Sejenak mari renungkan makna kehadiran kita di dunia ini. Dalam penghayatan itu, manusia hadir di dunia benar-benar hanya sesaat saja, seperti sekejap mata jika dibandingkan dengan usia bumi yang sudah sangat tua. Ibarat matahari yang tampak terbit dan tenggelam, begitulah perjalanan hidup manusia di dunia ini.

Yang membedakannya, matahari terbit dan tenggelam, kemudian terbit lagi dan tenggelam lagi, dan seterusnya. Sementara seorang manusia terbit dan tenggelam, kemudian tidak akan pernah terbit lagi untuk selamanya.

Kehidupan yang sesaat diberikan oleh Tuhan kepada manusia tidak lain agar manusia bisa memberikan pengabdian terbaik kepada-Nya, kepada sesama manusia, dan seluruh alam sehingga manusia tersebut benar-benar menjadi orang yang bermanfaat. Sebagian lahir dengan mengikuti kodrat alamiah manusia sebagai pengabdi untuk membuat kehidupan di bumi menjadi lebih baik.

Sementara sebagian manusia hidup di dunia ini dalam kondisi tidak kreatif; lahir, menjalani kehidupan, kemudian meninggal dunia, berlalu seperti debu yang tertiup angin di musim panas. Kehadiran dan ketidakhadirannya di dunia tidak memberikan pengaruh apa-apa, dan inilah kebanyakan manusia.

Semua ini bisa jadi membuat seseorang melupakan adanya akhirat; ya’lamuuna zhaahiran minal-hayaatid dun-yaa wa hum ‘anil-aakhirati hum ghaafiluun, mereka hanya mengetahui lahiriah kehidupan dunia, sedangkan tentang akhirat mereka lalai (QS Ar-Rum: 7).

Mereka mengira hidup hanya di dunia ini. Bila sudah mati akan menjadi tanah. Mereka pun memperebutkan dunia, tanpa memahami untuk apa sebenarnya kehidupan itu.

Ibrah semacam ini sejak dulu sudah ada. Seorang musyrik Makkah datang membawa sepotong tulang yang sudah rapuh menemui Nabi Muhammad SAW seraya bertanya, siapakah yang dapat menghidupkan tulang yang sudah hancur luluh? Allah menurunkan wahyu-Nya: “Katakanlah (wahai Muhammad), ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama” (QS Yasin: 78-79).

Akhirat (al-akhirah dalam bahasa Arab) adalah kehidupan alam baka. Utsman bin Affan menangis ketika melihat kubur. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa kubur adalah awal akhirat. Siapa yang selamat darinya, maka setelah itu segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Namun bila tidak, maka peristiwa sesudahnya akan jauh lebih dahsyat dan mengerikan.

Pendapat lain menyebutkan bahwa akhirat dimulai setelah kiamat, ketika manusia dibangkitkan dari kubur. Kubur hanyalah barzah atau tempat penantian sementara. Kedua pendapat tersebut pada akhirnya bermuara pada hal yang sama, yaitu masuknya ahli surga ke surga dan ahli neraka ke neraka.

Beragam peristiwa akhirat yang akan dihadapi manusia telah diberitakan dalam Al-Qur’an dan hadis. Kita wajib mempercayainya meskipun bersifat gaib dan tidak dapat dijangkau oleh pancaindra manusia. Di antaranya adalah kebangkitan dari kubur dan dikumpulkannya seluruh manusia di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan iktikad dan amal perbuatannya di hadapan Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa tidak akan bergeser sedikit pun kaki seseorang dari mahkamah Allah hingga ia menyelesaikan pertanggungjawabannya tentang umur yang dihabiskan, ilmu yang diamalkan, harta yang diperoleh dan digunakan, serta tubuh yang dimanfaatkan untuk apa (HR Tirmidzi).

Dalam kehidupan yang sangat singkat ini, mari kita renungkan dengan sungguh-sungguh apa yang telah kita lakukan di dunia. Apakah telah sesuai dengan tujuan penciptaan sebagai pengabdi yang memberikan manfaat bagi sesama dan seluruh makhluk, atau justru keluar dari tujuan tersebut dengan menebarkan kerusakan dan kehancuran.

Semoga kita termasuk manusia yang kehadirannya di dunia yang singkat ini mampu memberikan warna indah bagi kehidupan dan isinya. Sehingga ketika kembali ke hadirat-Nya, kita disambut oleh Allah dengan penuh keridhaan karena telah menunaikan tugas sebagai penyebar kebaikan di muka bumi. Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)