PALU, MAL — Konflik internal yang melanda Nahdlatul Ulama (NU) dalam hampir dua tahun terakhir dinilai telah menguras energi organisasi dan berpotensi menurunkan kepercayaan umat. Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031, KH Abdussalam Shohib, mendorong rekonsiliasi total menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.
“NU dilanda konflik yang tidak produktif. Itu cenderung menurunkan trust atau kepercayaan umat kepada Nahdlatul Ulama dan membuat banyak energi terbuang sia-sia,” kata KH Abdussalam saat jumpa pers dan silaturahmi bersama PWNU Sulawesi Tengah dan PWNU Sulawesi Barat di salah satu hotel di Kota Palu, Senin (10/8) malam.
Menurutnya, NU tidak boleh terus tersandera oleh konflik internal. Organisasi yang memiliki basis jamaah besar itu semestinya kembali memusatkan energi pada pelayanan umat, penguatan organisasi, serta kontribusi terhadap persoalan bangsa.
Karena itu, rekonsiliasi disebutnya sebagai agenda utama apabila dirinya dipercaya memimpin PBNU periode 2026–2031.
Ia menegaskan, rekonsiliasi tidak cukup dilakukan secara simbolik, tetapi harus melibatkan seluruh unsur dan pemangku kepentingan NU.
“Kalau seperti itu, baru kita bisa membawa NU kepada kemajuan yang kita inginkan,” ujarnya.
Selain rekonsiliasi, Abdussalam menawarkan agenda transformasi organisasi yang mencakup pembenahan administrasi, tata kelola, penguatan integritas, dan pemulihan marwah NU.
“Kami punya ikhtiar untuk ikut berkhidmat di NU, menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar yang akan datang. Kami menyampaikan gagasan kepada para PCNU agar mereka benar-benar tahu seperti apa gaya kepemimpinan yang saya tawarkan,” katanya.
