MAL – Rivalitas teknologi antara Amerika Serikat dan China dalam industri semikonduktor atau yang kerap disebut “perang chip” sedang mengubah peta rantai pasok global.

Di tengah persaingan tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menarik investasi, mengembangkan industri teknologi, serta memperkuat kemandirian digital. Namun peluang itu tidak datang secara otomatis karena masih ada kesenjangan teknologi, talenta, dan kapasitas industri yang harus diatasi.

Semikonduktor kini menjadi komponen strategis yang menopang berbagai sektor, mulai dari telepon seluler, kendaraan listrik, telekomunikasi, pusat data, hingga kecerdasan buatan (AI). Karena itu, persaingan penguasaan teknologi chip tidak lagi sekadar urusan industri, melainkan juga terkait keamanan nasional dan pengaruh ekonomi global.

Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat memperketat pembatasan ekspor chip canggih dan peralatan pembuat chip ke China. Sebaliknya, China mempercepat pengembangan industri semikonduktor domestik dan memperkuat posisi dalam rantai pasok mineral strategis. Kondisi tersebut mendorong perusahaan global mencari lokasi alternatif untuk mendiversifikasi produksi dan investasi.

Impor Semikonduktor Indonesia Terus Meningkat

Di tengah meningkatnya kebutuhan industri nasional, ketergantungan Indonesia terhadap pasokan chip dari luar negeri masih tergolong tinggi.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan nilai impor semikonduktor Indonesia naik dari 2,33 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 4,87 miliar dolar AS sepanjang Januari–November 2025.

Dengan asumsi kurs Rp15.800 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp76,95 triliun. Kenaikan mencapai sekitar 109 persen dalam lima tahun menunjukkan besarnya kebutuhan chip nasional sekaligus tingginya ketergantungan terhadap produk impor.

Kebutuhan semikonduktor berasal dari berbagai sektor, antara lain:

  • Elektronik konsumen

  • Otomotif

  • Kendaraan listrik

  • Telekomunikasi

  • Data center

  • Energi

  • Sistem pembayaran

  • Dokumen elektronik

  • Peralatan industri

Produksi kendaraan bermotor Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 803.867 unit. Sementara kendaraan listrik dan hybrid diketahui membutuhkan kandungan semikonduktor hingga sekitar tiga kali lebih banyak dibanding kendaraan konvensional.

Pemerintah Fokus pada Desain Chip dan Talenta

Pemerintah tidak menargetkan Indonesia langsung bersaing dengan Taiwan, Korea Selatan, Amerika Serikat, atau China dalam pembuatan chip paling canggih.

Sebaliknya, strategi yang dipilih adalah membangun fondasi industri semikonduktor secara bertahap melalui pengembangan talenta, desain chip, riset, serta aktivitas perakitan dan pengujian.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pengembangan industri semikonduktor nasional harus dilakukan secara realistis.

“Pengembangan industri semikonduktor nasional tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui pendekatan bertahap dan realistis dengan menempatkan pengembangan talenta dan desain chip sebagai langkah utama pada tahap awal,” katanya.

Menurut Agus, tingginya impor semikonduktor menjadi sinyal penting bahwa Indonesia perlu memperkuat kapasitas dalam negeri.

“Tingginya ketergantungan impor semikonduktor menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional. Kondisi ini perlu direspons melalui penguatan ekosistem dalam negeri, khususnya pada aspek desain chip dan pengembangan kekayaan intelektual, sebagai fondasi awal kemandirian teknologi,” ujarnya.

Empat Pilar Roadmap Industri Semikonduktor

Pemerintah telah menyusun roadmap pengembangan industri semikonduktor nasional yang terdiri atas empat pilar utama.

Pertama, material atau bahan baku dan bahan pendukung industri semikonduktor.

Kedua, desain chip yang mencakup pengembangan integrated circuit, intellectual property, dan talenta desain.

Ketiga, fabrikasi atau front-end yang melibatkan proses produksi wafer dan transistor.

Keempat, assembly, testing, and packaging atau back-end yang mencakup perakitan, pengujian, dan pengemasan chip.

Di antara empat pilar tersebut, sektor back-end dan desain chip dinilai sebagai jalur paling realistis untuk dikembangkan dalam waktu dekat karena membutuhkan investasi lebih rendah dibanding pembangunan fasilitas fabrikasi canggih.

Sandbox Desain Chip Merah Putih Jadi Langkah Awal

Upaya membangun ekosistem desain chip mulai diperkuat pada 2026.

Pada 27 Juli 2026, Peruri meluncurkan Sandbox Desain Chip Merah Putih yang dapat diakses secara gratis melalui peramban internet.

Platform tersebut ditujukan bagi mahasiswa, peneliti, startup, pelaku industri, dan talenta teknologi untuk belajar, bereksperimen, melakukan validasi awal, hingga membuat purwarupa digital.

Direktur Utama Peruri Teguh Arief Indratmoko menyebut inisiatif tersebut sebagai langkah strategis memperkuat kedaulatan digital nasional.

“Peluncuran Sandbox Desain Chip Merah Putih merupakan langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan digital dan keamanan nasional. Melalui perancangan chip secara mandiri, PERURI berkomitmen menghadirkan standar keamanan tertinggi untuk melindungi dokumen serta data strategis bangsa dari ancaman siber, sekaligus mendorong efisiensi devisa dan memperkokoh posisi Indonesia di ekosistem semikonduktor global,” katanya.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menilai penguasaan teknologi semikonduktor merupakan kebutuhan strategis bagi Indonesia.

“Penguasaan teknologi semikonduktor merupakan fondasi esensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kedaulatan negara. Inisiatif Sandbox ini harus segera dieksekusi dengan langkah yang cepat dan kolaboratif,” ujarnya.

Peluang Besar, Persaingan Juga Ketat

Meski peluang terbuka, Indonesia menghadapi persaingan kuat dari negara-negara Asia Tenggara yang lebih dahulu membangun ekosistem semikonduktor.

Malaysia dan Singapura telah lama menjadi pusat perakitan, pengujian, pengemasan, dan manufaktur elektronik. Vietnam serta Thailand juga agresif menarik investasi semikonduktor dan elektronik.

Selain itu, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan talenta, biaya riset yang tinggi, ketergantungan pada teknologi impor, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kebutuhan infrastruktur listrik dan air yang stabil.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan bahwa semikonduktor kini memiliki posisi strategis dalam persaingan global.

“Chip bukan lagi sekadar produk industri, melainkan komoditas strategis penentu dominasi global,” katanya.

Jalan Realistis Menuju Industri Semikonduktor Nasional

Dalam jangka pendek, peluang terbesar Indonesia berada pada model fabless atau desain chip tanpa memiliki pabrik fabrikasi sendiri, pengembangan industri back-end, serta integrasi dengan sektor otomotif, kendaraan listrik, elektronik, telekomunikasi, dan data center.

Keberhasilan strategi tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mencetak talenta, menghasilkan desain chip dan kekayaan intelektual, menarik investasi berkualitas, serta mendorong transfer teknologi yang nyata.

Perang chip dunia memang membuka peluang baru. Namun Indonesia tidak akan otomatis menjadi pemenang hanya karena perubahan geopolitik global. Keuntungan baru akan tercipta jika peluang tersebut berhasil diubah menjadi investasi, inovasi, kapasitas produksi, dan nilai tambah yang tumbuh di dalam negeri.