkan yang hingga kini dikeramatkan sebagain warga. Keberadaan makam tua ini merupakan artefak sejarah dan purbakala, khazanah jejak peradaban manusia yang cukup tua di Tanah Kaili, Kabupaten Donggala.

Konon nama Gonenggati ini sejak lama melegenda hingga ke Tanah Jawa.

Reporter : Jamrin AB
Editor : Rifay

Iklan-Paramitha