Jakarta, MAL – Memasuki usia 49 tahun, Pasar Modal Indonesia terus memperkuat fondasi untuk meningkatkan kualitas, integritas, efisiensi, dan daya saing di tengah dinamika pasar global, ditandai dengan reformasi struktural, pengembangan infrastruktur, dan perluasan akses investasi bagi masyarakat. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 Pasar Modal Indonesia ini diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) pada Senin, 10 Agustus, di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.
Rangkaian peringatan yang mengusung tema “Transformasi Berkelanjutan untuk Pasar Modal Tepercaya dan Tangguh” ini diawali dengan Seremoni Pembukaan Perdagangan dan dilanjutkan dengan konferensi pers OJK bersama SRO. Acara seremoni HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica W. Dewi, dan Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia Juda Agung, beserta jajaran anggota Dewan Komisioner OJK lainnya.
Pada sambutan pembuka, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto mengatakan, “Peringatan ini menjadi momentum untuk menjaga kepercayaan para investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan internasional dan nasional karena pasar modal selalu merupakan proxy ekonomi yang dilihat oleh para investor, terutama pada saat-saat yang strategis.”
Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung menyebut pasar modal sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menambahkan, “Pemerintah akan terus bersinergi dengan OJK dan BEI sebagai SRO, para pelaku pasar modal dan seluruh pemangku kepentingan terkait lainnya untuk membangun pasar keuangan yang makin dalam, inklusif, inovatif, tetapi tetap prudent dan credible. Empat puluh sembilan tahun perjalanan pasar modal Indonesia menunjukkan bahwa pasar kita terus berkembang.”
Bersamaan dengan seremoni HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia tersebut, ETF Emas perdana di pasar modal Indonesia diluncurkan secara resmi. Peluncuran ini ditandai dengan pencatatan lima produk ETF Emas yang diterbitkan oleh lima Manajer Investasi, yaitu PT Indo Premier Investment Management, PT Trimegah Asset Management, PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BRI Manajemen Investasi, serta PT Syailendra Capital.
Kehadiran ETF Emas menjadi tonggak baru dalam pengembangan produk investasi di pasar modal Indonesia, dengan memberikan alternatif bagi investor untuk memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di Bursa tanpa perlu memiliki emas fisik. Produk ini diharapkan dapat memperluas pilihan diversifikasi dan pengelolaan risiko portofolio, meningkatkan akses investor ritel maupun institusi, serta mendukung pendalaman pasar modal.
Sebagai bagian dari selebrasi HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia, berbagai rangkaian kegiatan untuk publik, pemangku kepentingan, serta media akan digelar. Kegiatan untuk publik meliputi Capital Market Summit & Expo, Virtual Trading Competition, Public Expose LIVE 2026, Sekolah Pasar Modal untuk Negeri, dan Social Media Video Competition, sedangkan bagi media akan diselenggarakan Media Gathering serta lomba foto dan artikel.
Di tengah berbagai tantangan global, pasar modal Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pada perdagangan Jumat, 7 Agustus, IHSG ditutup pada level 6.409,65, atau menurun sebesar 25,87% secara year-to-date akibat pengaruh faktor domestik dan global. Namun demikian, sepanjang 2026, IHSG telah mencatat sembilan kali rekor all-time high (ATH) pada Januari 2026 dan mencapai level tertinggi baru 9.134,70 pada 20 Januari 2026.
Kapitalisasi pasar juga mencatat rekor tertinggi sebesar Rp16.640 triliun pada 19 Januari 2026, sedangkan frekuensi transaksi saham tertinggi mencapai 5,01 juta transaksi pada 12 Januari 2026. Sampai dengan 7 Agustus 2026, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) tercatat sebesar Rp22,3 triliun, menunjukkan aktivitas yang sehat di pasar modal Indonesia.
Dari sisi penghimpunan dana, telah tercatat tujuh saham baru, termasuk satu Lighthouse Initial Public Offering (IPO), sehingga jumlah perusahaan tercatat saham mencapai 962 perusahaan. Dengan jumlah tersebut, Indonesia berada di posisi kedua di ASEAN dari sisi jumlah perusahaan tercatat.
Total dana yang dihimpun melalui pasar modal mencapai Rp122,8 triliun, terdiri atas IPO saham sebesar Rp2,2 triliun, Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) Rp104,1 triliun, serta Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan Waran Rp16,5 triliun.
Dari sisi investor, jumlah investor pasar modal Indonesia yang mencakup investor saham, obligasi, dan reksa dana telah mencapai 30,3 juta investor per 7 Agustus 2026. Angka ini meningkat 9,9 juta investor dan menjadi pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah, menunjukkan peningkatan partisipasi di pasar.
Dalam opening speech acara HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica W. Dewi menekankan, “Pertumbuhan investor di Indonesia ini tidak hanya sekedar angka, tapi menunjukkan adanya trust, confidence, dan harapan masyarakat Indonesia terhadap pasar modal Indonesia.”
Selama paruh pertama tahun 2026 ini, BEI bersama SRO lainnya, dengan dukungan OJK serta seluruh pemangku kepentingan pasar modal, terus menjalankan berbagai agenda reformasi untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, tata kelola, serta daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global.
Pasar modal Indonesia telah berhasil melakukan penyelesaian empat agenda reformasi pada Maret—April 2026, yaitu publikasi data kepemilikan saham di atas 1%, revisi kebijakan free float, perluasan klasifikasi tipe investor menjadi 39 kategori, serta implementasi High Shareholding Concentration. Evaluasi terhadap implementasi agenda reformasi tersebut terus dilakukan secara berkala, dengan penyempurnaan metodologi HSC efektif per 14 Juli 2026.**
