PALU – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (PB POBSI) menyebut cabang olahraga biliar memiliki potensi besar dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), sebagaimana yang telah terjadi di sejumlah daerah lain.

“Billiard itu kalau di daerah lain adalah cabang olahraga paling banyak menghasilkan PAD. Paling tidak lapangan pekerjaan,” kata Sekjen PB POBSI, Achmad Fadil Nasution, saat melantik pengurus POBSI Sulawesi Tengah masa bakti 2025–2029, dirangkaikan dengan rapat kerja di Ballroom Santika Hotel Palu, Jalan Moh. Hatta, Kota Palu, Sabtu petang.

Ia menyampaikan keyakinannya bahwa olahraga biliar memiliki posisi strategis dibanding cabang olahraga lainnya.

“Saya yakin dan percaya, kalau ditanya di dalam satu kelas, mungkin masuk lima besar cabang olahraga billiard,” ujarnya.

Menurutnya, potensi biliar sangat besar untuk terus dikembangkan, terlebih dengan sejumlah prestasi atlet Indonesia di tingkat internasional. Ia mencontohkan capaian juara dunia junior di Austria atas nama Derin Sitorus, kemudian prestasi di Amerika oleh Albert dan Warta, serta juara Asia tahun ini yang diraih Ferdi dari Kalimantan Barat.

“Artinya apa? Event-event internasional, juaranya dari Indonesia dan orang berbeda,” katanya.

Selain aspek prestasi, ia juga menekankan pentingnya membangun citra positif olahraga biliar yang kini dinilai semakin baik.

“SEA Games lalu di Thailand, atlet putri kita meraih dua perak, satu perunggu, keduanya pakai hijab. Artinya image biliar, alhamdulillah sudah tidak seperti dulu lagi,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum POBSI Sulawesi Tengah, Andi Raharja Limbunan, menyampaikan apresiasi kepada para pelaku usaha rumah biliar yang terus berkembang dan berkontribusi terhadap PAD.

“Tantangan terbesar saat ini, kecenderungan anak-anak lebih banyak main gawai,” katanya.

Ia menilai peran orang tua penting dalam mengarahkan anak-anak pada kegiatan positif, termasuk melalui olahraga biliar yang dinilai aman dan mampu melatih konsentrasi.

“Saat ini, aktivitas biliar sangat berkembang, bahkan setiap pekan diadakan berbagai turnamen dengan hadiah beragam. Antusiasme masyarakat pun semakin tinggi. Kami juga merangkul komunitas dan pelaku usaha rumah billiard,” katanya.

Menurutnya, pengurus tidak hanya fokus pada pembinaan atlet, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan usaha rumah biliar sebagai ekosistem pendukung.

“Sebagai pengurus, kami tidak hanya fokus pada pembinaan atlet, tetapi juga keberlangsungan bisnis mereka. Jika usaha rumah billiard berkembang dengan baik, maka mereka dapat terus mencetak atlet-atlet baru,” ujarnya.

“Sebaliknya, jika usaha mereka tidak berjalan, maka pembinaan atlet juga terhambat,” pungkasnya.