PALU — Berjalan kaki ke sekolah sering kali dipandang hanya sebagai cara sederhana untuk mencapai ruang kelas. Padahal, perjalanan tersebut dapat menjadi bagian dari proses pendidikan. Di jalan menuju sekolah, anak belajar tentang disiplin, kemandirian, keselamatan, lingkungan, hingga kehidupan sosial.
Di sejumlah negara, berjalan kaki ke sekolah telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan anak. Jepang menjadi salah satu contoh yang paling dikenal. Banyak siswa sekolah dasar berjalan menuju sekolah dalam kelompok bersama teman-teman dari lingkungan tempat tinggal mereka.
Perjalanan itu membuat aktivitas pendidikan tidak selalu dimulai ketika anak memasuki gerbang sekolah. Proses belajar dapat berlangsung sejak anak meninggalkan rumah.
Anak harus mengetahui waktu keberangkatan agar tidak terlambat. Mereka belajar mengikuti rute, memperhatikan kondisi jalan, menyeberang dengan aman, serta menjaga diri dan teman selama perjalanan.
Hal-hal sederhana tersebut sebenarnya merupakan latihan tanggung jawab.
Belajar Mandiri
Ketika selalu diantar kendaraan, anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengelola perjalanan sendiri. Sebaliknya, berjalan kaki memberikan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan sederhana.
Mereka belajar menentukan kapan harus berangkat, mengenali lingkungan, memperhatikan lalu lintas, dan memahami jarak.
Kemandirian semacam itu tidak muncul secara instan. Ia terbentuk melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Karena itu, berjalan kaki ke sekolah dapat menjadi salah satu bentuk pendidikan karakter yang berlangsung secara alami.
Belajar Bersosialisasi
Berjalan kaki bersama teman juga menciptakan ruang interaksi sosial.
Anak dapat berbicara, bercanda, berdiskusi, dan saling membantu selama perjalanan. Mereka belajar memahami orang lain dan menjaga hubungan dengan teman sebaya.
Dalam perjalanan bersama, anak juga dapat belajar bahwa keselamatan kelompok membutuhkan kepedulian terhadap orang lain.
Misalnya, anak yang berjalan lebih cepat perlu menunggu temannya. Anak yang mengetahui kondisi jalan dapat mengingatkan teman lainnya. Hal sederhana seperti itu mengajarkan empati dan kerja sama.
Belajar Mengenal Lingkungan
Perjalanan dengan berjalan kaki membuat anak berinteraksi langsung dengan lingkungan.
Mereka melihat perubahan cuaca, kondisi jalan, pepohonan, aktivitas masyarakat, kendaraan, pasar, sungai, dan berbagai kehidupan di sekitar rumah.
Lingkungan sekitar akhirnya dapat menjadi ruang belajar terbuka.
Guru bahkan dapat mengembangkan pengalaman tersebut menjadi pembelajaran. Anak bisa diminta mengamati jenis tanaman yang mereka temui, menghitung jarak rumah dan sekolah, mencatat kondisi lingkungan, atau mendiskusikan persoalan kebersihan.
Dengan cara tersebut, perjalanan menuju sekolah dapat terhubung dengan pelajaran di dalam kelas.
Tubuh Ikut Belajar
Berjalan kaki juga memberikan aktivitas fisik yang masuk secara alami ke dalam rutinitas harian anak.
Anak tidak perlu menunggu pelajaran olahraga untuk bergerak. Perjalanan pergi dan pulang sekolah sudah memberikan kesempatan untuk aktif secara fisik.
Sejumlah penelitian menunjukkan perjalanan aktif seperti berjalan kaki dan bersepeda berkaitan dengan peningkatan aktivitas fisik anak.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti berjalan kaki harus dipaksakan kepada semua anak. Jarak rumah, kondisi kesehatan, cuaca, kondisi jalan, serta keamanan harus menjadi pertimbangan.
Kota Juga Harus Mendidik
Jika berjalan kaki ingin dijadikan bagian dari pendidikan, maka tanggung jawab tidak boleh dibebankan kepada anak dan orang tua saja.
Lingkungan harus dibuat aman.
Trotoar yang layak, penyeberangan yang aman, penerangan jalan, pengaturan lalu lintas, serta kawasan rendah kecepatan di sekitar sekolah menjadi bagian penting.
Sebab, anak tidak dapat belajar mandiri jika lingkungan di sekitarnya justru membahayakan.
Di sinilah konsep sekolah ramah anak dapat diperluas. Sekolah bukan hanya bangunan tempat belajar, tetapi juga lingkungan yang dimulai dari rumah hingga perjalanan menuju sekolah.
Bukan Memaksa Anak Berjalan
Gagasan berjalan kaki ke sekolah juga tidak berarti semua anak harus berjalan kaki setiap hari.
Anak yang rumahnya jauh, tinggal di daerah dengan lalu lintas berbahaya, menghadapi kondisi geografis sulit, atau memiliki kebutuhan tertentu tentu membutuhkan pilihan transportasi lain.
Yang lebih penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami perjalanan aktif ketika kondisinya memungkinkan.
Dengan pendampingan yang tepat pada usia tertentu, berjalan kaki dapat menjadi latihan kecil menuju kemandirian yang lebih besar.
Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Anak belajar ketika membaca buku, berdiskusi dengan guru, bermain bersama teman, bahkan ketika berjalan menuju sekolah.
Jika perjalanan menuju sekolah dirancang aman dan bermakna, setiap langkah anak menuju gerbang sekolah sesungguhnya dapat menjadi bagian dari proses pendidikan.
