SIGI, MAL – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, mengusulkan pendekatan bioengineering dengan memanfaatkan bambu dan rumput vetiver untuk mengatasi longsor Jalan Kebun Kopi yang kerap menjadi “proyek abadi” antara Palu dan Parigi Moutong. Usulan ini disampaikan dalam dialog jurnalis di Sigi pada Sabtu lalu, menekankan solusi alami yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Menurut Asep Firman Ilahi, tanaman seperti bambu dan rumput vetiver (akar wangi) memiliki sistem perakaran yang sangat kuat, mampu menembus hingga kedalaman tiga hingga lima meter. Kemampuan ini menjadikan solusi bioengineering atasi longsor Kebun Kopi jauh lebih efektif dalam memperkuat struktur tanah dan mengurangi risiko longsor secara signifikan dibanding metode infrastruktur biasa.

“Akar rumput vetiver bertindak layaknya paku bumi biologis yang mengikat agregat tanah lereng, sedangkan bambu mampu menyerap lonjakan volume air tanah saat hari hujan ekstrem,” kata Asep Firman Ilahi, Kepala BMKG SPAG Lore Lindu Bariri.

Pemerintah selama ini lebih sering memilih pendekatan infrastruktur, seperti pemasangan geomat, untuk mengurangi dampak bencana longsor di lokasi tersebut. Namun, pendekatan ini memerlukan biaya pembangunan dan pemeliharaan yang besar, serta rentan mengalami kerusakan, berbeda dengan potensi pendekatan bioengineering atasi longsor Kebun Kopi yang lebih alami dan lestari.

Keputusan kini ada pada kemauan kuat pemerintah daerah apakah berani mengalokasikan anggaran dan membuat keputusan yang mungkin tidak populer namun membawa dampak positif jangka panjang bagi masyarakat. Solusi bioengineering atasi longsor Kebun Kopi ini menawarkan alternatif permanen ketimbang terus berkutat pada pameo “Jalan Kebun Kopi Proyek Abadi”.

Sementara itu, Kabid Perencanaan BPBD Sulteng, Surya DM Harun, menegaskan bahwa urusan kebencanaan adalah prioritas wajib pemerintah. Penanganan bencana seharusnya tidak hanya reaktif, melainkan harus mengedepankan langkah proaktif melalui mitigasi, pencegahan, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk dalam konteks bioengineering atasi longsor Kebun Kopi.

Anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sulawesi Tengah, Neni Muhidin, menambahkan bahwa pembahasan kebencanaan tidak boleh hanya terpusat di wilayah Pasigala. Ia menekankan bahwa banyak kejadian bencana di daerah lain yang luput dari perhatian publik dan media, sehingga peran media sangat strategis.

“Media memiliki peran strategis untuk menjembatani informasi teknis dari pemerintah kepada publik. Tantangan terbesar media adalah membumikan narasi sains kebencanaan menjadi bahasa mudah dipahami masyarakat,” ujar Neni Muhidin, Anggota FPRB Sulawesi Tengah.