MAL – Islam mengajak kita untuk berusaha dan bekerja. Islam juga memerintahkan kita agar jauh dari sikap putus asa dan malas.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Dia-lah yang menjadikan bumi ini budak bagi kamu, berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali) setelah dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)

Di ayat lain berbunyi: “Apabila shalat telah dikerjakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10) Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang menyantap makanan yang lebih baik daripada makanan yang dihasilkan dari hasil kerjanya sendiri.” (HR. Bukhari)

Islam memang tidak hanya menyeru manusia untuk beraktivitas duniawi. Tetapi aktivitas tersebut dapat dimasukkan dalam kategori ibadah kepada Allah, selama dilakukan dengan niat karena Allah dengan mematuhi hukum-hukum-Nya.

Ditinjau dari sisi kesehatan, bekerja membuat kita sehat. Otot-otot berkontraksi dan berelak- sasi secara teratur. Otak dan saraf bekerja mengoordinasikan organ dan anggota tubuh pada fungsi dan perannya masing-masing. Kelenjar keringat bekerja mengeluarkan zat-zat buangan. Jantung berpacu dalam ritme normal, sehingga menjalankan fungsinya dengan baik.

Bayangkan jika otot tidak memiliki sifat elastis dan kaku, tubuh tentu tak bisa digerakkan dengan lebih leluasa. Kerangka tulang disatukan oleh otot yang dinamakan ligamen.

Kemudian pada masing-masing tulang melekat tendon yang memudahkan tubuh untuk bergerak. Jojo Genden menambahkan sistem otot dan rangka bekerja sama untuk menggerakkan bagian tubuh secara lancar. Sistem koordinasi yang apik ini selanjutnya dikenal dengan sistem muskulosketal.

Ketika malas bekerja, enggan beramal, hakikatnya kita ti dak bersyukur atas karunia yang telah Allah limpahkan ke pada kita.

Bukankah Allah telah memberi kita badan yang kuat dan jasmani yang sehat; mengapa kita tidak menggunakannya untuk beramal?

Bukankah itu berarti kita tidak bersyukur atas potensi yang Allah berikan? Allah telah menyediakan segala sarana hidup yang teramat banyak; mengapa kita tidak mau mengolahnya untuk menghasilkan kemanfaatan?

Bukankah itu berarti kita tidak bersyukur atas segala sa rana yang telah disediakan Allah? Para nabi kekasih Allah pun adalah orang-orang yang mencintai kerja. Mereka ada lah orang-orang yang giat bekerja.

Padahal, mudah saja bagi Allah membuat mereka kaya raya tanpa harus bekerja. Tetapi, inilah nilai tarbiah bagi ki ta dalam bekerja ada kemuliaan. Rasulullah SAW juga se orang yang sejak muda sudah bekerja keras.

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan dia menggembala kambing. Ketika para sahabat bertanya, Dan engkau juga, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Ya, aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath. (HR Imam Bukhari).

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda, Tidak ada seorang pun memakan sesuatu yang lebih baik daripada memakan hasil kerjanya sendiri. Dan, Nabi Daud makan dari ha sil usahanya sendiri. (HR Imam Bukhari).

Dalam hubungannya dengan pewarisan antargenerasi, se mangat bekerja inilah yang sepatutnya kita wariskan kepada anak-cucu kita. Semangat dan cinta kerja dalam pe ngertiannya yang luas. Bekerja dalam arti beramal saleh dan berbuat baik.

 Bekerja dalam pengertian menebarkan kebajikan, memperbanyak kebaikan, dan mengajak orang lain untuk ber sama-sama berbuat baik. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)