PALU, MAL – Realisasi investasi di Sulawesi Tengah pada semester I tahun 2026 mencapai Rp68,70 triliun. Capaian tersebut tumbuh 6,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp64,22 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah, Moh. Rifani Pakamundi, mengatakan realisasi investasi semester I 2026 telah mencapai 73,17 persen dari target investasi sepanjang tahun 2026 sebesar Rp93,89 triliun.

“Nilai tersebut tumbuh 6,97 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 lalu yakni sebesar Rp64,22 triliun,” kata Rifani kepada MAL, Selasa (1/9).

Ia menjelaskan capaian tersebut menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk mengejar sisa target investasi pada semester II tahun 2026.

“Pada Semester II target sudah tercapai, kita akan mengejar 30 persennya lagi,” ujarnya.

Rifani mengungkapkan, pencapaian investasi itu menempatkan Sulawesi Tengah pada peringkat keempat nasional dalam realisasi investasi secara keseluruhan. Selain itu, Sulawesi Tengah juga tercatat sebagai provinsi dengan realisasi hilirisasi terbesar di Indonesia.

“Alhamdulillah, selain berada pada peringkat keempat secara nasional, Sulteng juga termasuk provinsi dengan realisasi hilirisasi terbesar di Indonesia, yakni Rp56,1 triliun atau 18,7 persen dari total realisasi hilirisasi nasional,” ungkapnya.

Dari total realisasi investasi semester I 2026, Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi dengan nilai Rp64,73 triliun atau 94,23 persen dari total investasi. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp3,96 triliun atau 5,77 persen.

Berdasarkan sektor usaha, industri logam dasar dan barang logam menjadi penyumbang investasi terbesar dengan realisasi Rp51,45 triliun atau 74,90 persen dari total investasi. Selanjutnya industri kimia dan farmasi sebesar Rp4,49 triliun, sektor listrik, gas dan air Rp4,43 triliun, serta pertambangan Rp2,80 triliun.

“Industri logam dasar masih menjadi sektor yang tertinggi dan yang paling dominan menyumbang terkait realisasi investasi pada semester ini,” kata Rifani.

Meski demikian, pertumbuhan investasi tidak hanya ditopang sektor industri logam dasar. Sektor listrik, gas dan air mencatat lonjakan tertinggi, yakni sebesar 414,8 persen dibandingkan semester I 2025, dengan nilai investasi mencapai Rp4,43 triliun.

Rifani mengatakan investasi pada sektor listrik, gas dan air tersebut berada di Kabupaten Morowali sebagai infrastruktur pendukung kawasan industri.