PARIMO, MAL – Banjir kembali menerjang sejumlah desa di Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Namun, bagi delapan kepala keluarga (KK) di Desa Sibalago, persoalan bencana belum selesai sejak 2024.
Delapan KK tersebut hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian. Bahkan, satu tenda harus digunakan lebih dari satu keluarga.
Kondisi itu menjadi perhatian Bupati Parimo,H. Erwin Burase, saat meninjau wilayah terdampak banjir sekaligus menyerahkan bantuan kepada warga, Rabu (7/10).
Banjir yang terjadi pada 25 dan 27 September 2026 berdampak terhadap 191 KK yang tersebar di enam desa di Kecamatan Toribulu.
Enam desa tersebut yakni Tomoli Utara dengan 70 KK terdampak, Toribulu Selatan 35 KK, Singura 30 KK, Sibalago 25 KK, Sienjo 15 KK, dan Tomoli Selatan 16 KK.
Erwin meminta organisasi perangkat daerah (OPD), terutama Dinas Pekerjaan Umum dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), segera memetakan titik-titik yang menjadi penyebab banjir.
Menurutnya, penanganan bencana tidak boleh hanya berhenti pada pemberian bantuan setelah banjir terjadi. Pemerintah perlu mencari sumber persoalan agar bencana serupa tidak terus berulang.
“Banjir di wilayah kita terjadi berulang-ulang. Ini yang harus kita antisipasi bersama agar kejadian seperti ini tidak terus terjadi dan masyarakat tidak menjadi korban,” ungkap Erwin.
Saat meninjau Desa Sibalago, Erwin mendapati delapan KK masih menempati lokasi pengungsian sejak bencana 2024.
Kondisi tersebut dinilai membutuhkan penanganan segera, terutama terkait tempat tinggal, kesehatan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya.
Pemerintah dalam kunjungan tersebut menyerahkan bantuan berupa sembako, tenda dan sarung kepada warga terdampak.
Pemerintah juga menyediakan mesin pompa air untuk mendukung kebutuhan air bersih masyarakat di lokasi pengungsian.
Bantuan sembako tersebut merupakan dukungan pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Erwin juga berdialog langsung dengan warga dan menerima laporan mengenai adanya warga yang sedang sakit.
Ia meminta aspek kesehatan dan kebersihan tetap menjadi perhatian selama warga masih berada di lokasi pengungsian.
Untuk mengakhiri ketergantungan warga Sibalago terhadap pengungsian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah disebut akan membantu pembangunan rumah permanen.
Sementara Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong telah menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan berukuran 37 x 40 meter yang akan digunakan sebagai lokasi hunian.
Menurut Erwin, pembangunan rumah permanen tersebut akan ditindaklanjuti melalui proses tender.
“Pemerintah provinsi membantu pembangunan rumah permanen, sementara pemerintah kabupaten sudah menyiapkan lahannya. Kita berharap prosesnya dapat segera berjalan,” ujarnya.
Pemerintah berharap pembangunan hunian permanen tersebut dapat segera direalisasikan sehingga delapan KK yang masih bertahan di pengungsian sejak 2024 memiliki tempat tinggal yang lebih layak.
Selain banjir, Erwin mengingatkan masyarakat mengenai potensi bencana lain, terutama kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan.
Menurutnya, kondisi cuaca di Parigi Moutong tidak seragam. Sejumlah wilayah menghadapi hujan lebat, sementara wilayah lainnya masih mengalami kekeringan dan keterbatasan air bersih.
Karena itu, edukasi dan mitigasi bencana dinilai perlu diperkuat hingga tingkat masyarakat dan sekolah.
Erwin juga meminta keselamatan kelompok rentan menjadi prioritas ketika bencana terjadi, terutama anak-anak, lanjut usia, ibu-ibu, dan kelompok masyarakat lainnya yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia mengapresiasi relawan, BPBD, pemerintah desa, camat, serta masyarakat yang turut terlibat dalam penanganan bencana di Toribulu.
Pemkab Parimo berharap penanganan di wilayah tersebut, khususnya bagi warga Sibalago yang masih mengungsi, dapat segera menghasilkan solusi permanen. *
