MAL – Stroke tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak ini semakin banyak ditemukan pada usia produktif, bahkan pada kelompok di bawah 45 tahun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat menurunkan kualitas hidup dan produktivitas pada usia yang seharusnya berada pada puncak aktivitas.
Sejumlah data menunjukkan tren peningkatan kasus stroke pada usia muda. Di Indonesia, angka stroke usia muda dilaporkan meningkat 30 persen dalam 10 tahun terakhir. Saat ini, satu dari lima pasien stroke berusia di bawah 45 tahun.
Mengapa Stroke Makin Banyak Terjadi pada Usia Muda?
Dokter Spesialis Saraf Mayapada Hospital Tangerang, dr. Tri Wahyudi, mengatakan stroke pada usia muda dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko yang sebagian besar sebenarnya dapat dikendalikan.
“Stroke pada usia muda dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan pola hidup kurang sehat hingga kelainan pada pembuluh darah otak yang tidak selalu menimbulkan gejala,” katanya.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi faktor yang paling sering ditemukan. Tekanan darah tinggi yang tidak terdeteksi atau tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah secara perlahan hingga meningkatkan risiko terjadinya sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah di otak.
Selain hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, obesitas, dan kurang aktivitas fisik juga menjadi faktor risiko yang berperan besar dalam meningkatnya kasus stroke pada kelompok usia produktif.
Dokter Spesialis Neurologi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni), dr. Dodik Tugasworo, menjelaskan bahwa perubahan pola hidup masyarakat turut berkontribusi terhadap tren tersebut.
“Gaya hidup yang tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik hingga pola makan tinggi lemak dan gula merupakan faktor risiko stroke di usia muda,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, hingga tingkat stres tinggi juga berkontribusi dalam meningkatkan risiko terjadinya serangan stroke pada populasi usia muda.”
Hipertensi Jadi Ancaman yang Sering Tidak Disadari
Salah satu persoalan terbesar dalam kasus stroke usia muda adalah banyaknya penderita hipertensi yang tidak menyadari kondisinya.
Tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak orang baru mengetahui dirinya mengalami hipertensi setelah muncul komplikasi serius, termasuk stroke.
Data yang tersedia menunjukkan sekitar 60 persen faktor risiko stroke usia muda berkaitan dengan hipertensi yang tidak terdeteksi atau tidak terkontrol.
Selain itu, diabetes tipe 2 yang muncul lebih dini akibat obesitas dan pola makan tidak sehat juga semakin sering ditemukan pada kelompok usia produktif. Kondisi ini dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke.
Peran Kolesterol Tinggi dan Kebiasaan Merokok
Kolesterol tinggi atau dislipidemia menjadi faktor lain yang perlu diwaspadai sejak usia muda.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mitra Keluarga Kemayoran, Nancy Virginia, menekankan pentingnya pemeriksaan kolesterol sejak dini.
“Pemeriksaan kolesterol sejak usia muda penting karena kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi sejak usia muda menumpuk di arteri, termasuk arteri otak, sehingga meningkatkan risiko penyumbatan dan stroke,” katanya.
Risiko semakin besar pada perokok maupun pengguna rokok elektronik. Kebiasaan tersebut dapat merusak dinding pembuluh darah, memicu pembekuan darah, serta mempercepat terbentuknya plak pada pembuluh darah.
Merokok dan penggunaan vape dilaporkan dapat meningkatkan risiko stroke hingga 4–6 kali lipat dibandingkan mereka yang tidak merokok.
Ketika Penyebab Stroke Bukan Hanya Gaya Hidup
Meski faktor gaya hidup mendominasi, tidak semua kasus stroke pada usia muda disebabkan oleh pola hidup yang buruk.
Sejumlah kondisi medis juga diketahui dapat meningkatkan risiko stroke, antara lain:
-
Penyakit Moya-moya yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah otak secara progresif.
-
Irama jantung tidak teratur (aritmia).
-
Kelainan jantung bawaan.
-
Penyakit autoimun seperti lupus dan vaskulitis.
-
Kelainan pembekuan darah (trombofilia).
-
Riwayat stroke dalam keluarga.
-
Migrain dengan aura yang disertai penggunaan pil KB kombinasi pada perempuan muda.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa kelainan pada jantung dapat menjadi salah satu penyebab stroke pada kelompok usia muda.
Cara Mencegah Stroke Sejak Usia Produktif
Pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko stroke pada kelompok usia muda. Upaya yang disarankan meliputi:
-
Mengonsumsi makanan sehat rendah garam, gula, dan lemak jenuh.
-
Memperbanyak asupan serat.
-
Berolahraga secara rutin minimal 150 menit aktivitas moderat per minggu.
-
Menghindari merokok, alkohol, dan narkoba.
-
Mengelola stres dengan baik.
-
Menjaga berat badan ideal.
-
Memeriksa tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala.
-
Melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.
Dengan meningkatnya kasus stroke pada kelompok usia produktif, kesadaran terhadap faktor risiko dan pemeriksaan kesehatan rutin menjadi langkah penting agar penyakit ini dapat dicegah sejak dini sebelum menimbulkan kecacatan maupun komplikasi yang lebih berat.
