HANGZHOU, MAL – Insiden tertahannya 373 penumpang dan awak Emirates EK302 selama sekitar 17 jam di dalam Airbus A380 di Bandara Internasional Hangzhou Xiaoshan, Tiongkok, pada 22-24 Juli 2026, memunculkan kekhawatiran terhadap risiko kesehatan dan keselamatan yang dapat timbul akibat paparan berkepanjangan di dalam kabin pesawat.

Peristiwa tersebut bermula ketika penerbangan dari Dubai menuju Shanghai dialihkan ke Hangzhou akibat badai petir dan cuaca buruk di Shanghai Pudong. Namun setelah mendarat, rangkaian kendala operasional membuat penumpang tidak segera dapat turun dari pesawat.

Durasi tunggu yang mencapai sekitar 17 jam dinilai bukan sekadar ketidaknyamanan perjalanan. Risiko yang dapat muncul meliputi dehidrasi, kelelahan ekstrem, gangguan sirkulasi darah, kekakuan otot dan persendian, penurunan fungsi kognitif, hingga potensi memburuknya kondisi medis pada penumpang yang memiliki kerentanan kesehatan.

Menurut Dr. Gill Jenkins, duduk dalam waktu lama selama penerbangan dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius.

“Duduk selama delapan jam atau lebih dalam penerbangan dapat menimbulkan dampak buruk yang serius pada kesehatan Anda, seperti kesehatan jantung dan pernapasan, serta otot dan persendian Anda,” ujar Dr. Gill Jenkins.

Salah satu risiko yang mendapat perhatian adalah trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT), yaitu kondisi pembekuan darah yang dapat terjadi akibat terlalu lama duduk tanpa banyak bergerak. Risiko tersebut lebih tinggi pada lansia, ibu hamil, penderita kanker, individu dengan riwayat pembekuan darah, obesitas, maupun mereka yang baru menjalani operasi.

“Penggumpalan darah bisa terjadi hingga satu bulan setelah penerbangan,” kata Dr. Gill Jenkins.

Selain itu, kelembapan kabin yang rendah dalam waktu panjang dapat mempercepat dehidrasi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan sakit kepala, kelelahan, serta menurunkan konsentrasi penumpang.

Risiko juga meningkat karena insiden ini disertai gangguan pendingin udara kabin yang dilaporkan kehilangan daya pada dini hari. Situasi tersebut menambah ketidaknyamanan bagi ratusan penumpang yang masih berada di dalam pesawat saat proses penanganan berlangsung.

Dari sisi kesehatan mental dan fungsi kognitif, ketidakpastian yang berkepanjangan juga dapat memberikan dampak tersendiri. Dr. Simon Theobalds menyebut gangguan pola tidur dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

“Perubahan pola tidur yang disebabkan oleh perbedaan zona waktu dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur, yang dapat berdampak pada fungsi kognitif dan suasana hati,” ujar Dr. Simon Theobalds.

Insiden tersebut juga memperlihatkan tantangan keselamatan operasional dalam penerbangan internasional. Setelah pesawat dialihkan, waktu tugas awak penerbangan mendekati batas maksimum sehingga diperlukan kru pengganti sebelum penerbangan dapat dilanjutkan.

“A standard duty day for a multiple-pilot crew is capped at 14 hours.”

Kedatangan kru pengganti yang tertunda akibat cuaca serta ditemukannya gangguan teknis lanjutan pada pesawat memperpanjang proses pemulihan operasional. Akibatnya, penumpang tetap berada di dalam kabin hingga sekitar 17 jam sebelum akhirnya diperbolehkan turun pada pagi hari.

Setelah proses evakuasi selesai, penumpang memperoleh fasilitas hotel, transportasi bus dan kereta menuju Shanghai, serta bantuan lanjutan dari maskapai. Pesawat kemudian dilaporkan tertahan di Hangzhou selama dua hari sebelum kembali terbang menuju Dubai pada 24 Juli 2026. ***