MAL – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kerap dituding sebagai penyebab dunia menuju krisis listrik. Namun, apakah klaim tersebut benar?

Berdasarkan sejumlah riset terbaru, AI memang mendorong lonjakan konsumsi listrik global melalui pembangunan pusat data (data center), tetapi kondisi itu tidak berarti dunia akan kehabisan energi.

Tantangan utamanya justru terletak pada kemampuan jaringan listrik, kesiapan infrastruktur, biaya energi, serta kecepatan penambahan pasokan listrik untuk mengimbangi pertumbuhan kebutuhan komputasi AI.

Ledakan penggunaan AI generatif seperti chatbot, mesin pencari berbasis AI, hingga model penalaran yang semakin kompleks membutuhkan pusat data yang beroperasi tanpa henti.

Ribuan server berdaya tinggi harus tetap menyala selama 24 jam, sekaligus didukung sistem pendingin yang mengonsumsi energi dalam jumlah besar. Kondisi inilah yang membuat konsumsi listrik sektor teknologi meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Konsumsi Listrik AI Melonjak Tajam

Laporan Dana Moneter Internasional atau <a href=”https://www.imf.org/en/blogs/articles/2025/05/13/ai-needs-more-abundant-power-supplies-to-keep-driving-economic-growth”>IMF</a> menyebut pusat data dunia mengonsumsi sekitar 500 terawatt-hour (TWh) listrik pada 2023.

Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata konsumsi tahunan pada periode 2015–2019. IMF memperkirakan konsumsi listrik pusat data dapat melonjak hingga 1.500 TWh pada 2030.

Sebagai gambaran, konsumsi listrik sebesar 1.500 TWh setara dengan kebutuhan listrik negara besar seperti India saat ini. Bahkan IMF memperkirakan konsumsi listrik pusat data pada akhir dekade ini akan melampaui kebutuhan listrik kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Sementara itu, penelitian yang dilakukan United Nations University (UNU) dan dilaporkan Reuters memperkirakan konsumsi listrik pusat data global mencapai 945 TWh pada 2030. Dalam proyeksi tersebut, AI diperkirakan menyumbang sekitar 40 persen dari total konsumsi listrik pusat data dunia.

Data Penting yang Perlu Diketahui

Konsumsi listrik pusat data global

IndikatorNilai
Konsumsi listrik pusat data global 2023500 TWh
Proyeksi konsumsi listrik pusat data 2030 (IMF/OPEC)1.500 TWh
Proyeksi konsumsi listrik pusat data 2030 (UNU)945 TWh
Porsi AI dalam konsumsi pusat data 203040%
Konsumsi listrik pusat data global sebelumnya448 TWh

Dampak lingkungan yang diproyeksikan hingga 2030

  • Konsumsi air pusat data diperkirakan mencapai 9,3 triliun liter.

  • Emisi karbon diproyeksikan mencapai 399 juta ton.

  • Tambahan emisi gas rumah kaca akibat lonjakan kebutuhan listrik AI berpotensi mencapai 1,7 gigaton pada periode 2025–2030 jika kebijakan energi tidak berubah.

Mengapa AI Mengonsumsi Listrik Sangat Besar?

Berbeda dengan aplikasi digital konvensional, AI membutuhkan komputasi yang jauh lebih intensif. Proses pelatihan model AI, penyimpanan data, hingga menjalankan jutaan permintaan pengguna secara simultan membutuhkan ribuan chip berperforma tinggi yang bekerja terus-menerus.

IMF menjelaskan bahwa semakin berkembang kemampuan AI, semakin besar pula kebutuhan listrik yang diperlukan pusat data untuk menjalankannya.

“AI, however, needs more and more electricity for the data centers that make it possible. The resulting strain on power grids has major implications for global electricity demand.”

Masalahnya tidak berhenti pada konsumsi listrik. Ketika model AI menjadi lebih efisien dan biaya penggunaan turun, jumlah pengguna justru meningkat.

Fenomena ini dikenal sebagai rebound effect, yaitu efisiensi yang lebih tinggi memicu penggunaan yang lebih besar sehingga total konsumsi energi tetap meningkat.

Apakah Dunia Benar-Benar Terancam Krisis Listrik?

Sejauh ini, data yang tersedia belum menunjukkan bahwa dunia akan kehabisan listrik akibat AI. Yang terjadi adalah meningkatnya tekanan terhadap sistem kelistrikan, terutama di wilayah yang menjadi pusat pembangunan data center.

IMF menilai dampak terbesar kemungkinan muncul dalam bentuk kenaikan harga listrik apabila pertumbuhan pasokan energi tidak mampu mengikuti lonjakan permintaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi rumah tangga, pelaku usaha, hingga industri teknologi itu sendiri.

“The net effect on electricity demand is still uncertain, which may delay energy investments, causing higher prices.”

Peneliti UNU yang dikutip Reuters juga menegaskan bahwa AI tidak otomatis menghabiskan listrik dunia secara total.

“AI will not simply exhaust water or electricity globally. However, in certain regions, poorly coordinated data center expansion may clash with existing resource constraints.”

Artinya, ancaman yang lebih realistis adalah krisis listrik berskala lokal atau regional, terutama di kawasan dengan pertumbuhan pusat data yang sangat cepat tetapi kapasitas jaringan listriknya terbatas.

Pemerintah Mulai Mengubah Perencanaan Energi

Meningkatnya kebutuhan listrik AI kini menjadi variabel penting dalam perencanaan energi jangka panjang. Di Amerika Serikat, konsumsi listrik pusat data diproyeksikan terus meningkat hingga beberapa dekade ke depan sehingga mulai diperhitungkan dalam strategi pengembangan jaringan listrik nasional.

IMF juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi agar pasokan listrik tetap memadai dan lonjakan harga dapat ditekan. Hingga kini belum ada regulasi global tunggal yang secara khusus mengatur konsumsi listrik AI, sehingga pendekatan yang ditempuh lebih banyak berupa kebijakan energi, penguatan jaringan listrik, serta pengembangan sumber energi alternatif.

AI Lebih Tepat Disebut Akselerator, Bukan Penyebab Tunggal

Berdasarkan berbagai data yang tersedia, klaim bahwa AI akan membuat dunia kehabisan listrik tergolong berlebihan. AI memang mempercepat pertumbuhan konsumsi energi global dan menambah tekanan terhadap jaringan listrik. Namun persoalan utamanya bukan pada habisnya sumber energi dunia, melainkan kesiapan infrastruktur untuk memenuhi lonjakan kebutuhan tersebut.

Dalam jangka pendek, dampaknya dapat berupa kenaikan kebutuhan investasi energi, tekanan pada jaringan listrik, dan potensi kenaikan tarif listrik di wilayah tertentu. Dalam jangka panjang, AI dapat mendorong pembangunan pembangkit baru, perluasan jaringan transmisi, sekaligus mempercepat diskusi global mengenai energi bersih dan efisiensi pusat data.

Pada akhirnya, AI lebih tepat dipahami sebagai akselerator krisis listrik lokal dan regional apabila pembangunan infrastruktur energi tidak berjalan seiring dengan pertumbuhan pusat data. Bukan sebagai penyebab tunggal krisis energi global. ***