PALU, MAL – Perpanjangan pembelajaran daring bagi siswa PAUD, SD, dan SMP di Kota Palu menuai beragam respons dari orang tua murid. Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Hardi, mengaku menerima puluhan pesan WhatsApp setiap hari dari orang tua yang mempertanyakan kebijakan tersebut.
Hardi mengatakan, pesan yang masuk selama dua hari terakhir hingga Senin (26/10/2026) berasal dari ibu maupun bapak. Sebagian mendukung kebijakan itu, sementara lainnya memprotes karena kesulitan mendampingi anak belajar dari rumah.
“Sudah dua hari ini saya diteror emak-emak, ada juga bapak-bapak. Setiap hari ada puluhan pesan masuk lewat WhatsApp. Mereka mempertanyakan perpanjangan daring. Macam-macam tanggapannya, ada yang suka, ada yang protes, dan ada juga yang sudah tidak mampu mendampingi anaknya karena berbagai alasan,” ujar Hardi kepada media ini, Senin (26/10/2026).
Menurut Hardi, perpanjangan pembelajaran daring yang diputuskan Wali Kota Palu Hadianto Rasyid merupakan langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan anak di tengah kondisi kualitas udara yang belum membaik akibat asap.
Ia mengatakan, pencegahan perlu dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan pada anak akibat paparan polusi udara.
“Lebih bagus mencegah daripada nanti banyak yang terkena ISPA. Kalau sudah sakit, nanti wali kotanya juga yang disalahkan. Pak wali kota ini penyayang anak-anak, makanya diberikan kebijakan daring karena kondisi cuaca benar-benar kurang bagus,” katanya.
Berdasarkan data pemantauan BMKG yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, konsentrasi partikulat halus PM1 tercatat sebesar 157 mikrogram per meter kubik (µg/m³), PM2.5 sebesar 150 µg/m³, dan PM10 mencapai 159 µg/m³.
Kondisi udara yang belum membaik hingga akhir pekan, 24–25 Oktober 2026, menjadi salah satu pertimbangan Pemerintah Kota Palu memperpanjang pembelajaran daring mulai Senin (26/10/2026) bagi siswa PAUD, SD, dan SMP.
Namun, pelaksanaan pembelajaran dari rumah juga menghadapi kendala. Sejumlah orang tua mengeluhkan keterbatasan fasilitas, termasuk tidak memiliki telepon seluler (HP) maupun akses internet untuk menunjang kegiatan belajar anak.
Menanggapi keluhan tersebut, Hardi menyarankan orang tua yang tinggal berdekatan membentuk kelompok belajar agar anak-anak dapat belajar bersama dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Ia juga meminta orang tua berkomunikasi langsung dengan guru apabila pembelajaran daring terkendala pemadaman listrik atau gangguan jaringan internet.
“Pokoknya guru tidak pernah mempersulit anak murid. Kalau saat belajar daring terjadi pemadaman listrik, silakan WhatsApp guru secara pribadi agar diketahui alasannya anak tidak bisa mengikuti pembelajaran. Guru bisa menggantinya dengan memberikan tugas,” jelasnya.
Hardi berharap orang tua memahami perpanjangan pembelajaran daring sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan anak. Di sisi lain, ia meminta komunikasi antara orang tua dan guru tetap berjalan agar kendala selama pembelajaran dari rumah dapat diatasi dan kegiatan belajar siswa tidak terhenti.
