ISLAM mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh, termasuk soal pakaian. Selain berfungsi menutup tubuh, pakaian juga dapat merupakan pernyataan lambang status seseorang dalam masyarakat.

Sebab berpakaian ternyata merupakan perwujudan dari sifat dasar manusia yang mempunyai rasa malusehingga berusaha selalu menutupi tubuhnya

Dalam ajaran Islam, pakaian bukan semata-mata masalah budaya dan mode. Islam menetapkan batasan-batasan tertentu untuk laki-laki maupun perempuan.

Khusus untuk muslimah, memiliki pakaian khusus yang menunjukkan jatidirinya sebagai seorang muslimah. Bila pakaian adat umumnya bersifat lokal, maka pakaian muslimah bersifat universal. Dalam arti dapat dipakai oleh muslimah di manapun ia berada.

Lantaran itulah pakaian merupakan sesuatu yang paling penting dan terlihat dalam penampilan seseorang. Dr Quraish Shihab, pakar tafsir Alquran, dalam bukunya, Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Quran, menyimpulkan bahwa setidaknya ada empat fungsi pakaian d alam Islam.

Pertama, berfungsi sebagai penutup aurat (QS al-A’raf [7]:6). Pakaian yang dikenakan se seorang haruslah dapat menutupi aurat seseorang. Karena itu, bila seseorang ber pakaian, tetapi auratnya masih ter buka maka ia dikatakan tidak berpakaian.

Kedua, sebagai perhiasan (QS al-A’raf [7]:26). Seseorang tidak dilarang menggunakan pakaian yang indah dan bagus asalkan tidak menyalahi aturan.

Ketiga, pakaian berfungsi sebagai pelindung dari sengatan panas dan cuaca dingin (QS an-Nahl [16]:81).

Keempat, berfungsi untuk menunjukkan identitas yang membedakan seseorang atau kelompok yang dengan lainnya (QS al-Ahzab [33]:59).

Pakaian merupakan bentuk anugerah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dalam perkembangannya, kita melihat bahwa pakaian merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari kepribadian seorang manusia. Bahkan, pepatah Jawa mengatakan, Ajining sarira gumantung ana busana.

Maksudnya, harga diri Anda bergantung pada pakaian. Seringkali status sosial, bahkan kadar keimanan seseorang diperlihatkan dari cara dia berpakaian.

Namun, tampaknya masih banyak di antara kita yang belum memahami dan menghayati fungsi pakaian, terutama sebagai identitas pembeda antara kelompok yang satu dan lainnya.

Saat ini, tak sedikit orang yang tampak luarnya sangat baik dan berakhlak mulia, tapi di lubuk hatinya dia terlibat dalam perbuatan tak terpuji seperti mencuri uang Negara. Mereka tampak seperti seorang Muslim yang saleh dan salihah dengan baju koko dan kerudung. Padahal, itu semua hanya sebagai topeng pencitraan dan menutupi aib luarnya.

Lihatlah sejumlah pelaku korupsi yang telah dan sedang di sidangkan. Mereka berlomba-lomba bersembunyi di balik pakaian luar. Mereka menutupi di rinya dengan busana Muslim, baik dengan baju koko maupun ko piah atau kerudung seka lipun. Mereka berkamuflase untuk mencari perlindungan.

Tetapi, apa pun yang mereka tutupi itu, kenyataannya mereka adalah pelaku tindak pidana.

Sebagai umat Islam, kita dilarang menghakimi niat seseorang. Yang bisa kita lakukan hanyalah menilai apa yang tampak dari seseorang. Tetapi, kita bertanya manakala pa kaian yang digunakan ber tolak belakang dengan peri laku yang ditampilkan.

Sejatinya, pakaian adalah cerminan dari kepribadian dan keyakinan seseorang, bukan alat menutupi kesalahan dan keburukan.

Demikian penjelasan mengenai adab berpakain di dalam islam. Semoga setelah kita faham , maka kita dapat mempraktekannya dalam kehidupan sehari – hari kita serta dapat berpakaian sesuai dengan adab berpakain yang di atur di dalam agama Islam.

Dan semoga semua kesalahan kita yang terdahulu mengenai berpakaian dapat di ampuni oleh Allah swt. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)