PALU, MAL — Program Fasilitator Berani Mombangu memasuki tahapan pendekatan sosial kepada masyarakat. Di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, tim fasilitator memilih Kelurahan Boneoge dan Kelurahan Kabonga Kecil sebagai wilayah pilot project pengembangan sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), serta potensi wisata.

Koordinator Kecamatan Banawa, Aspandi, mengatakan pemilihan dua kelurahan tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan program dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.

Sejumlah program disiapkan, di antaranya bakti sosial lingkungan bersama masyarakat, membantu pelayanan posyandu, pengadaan apotek hidup, pengaktifan organisasi kepemudaan, serta pendampingan legalitas potensi wisata.

Selain kegiatan tersebut, tim fasilitator menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai wadah menyerap aspirasi, persoalan dan masukan dari masyarakat, pemuda serta tokoh masyarakat.

“FGD ini diharapkan menjadi wadah bersama untuk duduk berdiskusi mengenai berbagai permasalahan di wilayah tersebut, baik terkait potensi wisata, peran kepemudaan maupun hal-hal lain yang perlu kami sampaikan kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah,” kata Aspandi, Ahad (20/9) siang.

Menurutnya, seluruh program yang dijalankan diarahkan agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Boneoge dan Kabonga Kecil.

Sekretaris Lurah Boneoge Moh. Ikbal menyambut positif pelaksanaan FGD tersebut. Ikbal mengatakan kegiatan itu dapat mempererat komunikasi antara pemerintah kelurahan dan masyarakat, termasuk tokoh masyarakat maupun kalangan pemuda.

“Forum ini diharapkan bisa menjadi wadah komunikasi baru untuk bertukar pikiran sekaligus membantu kerja-kerja pemerintahan di tingkat kelurahan,” katanya.

Terpisah, Lurah Kabonga Kecil Dirham turut memberi dukungan dan apresiasi karena dipilihnya Kabonga Kecil sebagai salah satu wilayah pilot project di Kecamatan Banawa.

Ia mengatakan kegiatan FGD menjadi ruang bagi pemerintah kelurahan untuk menyampaikan gagasan, termasuk rencana pengembangan wisata lokal kepada generasi muda.

“Walaupun mati lampu, kita masih bisa duduk bersama berdiskusi mengenai permasalahan yang ada. Saya juga bisa menyampaikan maksud dan tujuan saya dalam pengembangan wisata lokal kepada anak-anak muda,” pungkasnya.