Semestinya tiada waktu kita lewati tanpa  bermakna ibadah. Sungguh berbahagia bagi seorang Mukmin bila dalam perjalanan hidupnya berada dalam kisdaran ibadah  kepada Allah SWT dengan benar.

Mengkaji nilai-nilai Alquran, mendirikan shalat berjamaah, dan mengeluarkan harta di jalan Allah SWT menjadi hiasan amalnya.

Hidup bukan sekadar hidup, Tidak  sekadar makan, minum, bekerja, dan berkeluarga. Hidup sesungguhnya adalah waktu waktu  ibadah, penghambaan diri kepada Allah SWT dalam rambu-rambu-Nya demi meraih keridhaan Illahi.

Dalam  ketekunan beribadah seperti itu, maka hati orang-orang beriman begitu sensitif. Bila disebut nama Allah SWT bergetar hatinya, dan bila dibacakan asma Allah SWT, bertambah keimanannya.

Ia mudah menangis ketika mengingat dosa-dosanya, takut akan azab-Nya, bangun bertahajud di keheningan malam, karena ingin menjadi kekasih-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.’‘ (QS Al-Anfal [8]: 2-4).

Getar resonansi hati seorang Mukmin selalu memantulkan gema kebaikan dalam tutur kata maupun perbuatan. Imannya penuh kehalusan, meski atas suatu sinyal kecil sekalipun. Menjadikan imannya selalu bertambah tatkala uraian taklim disampaikan.

Sedemikian kerasnya sinyal Ilahi itu merasuk ke dalam jiwa seorang Mukmin, sehingga hati menjadi gembira, penuh cinta dan semangat hidup. Pun bila seorang Mukmin disodorkan Alquran, jiwanya pasti terpanggil menata kehidupan dengannya.

Bukan itu saja, refleksi dari semua itu adalah munculnya kesungguhan, kekhusyukan, dan keseriusan beribadah dan beramal saleh. Itu karena jiwanya sudah tertanam betapa Allah SWT begitu dekat, sedemikian dekat, sehingga terasa dalam kebersamaan sekaligus mengawasi setiap amaliyah sehari-hari.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya. Menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna dan menunaikan zakat. Mereka itulah yang akan mewarisi surga firdaus dan mereka kekal di dalamnya.” (QS Almukminun [23]: 1-12).

Hidup ini  adalah kumpulan hari-hari. Alangkah ruginya kita, bila terus dibuai angan-angan sehingga lupa memperbaiki diri. Mestinya, kita berpindah dari satu bentuk ibadah kepada bentuk ibadah lainnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap [al-Insyirah/94:7-8]

Jadikanlah hidupmu hidup yang penuh semangat. Jika engkau selesai mengerjakan sebuah pekerjaan, lanjutkanlah dengan pekerjaan yang lainnya. Jika engkau selesai mengerjakan urusan dunia, hendaklah engkau melanjutkannya dengan mengerjakan urusan akhirat.

Sebaliknya, jika engkau selesai mengerjakan urusan akhirat lanjutkanlah dengan urusan dunia. Apabila engkau telah selesai mengerjakan shalat Jum’at, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Shalat Jum’at diapit oleh dua urusan dunia.

Intinya, kesempatan untuk menjadi hamba Allâh 24 jam sebenarnya terbuka lebar bagi setiap mukmin yang dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)