PALU,MAL – Universitas Tadulako (Untad) menggandeng PT Vale Indonesia Tbk untuk memperkuat upaya rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sulawesi Tengah. Kolaborasi tersebut sekaligus mendorong kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi living laboratory bagi pendidikan, penelitian dan pengembangan inovasi kehutanan.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Ruang Rektor Untad, Jumat (18/9).
Rehabilitasi DAS menjadi salah satu implementasi utama kerja sama Untad dan PT Vale. Program tersebut mencakup verifikasi lokasi, sosialisasi, penyusunan rencana kegiatan penanaman, pengawasan teknis, penilaian kuantitas dan kualitas tanaman, geotagging, hingga persiapan serah terima tanaman.
Rektor Untad Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., mengatakan kerja sama tersebut tidak boleh berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi harus menghasilkan komitmen nyata dalam pemulihan dan perlindungan lingkungan.
“Penandatanganan PKS ini sebenarnya bukan sekadar kerja sama administratif. Harapan kita tentunya ada komitmen nyata untuk memulihkan dan menjaga lingkungan Sulawesi Tengah,” ujar Amar.
Menurutnya, kawasan Tahura Sulteng yang menjadi bagian dari program rehabilitasi memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh sebagai hutan akademik Fakultas Kehutanan Untad.
Konsep tersebut memungkinkan kawasan rehabilitasi tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dan dosen dalam kegiatan pendidikan, penelitian serta pengembangan inovasi kehutanan.
“Harapan kita nanti ini bisa menjadi hutan akademik dari Fakultas Kehutanan Untad untuk dikelola. Ini juga bisa menjadi living laboratory atau legacy bagi pendidikan, penelitian, dan pengembangan inovasi kehutanan,” jelasnya.
Amar menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi DAS tidak cukup diukur dari luas lahan yang ditanami. Kondisi tanaman setelah penanaman juga menjadi perhatian penting, terutama kemampuan tanaman untuk tumbuh, bertahan dan menjalankan fungsi ekologisnya.
Karena itu, aspek pemeliharaan, monitoring, kualitas bibit dan tingkat keberhasilan tanaman menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.
Sementara itu, Head of External Relations Regional & Growth dan Head of HSOR PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma, mengatakan kerja sama dengan Untad memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan rehabilitasi DAS.
MoU tersebut menjadi payung kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat serta bidang lainnya yang dapat dikembangkan bersama.
“MoU ini tidak hanya terbatas pada rehabilitasi DAS. Kerja sama ini mencakup pengembangan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta bidang-bidang lainnya,” ujar Endra.
Ia menyebut PT Vale juga membuka peluang pengembangan kerja sama dalam bidang penelitian dan pemberdayaan masyarakat. Sejumlah program perusahaan, kata dia, membutuhkan dukungan riset dari perguruan tinggi, termasuk pada bidang pertanian, peternakan dan lingkungan.
“Kami menyadari bahwa kami tidak bisa berdiri sendiri. Kami merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tentunya membutuhkan dukungan dari rekan-rekan di dunia akademik, terutama universitas,” katanya.
Mewakili Dekan Fakultas Kehutanan Untad, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Ir. Sudirman, S.Hut., M.Sc., menyatakan kesiapan Fakultas Kehutanan menjalankan amanah kerja sama tersebut.
Ia menjelaskan, pelaksanaan PKS sebelumnya berkaitan dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untad. Namun, karena substansi program berkaitan erat dengan lingkungan dan kehutanan, pelaksanaannya kemudian diamanahkan kepada Fakultas Kehutanan.
“Karena ini sifatnya mandat, kami dari Fakultas Kehutanan dengan sepenuh hati bersedia untuk melaksanakan kegiatan ini, meskipun tentu ada beberapa tantangan yang harus kita hadapi,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, PT Vale Indonesia Tbk diwakili Endra Kusuma, Head of External Relations Regional & Growth dan Head of HSOR; Febrin Sitorus, Environment & Sustainability Risk Operations; serta Charles Andrianto, Project Manager Watershed Rehabilitation PT Vale Indonesia Tbk. *
