PALU, MAL – Kabut asap masih menyelimuti Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Jarak pandang yang sempat turun hingga lima kilometer berangsur membaik menjadi tujuh sampai delapan kilometer dalam dua hari terakhir, sementara operasional penerbangan di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri masih berjalan normal.

Kondisi kualitas udara Palu sempat memburuk pada awal Oktober. Data Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mencatat konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 206 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Senin, 5 Oktober 2026.

Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat dan jauh melampaui ambang sehat PM2.5 sebesar 15,5 µg/m³. Sehari sebelumnya, Minggu, 4 Oktober 2026, konsentrasi PM2.5 tercatat 132 µg/m³, yang juga masuk kategori tidak sehat.

Kepala SPAG Lore Lindu Bariri-Poso, BMKG, Asep Firman Ilahi mengatakan, hasil pengukuran pada 5 Oktober menunjukkan peningkatan konsentrasi PM2.5 dibandingkan hari sebelumnya.

“Pengukuran yang kami lakukan kemarin menunjukkan indikator PM 2,5 ada di angka 206 mikrogram dari sebelumnya 132. Ini sudah sangat jauh melampaui angka normal atau sehat, yakni 15,5 mikrogram,” kata Asep.

Selain PM2.5, konsentrasi PM10 pada 5 Oktober mencapai 210 µg/m³, masuk kategori tidak sehat. Pada 4 Oktober, konsentrasi PM10 tercatat 130 µg/m³, sedangkan PM1 mencapai 125 µg/m³. Sehari kemudian, PM1 meningkat menjadi 189 µg/m³.

Asep menjelaskan, sebaran asap yang menyelimuti Palu berkaitan dengan pergerakan angin yang membawa asap dari sejumlah wilayah. Sumber asap yang disebutnya meliputi Kalimantan, Morowali, Sulawesi Barat, Papua, dan Maluku.

“Berdasarkan arah angin, saat pagi asapnya dari Kalimantan, siangnya dari Morowali dan Sulawesi Barat. Belum lagi dari Papua dan Maluku. Pada tanggal 1, 2, dan 3 (Oktober 2026) kemarin paling masif dari Papua bagian selatan. Jadi, kondisi Palu ini dikepung asap,” ujarnya.

Sementara itu, Pengamat Meteorologi Stasiun Meteorologi Mutiara SIS Al-Jufri, Palu, Farhan mengatakan, jarak pandang di wilayah tersebut sempat turun hingga lima kilometer akibat sebaran asap. Namun, dalam dua hari terakhir, jarak pandang berangsur membaik menjadi tujuh sampai delapan kilometer.

“Sejauh ini masih normal penerbangan,” kata Farhan.

BMKG tetap memantau perubahan cuaca dan jarak pandang untuk mendukung keselamatan operasional penerbangan. Informasi cuaca permukaan dan jarak pandang diperbarui setiap 30 menit kepada petugas pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC).

Meski jarak pandang membaik, kabut atau asap masih diprakirakan terjadi di Palu pada Sabtu, 10 Oktober 2026. BMKG juga memperkirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah, termasuk Palu.

Di tengah kondisi tersebut, PT Citra Palu Minerals (CPM) menyalurkan 700 dus masker dan poster edukasi kesehatan kepada siswa dan guru di 33 sekolah di Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Bantuan itu ditujukan untuk membantu melindungi pelajar dari dampak kabut asap.

Di sisi lain, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Sulawesi Tengah mendesak pemerintah segera menyediakan perlindungan kesehatan bagi masyarakat menyusul memburuknya kualitas udara di Palu.

Data konsentrasi PM2.5 sebesar 206 µg/m³ tersebut merupakan hasil pengukuran pada 5 Oktober 2026. Angka itu tidak menggambarkan secara langsung kondisi kualitas udara pada 10 Oktober. Data pengukuran terbaru dan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Palu pada tanggal tersebut belum tersedia dalam bahan yang diberikan.