PALU, MAL– Lahan suboptimal yang selama ini dipandang sebagai lahan dengan keterbatasan justru dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi lahan produktif.
Karena itu, pengelolaan lahan harus dilakukan dengan pendekatan yang sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Nasional Pengelolaan dan Pemanfaatan Lahan Suboptimal yang digelar SEAMEO BIOTROP bersama Universitas Tadulako (Untad) di Laboratorium Terpadu Untad, Palu, Selasa (1/9).
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, 1–3 September 2026, tersebut diikuti 34 peserta yang terdiri dari guru SMK, dosen serta perwakilan instansi pemerintahan.
Deputi Direktur Bidang Program SEAMEO BIOTROP, Dr. rer. nat. Doni Yusri, S.P., M.M., mengatakan Indonesia memiliki sekitar 70 juta hektare lahan suboptimal yang masih menyimpan potensi untuk dimanfaatkan.
Menurutnya, persoalan utama bukan semata-mata pada kondisi lahannya, tetapi bagaimana lahan tersebut dikelola berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah.
“Dari 70-an juta hektare lahan suboptimal di Indonesia, sebagian besar berpotensi produktif jika dikelola tepat, namun bisa memicu bencana bila diabaikan,” kata Doni.
Ia menjelaskan, pendekatan pengelolaan tidak dapat disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik lahan yang berbeda, mulai dari lahan basah, lahan kering, lahan lereng hingga lahan gambut.
Karena itu, peserta pelatihan diberikan pemahaman mengenai berbagai metode pengelolaan lahan yang dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, termasuk pemanfaatannya di lingkungan sekolah.
SEAMEO BIOTROP juga menempatkan guru SMK sebagai salah satu sasaran strategis. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi diteruskan kepada siswa dan masyarakat.
“Pendekatannya disesuaikan dengan karakteristik lahan masing-masing daerah,” ujarnya.
Doni mengatakan program tersebut merupakan bagian dari flagship program SEAMEO BIOTROP 2026. Sebelum dilaksanakan di Palu, pelatihan serupa telah digelar di Universitas Bengkulu pada Mei 2026 dan Universitas Palangka Raya pada Juli 2026.
Program tersebut juga dirancang berkelanjutan. Setelah pelatihan, SEAMEO BIOTROP akan melakukan monitoring terhadap sekolah-sekolah yang menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan.
Sekolah yang dinilai berhasil nantinya berpeluang dikembangkan menjadi lokasi percontohan pemberdayaan lingkungan bersama masyarakat melalui kolaborasi dengan Untad.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Untad, Dr. sc. agr. Aiyen Tjoa, menyatakan kesiapan Untad untuk mendukung tindak lanjut program tersebut.
Dukungan juga disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Syam Zaini, M.Si., S.Pd. Ia mengapresiasi pelaksanaan pelatihan dan mendorong para guru mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara serius.
Selama 32 jam pelatihan, peserta mendapatkan lima materi utama, yakni konservasi dasar lahan suboptimal termasuk biopori, identifikasi air dan tanah tercemar, identifikasi gulma sebagai bio-indikator, teknik berkebun adaptif, serta pembuatan kompos dan pupuk hayati.
Hari pertama diisi dengan pembelajaran teori, sedangkan hari kedua dan ketiga diarahkan pada praktik lapangan. Materi disampaikan narasumber dari SEAMEO BIOTROP, Untad, PKR Mikroba Karst Universitas Hasanuddin dan IPB University, baik secara luring maupun daring.
Sebagai bagian dari upaya memastikan pelatihan memiliki dampak nyata, setiap peserta diwajibkan menyusun action plan sebagai rencana tindak lanjut penerapan materi di lingkungan masing-masing.
Dengan demikian, pelatihan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas peserta, tetapi juga mendorong lahirnya praktik pengelolaan lahan suboptimal yang dapat diterapkan secara langsung di sekolah maupun masyarakat.
