TEHERAN, MAL – Iran mengajukan enam persyaratan untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS). Teheran menyampaikan tuntutan tersebut melalui Qatar sebagai mediator, di tengah ketegangan militer yang belum mereda.
Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan persyaratan itu dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Sabtu (10/10). Ia menegaskan Iran membuka peluang negosiasi, tetapi tidak akan mengendurkan sikapnya dalam menghadapi AS.
Rezaei bahkan menyatakan kemampuan militer Iran saat ini lebih kuat dibandingkan pada 40 hari pertama perang, yang pecah pada akhir Februari setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
“Kami akan menghadapi Amerika dengan kekuatan yang lebih besar, serta melancarkan serangan yang lebih banyak dan lebih menyakitkan,” kata Rezaei.
Dalam wawancara tersebut, Rezaei memaparkan enam persyaratan yang diajukan Teheran untuk mengakhiri konflik.
Pertama, mengakhiri perang di seluruh front, terutama di Lebanon. Kedua, membebaskan miliaran dolar AS dana Iran yang dibekukan.
Ketiga, mengakhiri blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Keempat, menghentikan campur tangan AS dalam urusan dalam negeri Iran.
Kelima, mengakhiri kerja sama AS dengan pihak-pihak yang disebut Teheran menentang revolusi Iran. Keenam, menghentikan seluruh serangan AS terhadap wilayah Iran.
Rezaei menilai Washington seharusnya menerima persyaratan tersebut dan memperingatkan bahwa ancaman Presiden AS Donald Trump tidak akan membuat Iran menyerah.
“Kepentingan Washington adalah menerima persyaratan ini. Ancaman Trump tidak akan membuahkan hasil apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa jalur diplomasi masih dibuka, tetapi Iran tetap mempertahankan ancaman untuk meningkatkan serangan jika konfrontasi berlanjut.
