PALU, MAL — Deru mesin cukur terdengar pelan di sebuah kios sederhana di Jalan Mangga, Kecamatan Palu Barat. Tak ada interior mewah, kopi gratis, atau pendingin ruangan seperti yang lazim ditemui di banyak barbershop modern.

Hanya sebuah kursi cukur yang telah menemani ribuan pelanggan, cermin besar yang mulai dimakan usia, serta tangan terampil H. Muhammad Ilyas yang nyaris tak pernah berhenti bekerja.

Di usia 75 tahun, Ilyas masih berdiri tegap di belakang pelanggannya. Jemarinya lincah memainkan gunting dan sisir, seolah waktu tidak pernah mengurangi ketelitian yang telah diasah selama puluhan tahun.

Bagi warga Palu, Pangkas Rambut Arema bukan sekadar tempat merapikan rambut. Tempat itu menyimpan cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan zaman.

Hampir empat dekade lalu, ketika Indonesia dilanda krisis moneter pada akhir 1990-an, Ilyas memberanikan diri membuka usaha pangkas rambut di kawasan Pasar Inpres Palu Barat. Modalnya tidak besar. Ia hanya memiliki seperangkat alat cukur sederhana, pengalaman yang diperoleh secara otodidak, dan keyakinan bahwa bekerja dengan jujur akan selalu membuka jalan rezeki.

“Saya belajar mencukur sendiri. Awalnya hanya mengandalkan kemampuan yang saya miliki. Alhamdulillah, usaha ini bisa menghidupi keluarga sampai sekarang,” tuturnya.

Pilihan itu terbukti menjadi titik balik kehidupannya. Dari balik kursi cukur itulah ia membesarkan keluarga, memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga akhirnya mampu menunaikan ibadah haji—sebuah pencapaian yang menurutnya lahir dari kerja keras selama bertahun-tahun.

Selama bertahun-tahun, Pangkas Rambut Arema menjadi langganan berbagai kalangan. Masyarakat umum, pegawai, anggota TNI, hingga personel Polri pernah menjadi pelanggan tetapnya. Mereka datang bukan karena kemewahan tempat, melainkan karena percaya pada hasil cukuran yang rapi dan pelayanan yang ramah.

Namun perjalanan usaha itu tidak selalu mulus.

Sebelum gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi mengguncang Palu pada 28 September 2018, Pangkas Rambut Arema telah lebih dulu berpindah dari Pasar Inpres ke Jalan Mangga. Kepindahan itu membuat usahanya tetap bisa bertahan ketika kawasan lama mengalami perubahan besar pascabencana.

Kini tantangan yang dihadapi bukan lagi krisis ekonomi ataupun bencana alam, melainkan persaingan dengan puluhan barbershop modern yang menawarkan konsep kekinian, gaya rambut terbaru, hingga layanan tambahan.

Meski demikian, Ilyas tidak merasa tersisih.

Tarif potong rambut sebesar Rp25 ribu yang dipatoknya disesuaikan dengan kondisi pasar. Menurutnya, harga harus tetap bersaing agar pelanggan tidak merasa keberatan.

“Kalau tarif terlalu jauh berbeda dengan tempat lain, pelanggan juga akan membandingkan. Jadi kami menyesuaikan saja,” katanya.

Pendapatannya pun bergantung pada jumlah pelanggan. Dalam sehari ia bisa membawa pulang sekitar Rp300 ribu saat ramai. Ketika sepi, penghasilannya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.

Mayoritas pelanggan yang datang kini memang merupakan pelanggan lama yang usianya sudah di atas 50 tahun. Namun bukan berarti ia kehilangan sentuhan terhadap tren.

Jika ada anak muda yang meminta model rambut tertentu, Ilyas mengaku masih mampu mengikutinya. Pengalaman puluhan tahun membuatnya cepat beradaptasi dengan permintaan pelanggan.

Meski persaingan semakin ketat, ia memilih tidak larut dalam kekhawatiran.

“Persaingan pasti ada, tapi saya yakin rezeki sudah diatur. Yang penting tetap memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan,” ujarnya.

Keyakinan itulah yang membuat banyak pelanggan tetap bertahan.

Ali (61), misalnya, telah menjadi pelanggan sejak Pangkas Rambut Arema masih berada di Pasar Inpres. Hampir setiap 40 hari sekali ia datang untuk merapikan rambutnya.

“Sudah lama sekali saya langganan di sini, sejak masih di Pasar Inpres. Biasanya setiap sekitar 40 hari saya datang potong rambut karena hasil cukurnya rapi dan harganya juga terjangkau,” katanya.

Bagi Ali, kelebihan Pangkas Rambut Arema bukan hanya soal hasil cukuran. Keramahan dan konsistensi pelayanan membuatnya enggan berpindah ke tempat lain, meski pilihan barbershop kini jauh lebih banyak.

Empat puluh tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah usaha kecil untuk bertahan. Pangkas Rambut Arema telah melewati krisis moneter, perubahan kota, bencana besar, hingga gelombang barbershop modern yang terus bermunculan.

Di balik gunting yang terus bergerak di tangan Muhammad Ilyas, tersimpan pelajaran sederhana: bahwa ketekunan, kejujuran, dan pelayanan yang tulus sering kali menjadi modal terbesar untuk bertahan menghadapi perubahan zaman.

Selama tangan itu masih sanggup menggenggam gunting, selama pelanggan masih datang mengetuk pintu kios kecilnya di Jalan Mangga, kisah Pangkas Rambut Arema tampaknya belum akan selesai.