Di banyak negara, seragam sekolah bukan merupakan kewajiban yang ditetapkan secara nasional. Siswa datang ke sekolah dengan pakaian sehari-hari, tetapi tetap mengikuti aturan berpakaian yang ditetapkan sekolah.
Di Amerika Serikat, misalnya, sekolah negeri pada umumnya menggunakan dress code. Artinya, siswa tidak harus mengenakan pakaian yang sama, tetapi tetap ada batasan mengenai pakaian yang dianggap pantas untuk lingkungan sekolah. Meski demikian, sejumlah sekolah atau distrik tetap menerapkan seragam.
Hal serupa ditemukan di Jerman. Seragam bukan bagian dari tradisi umum sistem pendidikan Jerman. Sebagian besar siswa mengenakan pakaian biasa ketika mengikuti pembelajaran.
Finlandia juga dikenal tidak menggunakan seragam sekolah sebagai aturan umum. Sistem pendidikannya lebih menekankan pada proses pembelajaran, kemandirian, kenyamanan, dan kesetaraan siswa. Pakaian tidak ditempatkan sebagai instrumen utama untuk menciptakan kedisiplinan.
Di Belanda, Italia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Denmark, seragam juga bukan kebijakan umum di sekolah. Namun, bukan berarti tidak ada sekolah yang menggunakan seragam. Sekolah swasta, sekolah internasional, atau sekolah tertentu tetap dapat memiliki ketentuan seragam masing-masing.
Sementara itu, Kanada juga tidak memiliki kewajiban seragam yang berlaku untuk seluruh sekolah. Sekolah dapat menerapkan aturan berpakaian sendiri, sedangkan sekolah tertentu—terutama sekolah swasta—dapat menggunakan seragam.
Di Brasil, tidak terdapat kewajiban hukum nasional yang mengharuskan seluruh siswa mengenakan seragam. Akan tetapi, pemerintah daerah maupun sekolah dapat menetapkan kebijakan sendiri.
Fakta tersebut menunjukkan satu hal penting: tidak menggunakan seragam nasional bukan berarti sekolah tanpa aturan.
Justru, negara-negara tersebut menunjukkan adanya model lain dalam mengatur penampilan siswa, yakni melalui dress code. Anak tidak harus mengenakan pakaian yang sama, tetapi tetap diajarkan mengenai kepantasan, kerapian, keamanan, dan penghormatan terhadap lingkungan sekolah.
Karena itu, perdebatan mengenai seragam seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah siswa harus memakai seragam atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa tujuan seragam dalam pendidikan, dan apakah tujuan tersebut benar-benar hanya dapat dicapai melalui pakaian yang sama?
Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa disiplin tidak harus selalu dibangun melalui keseragaman penampilan. Disiplin dapat tumbuh dari budaya sekolah, aturan yang konsisten, hubungan guru dan siswa, tanggung jawab, serta kesadaran anak terhadap aturan.
Prancis bahkan memberikan contoh yang menarik. Negara tersebut pernah tidak mewajibkan seragam secara umum, tetapi kemudian muncul kembali wacana untuk memperkenalkannya di sejumlah sekolah. Alasannya antara lain berkaitan dengan disiplin, identitas sekolah, dan upaya mengurangi kesenjangan sosial.
Artinya, seragam pun bukan kebijakan yang secara otomatis buruk, sebagaimana ketiadaan seragam juga bukan kebijakan yang otomatis baik. Masing-masing memiliki persoalan dan tujuan yang perlu dipertimbangkan sesuai konteks pendidikan.
Bagi Indonesia, pengalaman Finlandia, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat menarik untuk dikaji bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan untuk melihat kemungkinan lain dalam membangun budaya sekolah.
Jika seragam hendak dipertahankan, harus jelas apa fungsi pendidikannya. Jika hendak dikurangi atau bahkan dihapus, harus jelas pula aturan penggantinya.
Sebab, yang perlu dibangun di sekolah sebenarnya bukan sekadar kesamaan pakaian, melainkan kesamaan kesempatan untuk belajar, rasa aman, kedisiplinan, dan penghargaan terhadap sesama.
Dan pada titik itulah perdebatan tentang seragam menjadi lebih penting: bukan soal baju apa yang dipakai anak, tetapi manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh sekolah.**
