MAL – Program Artemis yang dikembangkan NASA memasuki fase baru setelah keberhasilan Artemis II membawa empat astronaut mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi pada April 2026. Namun, perubahan besar terjadi pada tahapan berikutnya.

Artemis III yang sebelumnya dirancang sebagai misi pendaratan manusia ke Bulan kini dialihkan menjadi misi demonstrasi di orbit rendah Bumi, sementara pendaratan manusia pertama dalam rangkaian Artemis terbaru ditargetkan melalui Artemis IV pada awal 2028.

Perubahan tersebut menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati dalam upaya mengembalikan manusia ke Bulan untuk pertama kalinya sejak era Apollo. NASA memilih menguji berbagai teknologi penting lebih dulu sebelum mengirim astronaut turun ke permukaan Bulan.

Artemis Bukan Sekadar Mengulang Program Apollo

Program Artemis merupakan proyek eksplorasi Bulan NASA yang menggunakan berbagai sistem dan infrastruktur baru, termasuk roket Space Launch System (SLS), wahana Orion, wahana pendarat komersial, stasiun luar angkasa Lunar Gateway, hingga kendaraan penjelajah dan habitat permukaan.

Berbeda dengan program Apollo yang berfokus pada pendaratan manusia, Artemis dirancang untuk membangun kehadiran manusia yang lebih berkelanjutan di sekitar dan di permukaan Bulan.

NASA menyatakan, “Kami kembali ke Bulan dengan cara yang belum pernah kami lakukan sebelumnya, untuk membangun dasar bagi eksplorasi manusia yang berkelanjutan dan perjalanan menuju Mars.”

Tujuan program ini mencakup pengujian teknologi penerbangan jarak jauh, penelitian sumber daya Bulan, pengembangan sistem kehidupan di luar Bumi, hingga persiapan misi manusia menuju Mars.

Artemis II Menjadi Tonggak Baru Setelah Lebih dari 50 Tahun

Keberhasilan Artemis II menjadi pencapaian penting dalam sejarah eksplorasi antariksa modern.

Misi yang diluncurkan pada 1 April 2026 dari Kennedy Space Center, Florida, membawa empat astronaut menggunakan wahana Orion yang diluncurkan oleh roket SLS. Selama sekitar 10 hari, awak menjalani perjalanan menuju sekitar Bulan sebelum kembali ke Bumi.

Pada 10 April 2026, Orion berhasil mendarat di Samudra Pasifik di lepas pantai California setelah menempuh perjalanan sekitar 694.481 mil atau sekitar 1,12 juta kilometer.

Empat astronaut yang bertugas dalam Artemis II adalah:

NamaPeran
Reid WisemanKomandan
Victor GloverPilot
Christina KochSpesialis Misi
Jeremy HansenSpesialis Misi dari Canadian Space Agency

Artemis II menjadi penerbangan berawak pertama menuju sekitar Bulan sejak 1972. Meski demikian, misi ini tidak mencakup pendaratan manusia di permukaan Bulan.

Mengapa Artemis III Tidak Lagi Mendarat di Bulan?

Sebelumnya Artemis III direncanakan sebagai misi yang membawa astronaut kembali menginjakkan kaki di Bulan. Namun NASA memperbarui arsitektur program pada 2026 dan mengubah fungsi misi tersebut.

Dalam desain terbaru, Artemis III ditargetkan berlangsung pada 2027 sebagai misi demonstrasi di orbit rendah Bumi.

Fokus utama misi ini adalah menguji pertemuan dan docking antara wahana Orion dengan wahana pendarat komersial yang dikembangkan SpaceX dan Blue Origin.

NASA menjelaskan, “Artemis III akan menjalankan serangkaian tujuan di orbit rendah Bumi untuk mendemonstrasikan sistem penting yang dibutuhkan bagi pendaratan di Bulan pada masa depan.”

Administrator NASA, Jared Isaacman, mengatakan, “Artemis III akan memungkinkan kita menguji sistem penting yang diperlukan untuk pendaratan manusia di Bulan, sebelum kita benar-benar mengirim astronaut ke permukaan.”

Perubahan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko sebelum operasi yang lebih kompleks di sekitar Bulan.

Beberapa teknologi yang masih harus diuji meliputi:

  • Sistem docking dan transfer awak.

  • Wahana pendarat komersial.

  • Pakaian antariksa generasi baru.

  • Sistem navigasi dan komunikasi.

  • Integrasi antara Orion dan wahana pendarat.

  • Prosedur keselamatan awak.

Kutub Selatan Bulan Menjadi Target Utama Artemis IV

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai target, Artemis IV akan menjadi misi pertama dalam rangkaian Artemis yang membawa manusia mendarat di Bulan.

NASA menargetkan pelaksanaan misi tersebut pada awal 2028.

Empat astronaut akan diterbangkan menggunakan Orion dan SLS menuju orbit Bulan. Dua astronaut direncanakan turun ke permukaan menggunakan wahana pendarat komersial, sementara dua lainnya tetap menjalankan tugas di orbit Bulan.

Astronaut yang mendarat diperkirakan bekerja selama sekitar satu pekan di wilayah dekat Kutub Selatan Bulan.

NASA menyebut, “Artemis IV akan menjadi salah satu upaya paling kompleks dalam sejarah rekayasa dan kecerdikan manusia, dengan mengeksplorasi wilayah Kutub Selatan Bulan.”

Hingga kini NASA telah mengidentifikasi sembilan wilayah kandidat pendaratan di sekitar Kutub Selatan.

Mengapa Kutub Selatan Bulan Sangat Penting?

Wilayah Kutub Selatan menjadi prioritas karena diyakini memiliki cadangan es air di beberapa kawah yang berada dalam bayangan permanen.

Keberadaan es air dinilai penting karena berpotensi dimanfaatkan untuk:

  • Air minum bagi astronaut.

  • Produksi oksigen.

  • Produksi hidrogen dan oksigen sebagai bahan bakar.

  • Dukungan misi jangka panjang.

Selain itu, kondisi lingkungan yang ekstrem di wilayah tersebut dinilai cocok untuk menguji teknologi yang kelak digunakan dalam perjalanan manusia ke Mars.

Meski demikian, keberadaan es air dalam jumlah yang layak dimanfaatkan secara ekonomi masih harus dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut.

Lunar Gateway dan Ambisi Kehadiran Jangka Panjang di Bulan

Rencana NASA tidak berhenti pada satu kali pendaratan.

Melalui Lunar Gateway, NASA bersama mitra internasional ingin membangun infrastruktur permanen di orbit Bulan sebagai pusat transit, penelitian, komunikasi, dan dukungan misi permukaan.

Gateway dikembangkan melalui kerja sama dengan European Space Agency (ESA), Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Canadian Space Agency (CSA), serta berbagai mitra lainnya.

Ke depan, misi kargo akan membawa habitat, kendaraan penjelajah, instrumen ilmiah, sistem energi, serta fasilitas pendukung lainnya ke sekitar Bulan.

Pada dekade 2030-an, NASA menargetkan kehadiran manusia yang lebih berkelanjutan melalui kombinasi habitat, sistem energi, komunikasi, dan misi berulang. Salah satu konsep yang pernah muncul adalah pemanfaatan sumber energi nuklir di Bulan, meski rincian proyek tersebut masih menunggu kepastian lebih lanjut.

Tantangan Besar yang Masih Menghadang Program Artemis

Meski Artemis II berhasil, sejumlah tantangan masih berpotensi memengaruhi jadwal program.

Dari sisi teknis, NASA dan mitranya harus memastikan kesiapan wahana pendarat komersial, pakaian antariksa, sistem docking, komunikasi, serta keselamatan awak.

Tantangan lain meliputi:

  • Risiko kerusakan sistem penerbangan.

  • Radiasi antariksa.

  • Suhu ekstrem di Bulan.

  • Debu Bulan yang abrasif.

  • Pembengkakan biaya program.

  • Ketergantungan pada pendanaan pemerintah.

  • Keterlambatan pengembangan teknologi oleh kontraktor swasta.

Selain tantangan teknis, program Artemis juga memiliki dimensi geopolitik. Amerika Serikat berupaya mempertahankan kepemimpinan dalam eksplorasi Bulan, sementara negara-negara lain terus mengembangkan program eksplorasi antariksa mereka.

Karena itu, jadwal Artemis III pada 2027 maupun Artemis IV pada 2028 masih bersifat target dan dapat berubah sesuai hasil pengujian, kesiapan teknologi, keselamatan astronaut, serta keputusan pendanaan.

Yang pasti, setelah berhasil membawa manusia kembali mengelilingi Bulan melalui Artemis II, langkah berikutnya bukan langsung mendarat, melainkan memastikan seluruh sistem bekerja dengan aman sebelum manusia kembali menginjakkan kaki di permukaan Bulan.