PALU, MAL – Harga Bitcoin (BTC) bertahan di kisaran US$78.000 pada awal September 2026 setelah mencatat reli hampir 25 persen sepanjang Agustus. Di saat yang sama, token Arbitrum (ARB) melonjak hampir 30 persen dalam 24 jam ke kisaran US$0,11-US$0,12, didorong peningkatan aktivitas dan pendapatan Robinhood Chain yang menggunakan teknologi Arbitrum.

Bitcoin sebelumnya mencapai level sekitar US$81.428 pada akhir Agustus. Memasuki September, BTC terkoreksi sekitar 0,4-1 persen sejak tengah malam UTC dan bergerak di sekitar US$78.000.

Kenaikan Bitcoin pada Agustus tercatat hampir 25 persen dan menjadi performa Agustus terbaik dalam sembilan tahun. Reli tersebut membawa BTC dari bawah US$63.000 ke level mendekati US$81.400 sebelum memasuki fase konsolidasi.

Dalam kondisi tersebut, US$75.000 dan US$72.000 menjadi level support yang diperhatikan pasar, sedangkan US$82.000 menjadi resistance utama. Arus masuk dana kripto sekitar US$3,2 miliar pada pekan sebelumnya turut mendukung Bitcoin bertahan di atas US$78.000.

Tekanan terhadap Bitcoin datang dari kondisi makroekonomi Amerika Serikat. Pasar memperkirakan probabilitas 66 persen kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September 2026. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di 4,784 persen.

Berbeda dengan Bitcoin yang bergerak relatif terbatas, ARB mengalami lonjakan tajam. Dalam 24 jam hingga 1 September 2026, harga ARB naik hampir 30 persen dari sekitar US$0,085 menuju kisaran US$0,11-US$0,12. Dalam tujuh hari, ARB naik lebih dari 15 persen, sedangkan dalam dua pekan kenaikannya sekitar 45 persen.

Penguatan ARB terjadi bersamaan dengan lonjakan aktivitas Robinhood Chain. Jaringan layer-2 Ethereum tersebut diluncurkan oleh platform perdagangan Robinhood pada 1 Juli 2026 dan dibangun menggunakan teknologi Arbitrum.

Robinhood Chain mencatat pendapatan protokol sekitar US$1,92 juta dalam periode 24 jam. Dalam 30 hari, pendapatan protokol mencapai sekitar US$5,92 juta, dengan lebih dari dua pertiganya diperoleh dalam sepekan terakhir.

Angka sekitar US$2,66 juta yang juga tercatat dalam periode 24 jam merupakan pendapatan aplikasi di Robinhood Chain, bukan pendapatan protokol jaringan. Nilai tersebut menempatkan aktivitas aplikasi Robinhood Chain di bawah Solana yang mencatat sekitar US$5,07 juta, tetapi di atas Ethereum dan Base dalam periode yang sama.

Aktivitas jaringan juga mencatat rekor pada 30 Agustus 2026 dengan 5,52 juta transaksi. Volume perdagangan di decentralized exchange (DEX) mencapai sekitar US$875 juta.

Sebagian besar pendapatan aplikasi tersebut berasal dari aktivitas perdagangan memecoin. Pons dan GMGN menyumbang hampir US$2 juta, sementara Uniswap menghasilkan sekitar US$307.000. Ketiga aplikasi tersebut menyumbang sekitar 88 persen dari total pendapatan aplikasi.

Kinerja Robinhood Chain berkaitan langsung dengan ekosistem Arbitrum melalui Arbitrum Expansion Program. Berdasarkan skema tersebut, jaringan yang dibangun menggunakan Arbitrum stack dan melakukan settlement ke parent chain selain Arbitrum One atau Nova membayarkan 10 persen dari laba bersih protokol kepada ekosistem Arbitrum.

Dari alokasi tersebut, 8 persen masuk ke kas ArbitrumDAO dan 2 persen dialokasikan kepada Arbitrum Developer Guild. Lebih dari 30 jaringan Arbitrum yang melakukan settlement di luar Arbitrum One disebut menggunakan model pendapatan serupa.

Peningkatan aktivitas Robinhood Chain kemudian mendorong perhatian pasar terhadap potensi aliran pendapatan ke ekosistem Arbitrum. Pada saat yang sama, open interest derivatif ARB meningkat hingga sekitar US$88 juta dan likuidasi posisi short turut menambah tekanan beli.

Namun, ARB juga menghadapi agenda pelepasan token. Pada 23 September 2026, sebanyak 139,15 juta ARB dijadwalkan dibuka, setara sekitar 1,4 persen dari total pasokan dan sekitar 2 persen dari kapitalisasi pasar saat itu.

Dari jumlah tersebut, sekitar 53,8 persen dialokasikan kepada pihak internal, 35 persen kepada investor privat, dan 11,2 persen kepada Arbitrum Foundation.

Sementara itu, Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi setelah reli besar pada Agustus. Pergerakan harga selanjutnya akan berhadapan dengan level resistance sekitar US$82.000 serta support di US$75.000 dan US$72.000, sementara kondisi suku bunga dan imbal hasil obligasi AS tetap menjadi faktor yang memengaruhi aset berisiko.