POSO, MAL – Budi daya madu trigona di Tamenjeka, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dikembangkan bukan semata sebagai usaha ekonomi, tetapi juga sebagai ruang membangun kembali kepercayaan dan hubungan sosial masyarakat.

Pendekatan tersebut dijalankan melalui pendampingan reintegrasi sosial oleh Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) Sulteng.

Direktur LPMS Sulteng, Endriati Nur, mengatakan pengembangan kelompok madu trigona Proposoku diarahkan agar masyarakat memiliki kegiatan produktif yang sekaligus menjaga lingkungan.

“Budi daya trigona ini bukan hanya soal menghasilkan madu. Ada proses membangun kebersamaan, kepercayaan, dan kemandirian masyarakat,” kata Endriati, Rabu (27/08).

Menurut dia, lebah trigona dipilih karena relatif sesuai dikembangkan masyarakat sekaligus mendorong kepedulian terhadap kelestarian alam.

“Pendampingan kami lakukan bertahap melalui penguatan kelompok usaha di Tamenjeka,” ucapnya.

Kelompok Madu Trigona Proposoku juga mendapat kunjungan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Poso bersama Tim Kantor Perbendaharaan Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah dan KPPN Poso. Mereka berdialog langsung mengenai perkembangan usaha serta peluang kemitraan.

Endriati menilai penguatan usaha perlu dilanjutkan melalui peningkatan kapasitas, kelembagaan, pengemasan, pemasaran, dan perluasan jejaring.

“Kami berharap, kelompok ini terus tumbuh dan menjadi contoh bahwa reintegrasi sosial bisa berjalan bersama dengan penguatan ekonomi dan pelestarian lingkungan,” tukasnya.

Bagi masyarakat Tamenjeka, budi daya madu trigona kini menjadi salah satu cara sederhana untuk bekerja bersama, menjaga alam, sekaligus membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis.