PALU, MAL – Istilah El Nino Godzilla kembali mencuat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap musim kemarau panjang dan potensi kekeringan yang melanda berbagai wilayah Indonesia pada 2026.
Meski bukan istilah resmi dalam meteorologi, sebutan tersebut digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas terhadap cuaca global.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah hingga timur Samudra Pasifik tropis yang memengaruhi pola cuaca dunia.
Di Indonesia, fenomena ini umumnya menyebabkan curah hujan berkurang, musim kemarau menjadi lebih panjang, serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Istilah “Godzilla El Nino” pertama kali dipopulerkan oleh klimatolog NASA Jet Propulsion Laboratory, Bill Patzert, menjelang peristiwa El Nino 2015–2016 yang tercatat sebagai salah satu yang terkuat dalam sejarah pengamatan modern.
Julukan tersebut digunakan untuk menggambarkan skala dan dampak fenomena yang luar biasa besar, layaknya monster Godzilla.
Sejumlah ilmuwan mengategorikan El Nino super kuat ketika anomali suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian timur meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas kondisi normal. Peristiwa serupa pernah terjadi pada 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016 yang menimbulkan dampak cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Pada 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Nino telah berada pada kategori kuat dan berpotensi meningkat hingga melebihi kategori tersebut pada akhir tahun atau awal 2027.
Kepala Bidang Informasi Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Teuku Raden Mayda Riza, mengatakan, fenomena El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama tahun 2027 dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat.
BMKG juga memperkirakan El Nino yang mulai aktif sejak Juni 2026 dapat berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan ancaman kekeringan di berbagai daerah.
Di Sulawesi Tengah, BMKG menetapkan status Waspada untuk kekeringan meteorologis periode 11–20 Agustus 2026. Meski tidak masuk kategori Awas, kondisi kering diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun.
Seluruh 13 kabupaten dan kota di provinsi ini juga tercatat memiliki risiko karhutla kategori sedang hingga sangat tinggi dengan nilai Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di atas 82.
Kabupaten Buol menjadi wilayah dengan tingkat risiko tertinggi dengan nilai FFMC mencapai 92, disusul Parigi Moutong, Poso, dan Banggai Laut yang masing-masing mencatat nilai 91.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
