MAL – Ketika banyak orang menganggap pengembang perangkat lunak (developer) sebagai profesi paling menjanjikan di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), sejumlah data terbaru justru menunjukkan arah berbeda.
Keamanan siber atau cybersecurity diproyeksikan menjadi salah satu profesi paling diburu dalam 10 tahun mendatang karena ancaman digital yang terus meningkat, kebutuhan perlindungan sistem yang semakin kompleks, serta kekurangan tenaga ahli yang masih terjadi dalam skala global.
Keamanan Siber Jadi Profesi Strategis
Perkembangan teknologi digital yang semakin luas membuat hampir seluruh sektor bergantung pada sistem informasi, data, layanan cloud, dan identitas digital. Di saat yang sama, ancaman siber berkembang semakin cepat, mulai dari phishing, ransomware, serangan rantai pasok (supply chain attack), hingga pemanfaatan AI untuk melakukan serangan otomatis.
Kondisi tersebut membuat organisasi di berbagai sektor membutuhkan lebih banyak tenaga profesional yang mampu mengamankan sistem, mendeteksi ancaman, merespons insiden, dan mengelola risiko digital.
Profesi yang paling banyak dicari meliputi:
Cybersecurity Specialist
Incident Response Analyst
Cloud Security Engineer
Threat Intelligence Analyst
Ethical Hacker
AI Security Specialist
Kekurangan Talenta Masih Jadi Masalah Besar
Salah satu faktor utama yang membuat profesi keamanan siber sangat diminati adalah kesenjangan besar antara kebutuhan industri dan jumlah tenaga ahli yang tersedia.
Menurut data yang dikutip dari berbagai laporan industri, kekurangan tenaga keamanan siber global pada 2024 mencapai 4.762.963 orang atau meningkat 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Andang Nugroho, Task Force Lead Cybersecurity and Digital Sovereignty Mastel Digital Enabler, mengatakan kebutuhan tenaga ahli keamanan siber masih jauh melampaui ketersediaan sumber daya manusia.
“Gap kebutuhan SDM untuk posisi cybersecurity di seluruh dunia mencapai 4.762.963 individu pada 2024, naik 19 persen secara tahunan dibanding tahun sebelumnya.”
Ia juga menegaskan besarnya kekurangan tersebut.
“Ada 4,7 juta, hampir 5 juta.”
Kekurangan SDM Cybersecurity Global 2024
| Wilayah | Kekurangan SDM |
|---|---|
| Asia Pasifik | 3.374.580 |
| Amerika Utara | 542.687 |
| Eropa | 392.320 |
| Amerika Latin | 328.397 |
| Timur Tengah dan Afrika | 124.978 |
| Total Global | 4.762.963 |
Andang Nugroho juga menyebut Asia Pasifik menjadi wilayah dengan kekurangan tenaga keamanan siber terbesar di dunia.
“Asia Pasifik menjadi wilayah dengan kekurangan SDM cybersecurity terbesar di dunia, yakni mencapai 3.374.580 orang.”
Permintaan Terus Naik Hingga 2035
Berbagai proyeksi yang dirujuk dalam laporan industri menunjukkan kebutuhan tenaga keamanan siber akan terus meningkat sepanjang dekade 2025-2035.
Beberapa data penting yang menggambarkan kondisi tersebut antara lain:
Dunia diperkirakan menghadapi kekurangan hingga 85 juta profesional keamanan siber pada 2030.
Pada Januari 2024 terdapat sekitar 448.000 lowongan pekerjaan cybersecurity di Amerika Serikat.
Pada Mei 2023 terdapat sekitar 40.000 lowongan keamanan siber di China, dan sekitar 30 persen di antaranya belum terisi.
Di Indonesia, salah satu sumber menyebut serangan siber meningkat 62 persen sejak 2023.
Peningkatan kebutuhan tersebut terjadi seiring bertambahnya penggunaan layanan digital di sektor pemerintahan, keuangan, kesehatan, manufaktur, pendidikan, hingga infrastruktur kritis.
AI Justru Membuat Profesi Ini Semakin Penting
Munculnya teknologi AI sering dianggap akan menggantikan banyak pekerjaan manusia. Namun dalam bidang keamanan siber, AI justru menciptakan kebutuhan baru terhadap tenaga ahli.
Pelaku kejahatan siber kini mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat pembuatan malware, meningkatkan efektivitas phishing, hingga mengotomatisasi proses pencarian celah keamanan.
Akibatnya, organisasi membutuhkan profesional yang mampu memahami cara kerja AI sekaligus mengantisipasi ancaman yang muncul dari teknologi tersebut.
Keterampilan yang paling dicari pada periode 2025-2026 meliputi:
Ethical Hacking
Incident Response
Cloud Security
Threat Intelligence
IoT Protection
AI-Driven Threat Hunting
Kemampuan tersebut dinilai semakin penting karena serangan siber tidak lagi hanya menyasar komputer individu, tetapi juga layanan publik, infrastruktur digital, pusat data, hingga sistem industri.
Mengapa Profesi Ini Sulit Digantikan?
Tidak seperti beberapa pekerjaan administratif yang mulai diotomatisasi, profesi keamanan siber membutuhkan kombinasi kemampuan teknis, analisis risiko, pemahaman bisnis, serta kemampuan mengambil keputusan saat terjadi insiden.
Selain itu, jalur masuk ke profesi ini relatif tidak mudah. Banyak perusahaan mensyaratkan sertifikasi profesional, pengalaman teknis, serta pemahaman terhadap standar keamanan yang terus berkembang.
Kondisi tersebut membuat pasokan tenaga ahli tumbuh lebih lambat dibanding kebutuhan pasar.
Dalam praktiknya, perusahaan tidak hanya mencari orang yang memahami teknologi, tetapi juga individu yang mampu berpikir seperti penyerang untuk menemukan potensi kelemahan sebelum dimanfaatkan pihak lain.
Implikasi bagi Dunia Kerja
Dalam jangka pendek, meningkatnya kebutuhan tenaga keamanan siber akan memperluas peluang kerja bagi lulusan teknologi informasi, sistem informasi, teknik komputer, maupun bidang terkait.
Sementara dalam jangka panjang, keamanan siber diperkirakan menjadi salah satu fondasi utama ekonomi digital global. Semakin banyak layanan yang berpindah ke platform digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap tenaga yang mampu menjaga keamanan data dan sistem. ***
Dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan teknologi, tetapi juga lembaga pemerintah, sektor keuangan, rumah sakit, perusahaan manufaktur, penyedia layanan cloud, hingga pengelola infrastruktur publik.
Penutup
Data terbaru menunjukkan bahwa keamanan siber menjadi salah satu profesi dengan prospek paling kuat dalam satu dekade mendatang.
Kombinasi ancaman siber yang semakin kompleks, percepatan transformasi digital, serta kekurangan tenaga ahli dalam skala jutaan orang membuat kebutuhan terhadap profesional cybersecurity terus meningkat.
Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, profesi ini justru diproyeksikan semakin penting karena organisasi membutuhkan lebih banyak tenaga yang mampu melindungi sistem, data, dan layanan digital dari ancaman yang terus berkembang.
