Cara Umat Islam Menyikapi Datangnya Wabah

oleh -39 Kali Dilihat
Ilustrasi Covid-19. (PIXABAY.COM)

Virus Corona atau yang paling terkenal disebut Covid-19 telah menebarkan ancaman ketakutan.

Masyarakat panik karena virus amat berbahaya ini menyerang siapa saja, tak peduli pejabat tinggi, khalayak biasa, semua berpotensi menjadi korban.

Wabah ini bisa menjadi tolak ukur seberapa kuat akidah kita. Jika manusia gaduh dengan logika dan opini mereka, maka tidak demikian dengan orang beriman, karena mereka dididik sejak dini bahwa tidak ada sesuatu yang lepas dari kuasa Ilahi.

Maka tugas manusia hanyalah berikhtiar dan tawakal.

Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya.

Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu, Rasulullah memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut.

Beliau bersabda: Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR. Al-Bukhari).

Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular.

Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah SAW untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain.

Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasulullah membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah.

Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).

Dikutip dalam buku berjudul, Rahasia Sehat Ala Rasulullah saw.: Belajar Hidup Melalui Hadis-hadis Nabi karya Nabil Thawil, pada zaman Rasulullah saw., jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk.

Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Islam pun memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Untuk itulah Rasulullah saw. pun, misalnya, senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungannya.

Namun demikian, penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai.

Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw.  sebagaimana riwayat di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular.

Akhirnya kini, semua semakin jelas bahwa apa yang diributkan hari ini oleh manusia sejagat mengenai wabah Corona harus membuat kita makin yakin terhadap Islam. Islam sejak empat belas abad lampau telah memberi pendidikan kebersihan, kesehatan dan pencegahan penyakit lewat bingkai ibadah. Wallahu a’lam.

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)